Sosial

Sosial

Babak Akhir Pemilihan Gubernur Jawa Timur


Saya sangat kagum kepada dua pasangan calon gubernur, baik pasangan Kaji maupun Karsa, yang berkompetisi hingga ronde tambahan. Kedua-duanya perlu dihargai dan dicungi jempol, telah memiliki stamina yang kokoh. Mulai dari mempersiapkan pemilihan, kampanye, masa-masa pemilihan dan masih ditambah lagi dengan ronde tambahan, keduanya masih tampak sehat wal afiat. Jika mereka tidak memiliki stamina yang prima dan kemampuan yang kuat, baik fisik, mental dan semangat yang membara, maka tidak akan mampu bertahan dalam waktu sekian lama. Saya melihat, semangat mereka itu luar biasa dan begitu pula tekadnya untuk membangun masyarakat Jawa Timur sedemikian kuatnya. Saya melihat kedua pasangan, masing-masing memiliki rasa cinta kasih yang amat mendalam terhadap rakyat wilayah ini. Cinta kasih itu hingga melahirkan semangat membaja, bagaimana dan apapun dikorbankan untuk berbuat dan berjuang membangun masyarakat Jawa Timur. Rakyat Jawa Timur seharusnya sangat berbangga, memiliki pemimpin seperti itu. Seringkali kita menemukan hadits nabi, terkait dengan persoalan jabatan dalam pemerintahan. Hadits dimaksud memberikan petunjuk, bahwa tidak boleh siapapun mencari-cari jabatan, tetapi jika diberikan amanah itu, juga tidak boleh ditolak. Saya yakin masing-masing kedua calon yang berkompetisi tersebut, faham betul tentang nasehat dari Rasulullah ini. Namun barangkali, karena perasaan ingin bertanggung jawab dan didorong oleh semangat mengabdi yang tinggi terhadap rakyat dan ditambah lagi merasa terpanggil untuk harus berjuang, maka menjadikan hadits nabi tersebut seolah-olah tidak pernah didengar dan diketemukan. Saya kira kita juga harus mengapresiasi kepada para pihak-pihak pelaksana pemilihan, mulai dari KPU, Pengawas, saksi, pemantau, pemerintah daerah dan siapapun yang terlibat dalam pesta demokrasi pemilihan gubernur ini. Saya yakin atas dasar rasa tanggung jawab terhadap pemberi amanah yaitu rakyat Jawa Timur secara keseluruhan, maka tenaga, waktu dan pikiran mereka telah dicurahkan agar pelaksanaan pemilihan berjalan lancar dan selesai dengan baik. Sebagaimana biasa kerja kepanitiaan memerlukan konsentrasi penuh, sehingga tidak jarang mereka harus bekerja lembur, tidak istirahat dan bahkan tidak tidur dalam waktu-waktu yang semestinya mereka harus beristirahat. Itu semua dilakukan, oleh karena rasa cinta dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat Jawa Timur. Apresiasi semestinya juga harus diberikan kepada Mahkamah Konstitusi yang telah memutuskan, agar pemilihan di dua kabupaten yaitu Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang diulang, sedangkan di Kabupaten Pamekasan agar dilakukan perhitungan ulang. Sesungguhnya jika Mahkamah Konstitusi mau, atas pertimbangan menghemat tenaga, energi dan juga biaya besar yang harus dikeluarkan, bisa-bisa saja ketika itu, lembaga ini memutuskan salah satu pemenangnya. Akan tetapi, karena kehati-hatiannya, dengan maksud agar tampak berlaku adil dan tidak memihak, maka membuat keputusan yang tidak mudah dipahami. Mestinya telah dimaklumi, bahwa segala permainan apalagi permainan politik, di mana-mana selalu ada penyimpangan. Jangankan pemilihan gubernur yang melibatkan angka jutaan orang, permainan sepak bola tingkat dunia pun, sekalipun pemainnya hanya dua puluh dua orang, dan disaksikan oleh jutaan orang, masih terjadi penyimpangan. Memang dalam segala permainan selalu terjadi kecurangan, apalagi permainan politik. Karena itu biasanya untuk menjaga agar penyimpangan itu tidak keterlaluan, selain diangkat petugas KPU, juga dilengkapi pengawas, saksi, pemantau dan lain-lain. Hal itu sama dengan permainan sepak bola. Jika ada pemain melakukan penyimpangan, maka wasit segera memberi kartu kuning, dan jika kesalahan itu diulang lagi maka yang bersangkutan diberi kartu merah dan segera dikeluarkan dari arena permainan. Permainan sepak bola itu tidak perlu diulang, hanya karena ada pemain yang melakukan kecurangan. Mengikuti logika permainan sepak bola tersebut, maka semestinya Mahkamah Konstitusi atas gugatan pemain yang dinyatakan kalah tidak perlu berfatwa agar pemilihan diulang. Sehingga fatwa itu seharusnya dimaknai sebagai bentuk kehati-hatian lembaga tersebut untuk menjaga rasa keadilan. Penghargaan juga harus diberikan kepada rakyat ketiga kabupaten yang telah bersedia melakukan pemilihan dan perhitungan ulang. Rakyat ketiga kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang dan Pamekasan masing-masing telah menunjukkan kedewasaan dan kesabarannya yang sangat tinggi. Melaksanakan pemilihan dua putaran saja sudah terasa lelah, ternyata masih bersedia melaksanakan kegiatan yang ketiga kalinya. Saya yakin kesediaan itu didorong oleh rasa cinta mereka kepada negeri ini sedemikian tinggi. Mereka loyal dan berkomitmen yang tinggi, demi menegakkan keadilan. Atas dasar keputusan Mahkamah Konstitusi mereka harus menambah beban kerja yang bagi mereka, tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa. Tugas perhitungan dan pemilihan ulang itu mereka tunaikan, tanpa merasa sakit hati, apalagi marah secara terbuka. Oleh karena itu rakyat ketiga kabupaten tersebut harus sdiberi acungan jempol atas dedikasi dan kesabarannya. Simpatik yang sama seharusnya juga diberikan kepada rakyat Jawa Timur pada umumnya. Dengan masa menunggu yang sedemikian lama, ternyata mereka juga sabar, mampu menghargai keputusan yang diberikan oleh pihak yang berwenang, tanpa ada gejolak apa-apa. Di masa menunggu hadirnya pimpinan baru, rakyat tetap tenang. Lebih dari itu, mereka berpandangan bahwa siapapun yang menang akan didukung dan diakui sebagai pemimpinnya. Pernyataan itu berkali-kali kita dengarkan dari berbagai tokoh dan diamini oleh masyarakat di seluruh lapisan. Memang perlu diakui bahwa pertandingan apa saja, jika selisih perolehan score antara pihak yang menang dan yang kalah terpaut tipis, selalu saja muncul masalah. Pihak yang kalah biasanya, karena selisih yang amat tipis, secara psikologis memang lebih berat menerimanya bilamana dibandingkan jika selisih itu mencolok banyak. Demikian pula pihak yang menang, biasanya akan lebih merasa sangat bahagia dengan selisih yang kecil itu. Pihak pemenang dengan selisih tipis dalam pertandingan apa saja, merasa teruntungkan, tertolong dan berhasil keluar dari lobang sempit dan sesak itu. Keberhasilan yang diraih lewat jalan yang amat susah payah itulah, kemudian melahirkan kebahagiaan yang mendalam. Mengahadapi kenyataan itu sikap yang harus dibangun adalah memahami perasaan semua pihak yang terlibat dalam permainan itu. Mereka yang kalah maupun yang menang harus memahami bahwa kompetisi ini hanyalah sebatas permainan, yakni permainan dalam kehidupan di dunia. Kemenangan yang sesungguhnya, bukan di tempat ini. Melainkan adalah nanti di akherat sana. Insya Allah, baik yang menang maupun yang kalah di sini asalkan mampu membangun sikap sabar, ikhlas, dan bersyukur maka kedua belah pihak akan mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Memang, siapapun berhak mendapatkan keadilan. Tetapi bukankah keadilan itu sesungguhnya adalah milik bersama. Yang saat ini lagi kalah dalam permainan itu, memang sangat membutuhkan rasa keadilan. Tetapi yang perlu direnungkan secara mendalam, bahwa permainan apa saja, apalagi permainan politik, tidak pernah sama dengan beribadah ritual, seperti sholat, puasa dan haji. Kegiatan ibadah, sekalipun tidak diawasi selalu dilakukan dengan jujur. Hal itu berbeda dengan berbagai jenis permainan. Bermain apa saja, pihak-pihak yang terlibat, sekalipun kecil kadarnya, selalu saja terjadi penyimpangan dan bahkan kecurangan. Keadilan adalah harapan semua pihak. Harapan itu tidak saja diinginkan oleh yang sedang bermain, tetapi juga harapan semuanya. KPU dan seluruh anggotanya yang telah bekerja keras juga berharap agar kerja kerasnya dihargai, sehingga merasa diperlakukan secara adil. Para pelaksana lapangan, pengawas, saksi, panitia di masing-masing TPS, tentara dan polisi yang mengamankan pemilihan tahap demi tahap, juga berharap diperlakukan secara adil, jerih payahnya diakui dan dihargai. Pemerintah dan rakyat Bangkalan, Sampang dan Pamekasan yang telah bersabar dan ikhlas harus melakukan pemilihan dan perhitungan ulang, juga berharap mendapatkan keadilan, yakni apa yang telah dikorbankan dihargai secara memadai. Begitu pula, semua rakyat Jawa Timur juga menuntut keadilan. Siapapun yang kemudian menjadi Gubernur, diharapkan agar benar-benar berlaku adil, bekerja sungguh-sungguh, tidak boleh sedikitpun mengingkari amanah yang sudah diterimanya. Jika pikiran dan perasaan semua pihak tertata seperti ini, kiranya tidak perlu ada niat untuk mengadakan pemilihan ronde selanjutnya. Akhirnya cukup sampai di sini, tokh semua pihak telah menjadi pemenangnya, dan akhirnya Gubernur Jawa Timur yang baru, dilantik tepat pada waktunya. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang