Sosial

Sosial

Tiga Persoalan Bangsa Yang Cukup Mendasar


bukan hanya terletak pada ujian akhir nasional itu. Pendidikan yang diperlukan saat ini adalah pendidikan yang bisa memberdayakan. Anak-anak yang lulus sekolah dasar, seharusnya benar-benar berhasil meraih kemampuan yang diinginkan. Mereka yang lulus sekolah menengah Atas, tidak hanya layak menjadi sopir, cleaning service, juru parkir dan apalagi ke luar negeri menjadi pembantu rumah tangga. Sangat menyedihkan, negeri ini ternyata baru mampu menyelenggarakan pendidikan yang lulusannya kebanyakan hanya layak menjadi tukang sapu dan pegawai rendahan di negeri orang. Terkait dengan pendidikan, apalagi setelah pendidikan diberi anggaran 20 % dari APBN, maka seharusnya pendidikan harus berkualitas. Harus segera mulai dibangun pendidikan yang ditopang oleh kekuatan idealisme yang tinggi. Pendidikan harus dijauhkan dari orang-orang yang sebatas berupaya mencari kehidupan. Jangan mencari penghidupan di dunia pendidikan. Namun tidak berarti bahwa guru, pegawai dan kepala sekolah tidak perlu digaji. Bukan begitu. Kesejahteraan orang yang terlibat dalam dunia pendidikan perlu dipenuhi, akan tetapi mereka harus dijauhkan dari mental pencari rizki di dunia pendidikan. Pendidikan adalah pendidikan. Pendidikan bukan tempat mencari kehidupan dan apalagi kekayaan. Hubungan yang sedemikian kuat antara pendidikan dan lahan mendapatkan kekayaan akan melahirkan suasana transaksional atau jual beli di dunia pendidikan. Jika itu terjadi maka perbincangan pendidikan bukan mengarah pada peningkatan kualitas hasil pendidikan, melainkan hanya mengarah pada persoalan uang, pendapatan dan untung rugi yang bersifat material. Mendirikan dan menyelenggarakan lembaga pendidikan bukan dimaksudkan meraih tujuan pendidikan yang hakiki, melainkan akan dipahami sebagai bagian dari lahan bisnis. Pendidikan harus didasari oleh rasa cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab terhadap kehidupan generasi mendatang. Orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan seharusnya adalah orang yang memiliki panggilan jiwa untuk mendidik, mengembangkan dan mencintai ilmu pengetahuan. Dan bukan orang-orang yang bermental pengusaha, apalagi brokers di bidang pendidikan. Pendidikan hanya benar-benar akan berhasil jika bisa dijauhkan dari dunia transaksi atau bisnis. Semestinya siapapun yang sedang berada pada dunia pendidikan, tidak disibukkan dari memikirkan soal-soal SPP, baju seragam, sepatu dan tas sekolah dan sejenisnya. Itulah sebabnya anggaran pendidikan perlu dinaikkan agar, siapapun yang terlibat dalam dunia pendidikan tidak berpikir lagi soal-soal teknis administrasi managerial, pendidikan. Lebih dari itu, agar dunia pendidikan bisa dijauhkan dari persoalan mendapatkan rizki. Mencari rizki mestinya bisa dilakukan di kebun, di laut, di pabrik, di pasar, tetapi bukan di lembaga pendidikan. Kesejahteraan guru perlu dicukupi oleh pemerintah atau yayasan, tetapi yang tidak dibolehkan adalah guru bermental bisnis di dunia pendidikan. Akhir-akhir ini banyak orang mengira, bahwa dengan biaya pendidikan mahal, lalu secara otomatis kualitas meninkat. Biaya pendidikan sesungguhnya hanyalah terkait dengan urusan belanja barang dan jasa. Tatkala dana tersedia maka lembaga pendidikan bisa memenuhi kebutuhan buku, alat laboratorium dan menggaji guru atau dosen tercukupi. Mereka juga bisa menyusun kurikulum yang baik. Padahal pendidikan dalam pengertian yang luas dan mendalam, tidak cukup hanya dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan. Saya tidak mengatakan bahwa sarana dan prasarana itu tidak penting. Itu semua tetap perlu. Tetapi pendidikan tidak cukup sebatas itu. Pendidikan yang memberdayakan atau yang menumbuhkan sifat-sifat luhur, memerlukan jiwa dan suasana batin yang mulia sebagai mendukungnya. Rendahnya kualitas pendidikan semestinya tidak saja hanya dilihat dari rendahnya nilai ujian akhir, tetapi juga oleh tidak adanya kepedulian terhadap sesama. Di negeri yang indah ini, ternyata pendidikan yang ada belum berhasil menumbuhkan suasana bantin yang indah, yaitu saling mengenal antar sesama, menghargai, mencintai dan saling menolong satu sama lain. Keadaan itu dengan sangat jelas kita lihat misalnya, di kota-kota besar, yang umumnya dihuni oleh orang-orang yang berpendidikan dan bahkan juga pendidikan tinggi. Di perkotaan di sana sini tumbuh rumah-rumah mewah, bertingkat dan bahkan menjulang tinggi dengan fasilitas yang serba berlebihan. Sementara, tidak jauh dari lokasi itu tumbuh perumahan kumuh yang dihuni oleh orang-orang miskin, berdesak-desakan. Bahkan ada yang lebih memprihatinkan lagi, yaitu mereka yang berada di pinggir-pinggir sungai, pinggir rel kereta api, dan atau bawah jembatan. Pemandangan yang menyesakkan hati itu ternyata telah dianggap biasa. Tidak ada yang peduli. Kesenjangan yang luar biasa itu, celakanya sudah tidak terasakan lagi oleh siapapun. Kehidupan sudah saling membiarkan, seolah-olah sudah tidak hirau dengan sesama. Aku yang punya dan kamu yang miskin sudah sedemikian jauh jaraknya. Pendidikan yang gagal memanusiakan manusia, maka akibatnya adalah menjadikan kehidupan semakin jauh dari nilai-nilai luhur yang seharusnya dijunjung tinggi. Kehidupan manusia seharusnya lebih mulia dari makhluk lainnya. Manusia dengan kekuatan pikir dan dzikirnya seharusnya bisa saling mengasihi, saling menghargai, menghormati, tolong menolong, memiliki rasa syukur pada pencipta, ikhlas, sabar, istiqomah, bersedia berkorban dan seterusnya. Rasa- rasanya nilai-nilai mulia itu semakin hilang. Pendidikan selama ini masih gagal mewujudkan sifat-sifat itu. Yang terjadi adalah pendidikan baru menyiapkan anak manusia memiliki kekuatan tubuh dan intelektual mereka, agar kelak bisa menang dalam bersaing dalam kehidupan yaitu memperebutkan apasaja untuk memenuhi nafsunya. Jika ini yang sesungguhnya terjadi, maka bangsa ini telah kehilangan kekayaan yang amat berharga, yaitu kharakter dan atau akhlak yang seharusnya dijunjung tinggi. Tiga persoalan mendasar, yakni pendidikan, kesenjangan dan akhlak inilah yang menunggu segera diselesaikan jika bangsa ini benar-benar ingin membangun kembali peradaban yang tangguh dan mulia. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang