Sosial

Sosial

Islam dan Demokrasi


petunjuk dari Tuhan. Pikiran manusia tidak selalu benar, setidak-tidaknya tidak pernah sempurna. Hal itu berbeda dengan Islam, ajaran yang bersumber dari kitab suci, sudah pasti benarnya dan selalu sempurna. Karena itu, maka seharusnya apa yang bersumber dari kitab suci diikuti secara penuh. Kali ini saya tidak berbicara tentang Islam dan demokrasi dalam tataran konsep, melainkan hanya berbicara dalam tataran teknis sederhana. Pada hari Selasa pagi, tanggal 27 Januari 2008 menjelang kedatangan Presiden Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan ke kampus UIN Malang, saya mendapatkan sms, isinya memberitahukan akan melaksanakan demonstrasi, menyambut kehadiran tamu penting itu. Saya tidak menjawab sms itu. Saya menganggap sudah ada petugas yang berwenang mengizinkan dan juga yang bertanggung jawab mengurusnya. Namun saya bersyukur, sampai acara selesai dan Presiden beserta seluruh tamu undangan meninggalkan kampus tidak satupun saya lihat ada orang atau sekelompok orang berdemostrasi. Keadaan terlihat tenang dan upacara peresmian gedung-gedung kampus berjalan lancar. Warga kampus UIN Malang dan para tamu undangan tidak ada yang terganggu oleh apapun, terasuk juga oleh orang-orang yang berdemonstrasi. Selesai acara, banyak orang tampak puas, gembira dan bersyukur apa yang dilakukan bisa menyenangkan banyak orang. Saya kemudian menduga bahwa sms yang disampaikan pada saya sebatas rencana atau iseng, tetapi karena satu dan lain hal akhirnya dibatalkan. Setelah nyampai di rumah, sekalipun demonstrasi itu ternyata tidak ada, tetapi ingatan saya masih kembali ke sms yang memberitahukan akan melakukan demonstrasi itu. Apakah sms yang saya terima itu hanya sabatas rencana tetapi kemudian dianggap tidak perlu, lalu rencana itu dibatalkan, atau apakah tetap berdemonstrasi tetapi mengambil tempat yang jauh, atau karena ketatnya pengamanan, sehingga tidak mungkin dilakukan demonstrasi, kemudian rencana itu dibatalkan. Tatkala mengingat sms itu, pikiran saya terbawa pada konsep Islam dan demokrasi. Islam mengajarkan agar umatnya menghormati tamu. Bahkan kewajiban menghormat tamu adalah bagian penting dari Islam. Dikatakan dalam suatu hadits Nabi bahwa “barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hormatilah para tamu”. Menghormat para tamu dikaitkan dengan keimanan. Padahal keimanan dalam konsep beragama adalah sesuatu yang tidak saja dianggap penting, tetapi amat mendasar. Iman dalam keberagamaan adalah sesuatu yang pokok dan mutlak. Karena itu menurut pemahaman saya, perintah memuliakan tamu seharusnya ditunaikan sebaik-baiknya. Apalagi, tamu tersebut hadir karena diundang, dan jumlahnya cukup banyak. Lebih-lebih lagi, para tamu tersebut datang dari berbagai daerah, dari Sabang sampai Merauke. Dalam rangka menghormati tamu, yang hal itu tidak saja merupakan keharusan, baik dilihat dari adat istiadat, tatakrama, etika, budaya, dan lebih dari itu adalah merupakan tuntunan Islam, maka gangguan sekecil apapun harus dicegah. Berdemonstrasi yang berakibat mengganggu para tamu, sekalipun oleh sementara dianggap sah-sah saja, atas alasan demokrasi, rasanya menjadi tidak mudah diterima akal. Kewajiban menjalankan ajaran Islam menjadi berbenturan dengan pikiran demokrasi itu. Demonstrasi yang dianggap boleh atas dasar demokrasi, jelas mengganggu. Tidak saja panitia penerima tamu, warga kampus dan bahkan para tamu pun akan merasa terganggu dengan kegiatan demonstrasi. Sampai di sini rasanya Islam dan demokrasi menjadi tidak sejalan. Islam harus menampakkan kedamaian, tidak dibolehkan mengganggu orang yang nyata-nayata tidak melakukan kejelekan, menghormat orang lain dan seterusnya. Berdemokrasi memang boleh-boleh saja, tetapi jika ekspresi demokrasi itu kemudian ternyata mengganggu orang lain, maka dalam kontek ini, demokrasi menjadi tidak relevan dengan Islam. Keharusan menghormat orang lain dan sekaligus dibolehkan mengganggunya, atau menyenangkan sekaligus boleh menyakiti, keduanya sangat sulit disatukan. Setelah menerima sms itu, saya berimajinasi pula tentang sebuah keluarga. Keluarga, yang terdiri atas ayah, ibu dan beberapa anak-anaknya, suatu ketika mengundang tamu beberapa tetangga untuk menjalin silaturrahmi. Ternyata setelah datang tamu-tamu itu, oleh anak-anaknya didemo. Entah apa alasannya, tamu itu harus didemo. Saya membayangkan, jika itu terjadi, maka perasaan orang tua akan sangat terganggu. Para tamu pun juga akan merasa kebingungan dan akan merasa tidak dihormati. Silaturrahim yang seharusnya berbuah persaudaraan, kedamaian dan kesejukan akan berubah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan semua pihak. Sekalipun, demonstrasi itu bermaksud baik, tetapi jika dilakukan pada saat-saat yang seharusnya tidak dilakukan, maka tidak sedikit orang yang menyesalkan kejadian itu, termasuk oleh pendukung isu yang diusung oleh para pendemo itu. Memamg segala sesuatu harus selalu ditempatkan pada tempat yang tepat. Kita memiliki topi yang bagus, tetapi jika topi itu digunakan untuk alas kaki, rasanya menjadi tidak tepat, akibatnya banyak orang yang menegurnya. Saya termasuk orang yang tidak pernah melarang demonstrasi. Silahkan demonstrasi itu dilakukan. Tetapi demonstrasi itu jangan sampai mengganggu orang lain. Kita ingin memperjuangkan sesuatu yang kita yakini benar. Tetapi memperjuangkan kebenaran juga harus dilakukan dengan cara yang tepat, strategis dan tidak mengganggu hati siapapun. Perjuangan yang dianggap mulia, seyogyanya tidak menggunakan cara-cara yang melahirkan kekecewaan dan apalagi kebencian. Islam dan demokrasi dalam mengatur kehidupan bersama, ada beberapa sisi kesamaannya. Keduanya menghormati adanya kesamaan, kebersamaan, musyawarah di antara sesama. Akan tetapi Islam sesungguhnya mengajarkan lebih dari itu. Dalam membangun masyarakat, Islam mementingkan terjaganya tali silaturrahmi, segala perbuatan harus didasarkan pada niat yang benar yaitu semua untuk Allah, dilakukan secara ikhlas, sabar, apapun yang diperoleh harus disyukuri, selalu amanah dan istiqomah untuk meraih hasil akhir yang terbaik, yaitu khusnul khotimah. Nilai-nilai seperti ini, tidak dikenal dalam berdemokrasi. Memang diakui oleh banyak kalangan, bahwa sebenarnya demokrasi itu sendiri bukanlah satu sistem bermasyarakat dan bernegara yang terbaik, sekalipun di mana-mana banyak orang yang mengidolakannya. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang