Sosial

Sosial

Kehati-hatian Kyai dalam Mengajar


Kyai di pesantren oleh para santrinya dijadikan sebagai sosok anutan yang amat dihormati. Tidak terlalu umum santri melakukan komunikasi secara bebas. Para santri terhadap kyainya selalu mengembangkan sikap sami’na wa atho’na, yaitu saya mendengar dan kami taati. Tidak selayaknya bagi santri mengabaikan nasehat dan perintah kyai, apalagi membantahnya. Di dunia pesantren tidak pernah ada santri tidak menyetujui kebijakan pesantren, lalu mendemo kyai, misalnya. Jika santri merasa tidak akan bisa menyesuaikan dengan pendidikan di pesantren itu, cara yang ditempuh adalah meninggalkan pesantrennya, kemudian mencari pondok pesantren lain. Oleh karena itu sesungguhnya mobilitas santri antar pesantren, khususnya bagi pesantren lama yang disebut pesantren salaf, sangat tinggi. Cara seperti itu dianggap biasa, yakni santri berpindah-pindah dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Dalam tradisi pesantren salaf, kyai juga tidak memiliki ambisi agar mendapatkan santri banyak-banyak. Karena itu maka tidak pernah terlihat pesantren mempromosisikan pesantrenanya. Di pesantren terbangun suasana kehidupan yang penuh dengan keikhlasan. Kyai mengajarkan ilmu yang dimiliki secara ikhlas. Jika ada orang tua santri menyerahkan putra-putrinya untuk dididik, maka oleh kyai diterimanya. Jika suatu saat santri yang bersangkutan meninggalkan pesantren, juga tidak dianggap merugikan kehidupan kyai. Pesantren tidak sebagaimana kehidupan bisnis, bahwa pelanggan adalah raja, mereka harus dibikin puas agar menjadi pelanggan tetap. Pesantren salaf tidak memiliki pandangan seperti itu. Banyak hal penting dari pendidikan pesantren, tetapi dalam tulisan ini saya hanya bermaksud menunjukkan satu aspek yang saya anggap sangat menarik dalam pendidikan pesantren, yang hal itu tidak pernah diperhatian oleh lembaga pendidikan modern. Hal menarik yang saya maksudkan itu ialah bahwa kyai tatkala mengajar, hanya memberikan pelajaran kepada santri tentang apa yang sudah dijalankannya. Kyai-kyai tertentu, biasanya tidak mau mengajarkan sesuatu, jika dirinya sendiri belum menghayati dan menjalankan ilmu itu. Terkait dengan masalah ini, ada contoh yang sangat menarik. Sengaja saya tidak menyebut nama kyai kharismatik yang saya jadikan contoh ini. Kyai yang sudah wafat beberapa tahun lalu itu, memang dikenal sangat alim oleh masyarakat di Jawa Timur. Sebagaimana biasanya pada hari dan jam tertentu, kyai ini membuka pengajian yang selalu diikuti masyarakat umum di pesantrennya. Pengajian ini dari waktu ke waktu semakin diminati, sehingga jama’ahnya semakin banyak. Waktu pengajian biasanya dibatasi, selama kurang lebih satu jam. Para peserta pengajian tersebut selalu menyesuaikan waktu yang disediakan oleh kyai. Pada suatu waktu, dalam pengajian rutin itu ada sesuatu yang tidak terbiasa terjadi, sehingga peristiwa itu tidak pernah dilupakan oleh seluruh jama’ah yang mengikuti pengajian. Belum lama memulai pengajiannya, setelah membaca beberapa baris, kyai tanpa ada keterangan yang jelas berhenti membaca kitabnya. Kyai diam, tidak melanjutkan kegiatannya, tetapi juga tidak meninggalkan tempat duduknya. Beliau tetap saja tinggal di tempat itu selama satu jam sebagaimana biasanya. Para jama’ah yang berjumlah ratusan juga tidak ada yang berani meninggalkan tempat duduknya masing-masing, karena dianggap tidak lazim, seseorang peserta pengajian meninggalkan kyai terlebih dahulu. Setelah genap satu jam pengajian tanpa suara itu, kyai mengucapkan salam pertanda pengajian selesai. Kyaipun meninggalkan tempat itu dan diikuti pula oleh para jama’ahnya, bubar. Karena pengajian seperti itu tidak pernah terjadi, maka beberapa jama’ah merasa penasaran, kemudian memberanikan diri menanyakan pada Kyai tentang pengajian rutin yang baru saja dilaksanakan, yang dianggap aneh. Keanehan itu ialah kyai hanya membaca beberapa kalimat, lalu berhenti. Selain itu, kyai tidak meninggalkan tempat duduknya dan juga tidak mengurangi waktu sebagaimana biasa, yaitu kurang lebih satu jam. Atas pertanyaan itu, kyai menjelaskan bahwa pengajian tersebut sengaja dihentikan, ----dan hanya membaca beberapa kalimat, ---- karena kalimat berikutnya yang seharusnya dibaca, kyai sendiri merasa belum pernah mengamalkan. Kyai tidak mau mengajarkan sesuatu yang ia sendiri belum menjalankannya. Jawaban yang diperoleh beberapa anggota jama’ah yang nekat berani menanyakan langsung pada kyai tersebut kemudian disampaikan dari mulut ke mulut ke seluruh jama’ah. Peristiwa kecil itu kiranya sangat menarik, dan memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada siapapun yang berkecimpung di dunia pendidikan. Pertama, menanamkan kesadaran bahwa mendidik adalah sama artinya dengan memberi contoh atau tauladan. Kyai tidak mau memberikan ilmunya selama ia sendiri belum menjalankannya. Peristiwa tersebut kadang kemudian saya jadikan jawaban terhadap persoalan lemahnya kualitas pendidikan saat ini. Hasil pendidikan saat ini rasanya tidak membekas, mungkin hal itu bisa jadi sebagai akibat bahwa guru hanya berperan sebatas sebagai juru bicara buku. Di hadapan murid atau mahasiswa guru hanya menjelaskan apa yang ada dalam buku yang ia ingat. Celakanya buku dimaksud kadang baru dibaca semalam sebelumnya. Sehingga, sering terjadi pameo bahwa beda antara guru dengan murid hanya sebatas sehari semalam. Apa yang diterangkan oleh guru atau dosen di depan klas adalah hasil dari apa yang dibaca olehnya sehari semalam sebelumnya itu. Akibatnya, ilmu yang diberikan oleh guru tidak nyampai ke pikiran, apalagi ke hati murid/mahasiswanya. Kedua, pelajaran penting lainnya yang bisa didapat dari peristiwa itu adalah kesadaran tentang bagaimana mendidik yang benar dan mendalam, sehingga apa yang disampaikan menjadi tidak pernah terlupakan. Apa yang dilakukan oleh kyai tersebut sesungguhnya berdasar atas prinsip pendidikan yang amat kokoh dan mendalam. Kyai mampu menciptakan peristiwa yang mudah dipahami, diingat dan berhasil masuk pada alam kesadaran para santrinya. Nilai yang sedang ditanamkan oleh kyai saat itu adalah bahwa siapapun yang sedang menjadi guru, seharusnya menjalankan apa yang diajarkan itu sebelum mengajak atau menyuruh orang lain mengerjakannya. Kyai dalam mengajar sesuatu tidak melalui takaran waktu, berapa sks, berapa lama waktu yang digunakan, melainkan menggunakan pendekatan yang lebih strategis, yaitu bagaimana agar pesannya diterima secara tepat. Memang Kyai tidak menggunakan cara-cara modern dalam mengajar, tetapi justru ide dan pesannya berhasil diterima dan masuk pada sanubari para jama’ahnya sehingga dijadikan pedoman hidup secara ikhlas. Dunia persantren kadang dilihat dengan sebelah mata oleh pihak-pihak tertentu, karena kesederhanaannya itu. Padahal, jika diteliti lebih medalam, sesungguhnya pesantren memiliki kekayaan, berupa prinsip-prinsip pendidikan yang tidak ditemukan di lembaga pendidikan modern sekalipun. Model pendidikan tradisional yang telah berhasil mengantarkan orang menjadi taat pada agamanya dan kemudian menjadi tauladan di masyarakat, seharusnya dijadikan acuan oleh semua pihak. Memang perlu diakui, tidak semua pesantren dan juga kyai memiliki kearifan seperti itu. Namun untuk meraih sesuatu yang unggul, maka menggunakan prinsip ”mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik” adalah merupakan cara yang cerdas. Akhirnya dari belajar tentang kasus di muka, kyai yang selama ini dikenal tidak pernah belajar metodologi pengajaran, namun sangat hati-hati dalam menunaikan tugasnya dan ternyata mereka memiliki wawasan pendidikan yang luas dan mendalam. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang