Sosial

Sosial

Dilema Rokok


Berbeda dengan kehidupan di kota, masyarakat desa kadang agak lain. Di desa, jika kedatangan tamu kemudian tidak memberikan rokok dan sekaligus asbaknya, terasa hambar, kurang akrab dan bahkan dianggap kurang hormat pada tamu yang datang. Oleh karena itu di daerah-daerah tertentu, jika seorang pemilik rumah mendapatkan tamu, kemudian tidak segera memberi suguhan rokok, dianggap keterlaluan. Suguhan rokok dipandang sebagai simbol penghormatan dan sekaligus keakraban. Oleh karena itu, ketika masih kecil hidup di desa, jika di rumah ada tamu, saya harus segera menyuguhkan rokok. Jika hal itu tidak saya lakukan, justru saya ditegur oleh ayah, sekalipun ayah saya tergolong kyai kecil-kecilan. Di desa, merokok dianggap biasa, khususnya bagi kaum laki-laki. Sekalipun mereka merokok umumnya mereka sehat-sehat saja. Kalaupun mereka sakit dianggap bukan disebabkan oleh rokok. Malah jika mereka tidak merokok, karena kehabisan tembakau atau kelobot, -------yakni kulit jagung yang dikeringkan,----- merasa terganggu. Jika tidak tersedia rokok, tidak sedikit orang merasa ada sesuatu yang penting, namun tidak terpenuhi. Bagi orang desa ada dua hal yang harus terpenuhi, yaitu kopi dan rokok. Memang ada saja di antara mereka yang memiliki penyakit batuk, asma atau apa saja ketika umurnya menginjak lanjut, di atas 60 an. Tetapi mereka tidak mengira hal itu sebagai akibat merokok. Merokok sudah dianggap biasa dalam kehidupan orang desa. Seorang laki-laki, jika tidak merokok akan dianggap kurang tampak kelaki-lakiannya. Merokok menjadi semacam keharusan tatkala mereka sedang berkumpul, baik dalam forum kenduri, rapat rukun tetangga, atau pesta perkawinan, sunatan atau pertemuan lainnya. Saling mengobrol di antara beberapa orang tanpa dilengkapi dengan rokok, bagi masyarakat desa terasa aneh. Bagi kelompok yang berkecukupan, mereka menggunakan rokok buatan pabrik. Orang desa biasanya merasa kurang puas, mengonsumsi rokok terbungkus dari bahan kertas, seperti rokok cap Gudang Garam, Bentul, Jarum dan sejenisnya. Mereka lebih menyukai rokok yang kulitnya terbuat dari kelobot atau kulit jagung. Rokok kelobot, berukuran lebih besar, sehingga lebih membawa kepuasan. Dan ternyata, bagi orang desa, dari berbagai jenis rokok yang dihisap juga menunjukkan prestise masing-masing. Mereka merasa hebat dan lebih terhormat, jika mengkonsumsi rokok merk tertentu. Orang pedesaan klas bawah, dulu sudah biasa mengonsumsi rokok buatan sendiri. Mereka nyediakan tembakau dan kelobot ditambah cengkih jika ada. Mereka rupanya sangat menikmati dengan apa yang ada itu. Anehnya, usia orang desa panjang-panjang sekalipun mereka merokok setiap hari. Memang tidak tersedia data statistik yang menunjukkan kemungkinan hidup orang desa. Tetapi banyak ditemukan di desa orang berumur 80 an, dan bahkan 90 an tahun masih tampak sehat dan bahkan masih kuat bekerja. Padahal mereka mengkonsumsi rokok terus menerus sepanjang hidupnya. Sesuai dengan perkembangan zaman, tatkala orang sudah mulai sadar akan pentingnya kesehatan, maka merokok pun dibatasi. Merokok dianggap bisa mengganggu kesehatan. Hanya untuk melarangnya, ternyata bukan pekerjaan mudah. Sebab merokok , bagi kalangan masyarakat tertentu sudah menjadi bagian hidup mereka. Selain itu, rokok tidak hanya terkait dengan masalah agama dan kesehatan, tetapi juga sangat berhubungan erat dengan ekonomi, politik, sosial, dan bahkan juga budaya. Kaitannya dengan ekonomi, tidak sedikit wilayah Indonesia ini sebagai penghasil tembakau. Sehingga rakyat sudah secara turun temurun hidup dari bertani tanaman yang dianggap mengganggu kesehatan itu. Demikian juga di kota-kota, terdapat pabrik-pabrik rokok yang menyerap ratusan ribu buruh atau pegawai. Mereka hidup dari pabrik itu. Ketrampilan satu-satunya yang dimiliki, hanyalah bekerja di pabrik rokok itu. Oleh karena itu jika merokok dilarang, sehingga pabrik rokok harus tutup, maka akan dikemanakan ratusan ribu buruh rokok tersebut, lebih-lebih di saat lapangan kerja lagi sempit seperti ini. Selain itu, bagi masyarakat tertentu rokok sudah dianggap menjadi pelengkap hidup. Ada sekelompok orang tertentu menjadi tidak bisa bekerja, berpikir dan bahkan juga menulis misalnya, jika tidak sambil merokok. Bahkan tidak sedikit orang yang mengaku terus terang, pada bulan puasa masih merasa ringan meninggalkan makan dan minum di siang hari, tetapi tidak demikian tatkala juga harus meninggalkan rokok. Hal seperti ini usaha mengajak orang meninggalkan kebiasaan merokok menjadi tidak mudah. Menyerukan agar orang meninggalkan rokok tidak cukup hanya berfatwa, bahwa rokok itu haram atau makruh. Apalagi fatwa itu tidak membawa konsekuensi apa-apa terhadap pelakunya. Atas dasar gambaran di muka, ajakan untuk meninggalkan kebiasaan merokok, melalui fatwa ulama, rasanya sulit membawa hasil. Fatwa itu malah dianggap menjadi sesuatu yang tidak serius, tegas, serba dilematis dan bahkan mendua, persis seperti tergambar pada advertensi rokok itu sendiri. Advertensi itu mengajak orang merokok sekaligus menghimbau agar mencegah dengan menunjukkan bahayanya. Cara itu sepertinya mengajari masyarakat menjalani hidup serba tidak jelas. Bahkan kabarnya di negeri ini memang demikian halnya. Satu departemen mengajak meninggalkan kebiasaan merokok agar kesehatan terjaga, tetapi departemen lainnya malah mentarget agar besarnya cukai semakin ditingkatkan. Padahal kedua pejabat di departemen yang berbeda itu selalu ketemu. Hal yang sama, juga terjadi di sebuah komunitas lainnya, tatkala mereka berkumpul kemudian berdiskusi panjang tentang hukum haramnya rokok, tetapi sepulang dari pertemuan itu, misalnya segera menyiapkan hal yang diperlukan untuk memanen sawahnya yang sedang ditanami tembakau. Dan lebih ironis lagi, di ruang tamu mereka juga selalu tersedia asbak dan sisa rokoknya. Jika begini halnya, hidup ini memang tidak mudah, serba dilematis. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang