Sosial

Sosial

Akibat Miskin Rasa Syukur


segala puji-pujian hanya milik Allah, dan selainnya tidak berhak mengejar dan memiliki. Anehnya, tidak sedikit para pembicara dalam berbagai kesempatan, sekalipun mengawali ceramahnya dengan ajakan bersyukur, isi ceramahnya justru tidak jarang mendorong kepada para pendengarnya sebaliknya, kufur nikmat. Berbagai keluhan disampaikan, mulai dari pemerintah yang tidak berhasil meningkatkan ekonomi rakyat, pendidikan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga kualitasnya rendah, dan bahkan menghujat berbagai pihak yang dianggap bertanggung jawab terhadap keadaan ini. Padahal belum tentu mereka yang sesungguhnya menjadi sumber lahirnya persoalan itu. Jika dilihat dari perspektif psikologi orang mengeluh adalah sebagai pertanda bahwa orang yang bersangkutan sedang menderita sakit. Orang yang banyak mengeluh, suka menguhujat, meratapi nasipnya, mereka itu adalah terkena gangguan mental. Sebaliknya, orang yang banyak bersyukur adalah pertanda yang bersangkutan sedang dalam keadaan sehat. Karena itulah Islam, menganjurkan agar selalu bersyukur, karena orang yang bisa bersyukur hanyalah bisa dilakukan oleh orang yang sehat ruhaninya. Orang yang mampu bersyukur ternyata memang tidak banyak jumlahnya. Orang yang berkedudukan tinggi, berpangkat, dan memiliki kekayaan dan fasilitas hidup yang melimpah belum tentu berhasil mensyukuri apa yang telah dimilikinya. Juga tidak menjamin bahwa orang yang berpendidikan tinggi lebih pintar bersyukur daripada mereka yang berpendidikan rendah. Pandai bersyukur tidak selalu dimiliki oleh mereka yang berhasil menumpuk harta dan mereka yang berpendidikan tinggi, bahkan anehnya justru sebaliknya. Orang yang hanya memiliki beberapa lembar kain, tempat tinggal sederhana dan persediaan makanan yang jumlahnya terbatas, justru mereka bisa bersyukur. Orang yang pandai bersyukur tidak selalu didominasi oleh mereka yang bertempat tinggal di rumah mewah, atau bergelar dan berjabatan tinggi. Orang yang bersyukur bisa jadi sedang menempati rumah sederhana, kamar kecil dan tidur dengan alas an seadanya. Bersyukur bukan pekerjaan yang mudah. Dikatakan dalam kitab suci al Qur’an hanya sedikit orang yang bisa bersyukur, qolilum minasyakirien. Orang yang pandai bersyukur adalah orang-orang yang dipandang mulia di hadapan Allah. Untuk meraihnya tidak ada lembaga pendidikan yang mampu melatihnya. Tidak ada lembaga pendidikan yang menjanjikan para lulusannya akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Banyak orang telah membaca ayat al Qur’an tentang faedah bersyukur. Bahwa hanya orang-orang yang mampu bersyukur sajalah yang akan ditambah nikmatnya dan bahkan bagi mereka yang kufur nikmat, diancam oleh Allah dengan adzab yang pedih. Bangsa Indonesia ini ditakdirkan oleh Allah hidup di bumi yang sangat indah. Tanahnya subur, berbukit dan bergunung-gunung, lautan dan samudra yang luas, aneka tambang apa saja tersedia di bumi nusantara ini. Tetapi, nikmat ini seringkali terlupakan. Tatkala sedang berada dan berpijak di bumi yang indah ini, justru melihat keindahan negeri lain. Maka dipujilah negeri lain, dan sebaliknya, dilihat sebelah mata negeri sendiri yang sesungguhnya indah ini. Bersyukur ternyata merupakan kunci keberhasilan hidup. Orang yang bersyukur akan ditambah nikmat yang diperolehnya. Orang yang pandai bersyukur adalah tanda sebagai orang sehat mentalnya. Orang yang sehat akan mampu melihat lingkungannya secara obyektif dan cerdas. Atas dasar pandangan itu, mereka akan pandai mengambil manfaat dari bumi karunia Allah ini. Hidup mereka akan diliputi suasana tenang dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Akhir-akhir ini terasa sekali. Orang bersyukur semakin langka. Suara-suara mengeluh, menyesal dan menyalahkan pihak-pihak lain selalu menghiasi kehidupan sehari-hari. Akibatnya kehidupan, lingkungan, dan nikmat yang banyak, masih dirasa terbatas, atau sedikit. Perasaan seperti itu menjadikan malas un tuk berbagi dengan sesama. Bahkan apa saja menjadi diperebutkan. Siapa yang kuat, merekalah yang menang. Kehidupan manusia, akhirnya bagaikan kehidupan binatang. Tidak mempeduli yang lain. Melihat orang lain yang menderita karena kekurangan, sudah tidak melahirkan perasaan apa-apa, apalagi tumbuh niat membantu. Kehidupan manusia menyerupai kehidupan laba-laba, sejak keluar dari telur induknya sudah berebut dan saling memusnahkan. Yang lain dianggap membahayakan, karena akan mengurangi bagian yang seharausnya akan diterima dan dikuasainya sendiri. Ini terjadi, karena miskin rasa syukur itu. Padahal dengan mengembangkan sifat kufur nikmat itu, justru kehidupan semakin terasa sesak dan apa saja yang diperoleh menjadi tidak bermakna. Allahu ’alam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang