Sosial

Sosial

Kyai dan Politik


Memang, ada kyai yang secara sengaja selalu berusaha terlibat dalam politik praktis. Niat itu semula mulia, yaitu ingin menjadikan politik sebagai media dakwah. Kyai melihat bahwa berdakwah melalui politik sangat efektif. Jika seorang bupati, walikota, gubernur dan bahkan presiden dekat dengan Islam, maka setidak-tidaknya dakwah yang dilakukan oleh kyai tidak terhambat. Lebih dari itu, jika ajakan untuk menjalankan agama datangnya dari penguasa, maka akan diikuti oleh bawahan dan bahkan juga rakyatnya. Sebagai misal, ketika Pak Harto menunaikan ibadah haji, maka para menteri, gubernur, bupati, wali kota, rektor, pengusaha dan seterusnya juga ikut-ikut menunaikan ibadah haji. Kenyataan seperti itu menjadikan ikhtiar kyai dalam berpolitik yang dimaksudkan untuk dakwah mendapatkan pembenarnya. Sekalipun begitu, masih ada kyai yang konsisten ingin menempatkan diri secara netral. Ia tidak terlibat dalam politik praktis dan tidak berpihak ke mana-mana. Dengan siapnya seperti itu, ia ingin mengayomi semua pihak. Siapapun yang datang meminta dukungan, seolah-olah akan didukung. Sengaja disebut seolah-olah, karena tatkala memilih, siapapun termasuk kyai, tidak boleh mencoblos lebih dari satu calon. Dan untungnya pemilihan itu dilakukan secara rahasia di dalam bilik yang tidak diketahui oleh siapapun. Dalam tulisan ini saya hanya akan kemukakan, bagaimana seorang kyai desa suatu ketika kedatangan tamu yang bermaksud meminta dukungan dalam pemilihan kepala desa. Kyai di pedesaan, dahulu biasanya mengambil sikap netral. Siapapun yang datang meminta dukungan diterima dengan baik. Kyai seolah-olah menampatkan diri bagaikan orang tua terhadap semua anak-anaknya yang berjumlah banyak. Ia harus berlaku adil kepada semua anaknya itu. Demikian pula kyai, bahwa semua yang meminta dukungan dianggap sama, yaitu sama-sama anggota jama’ahnya. Mereka harus diperlakukan secara adil pula. Kyai tatkala ada seseorang yang datang ingin meminta dukungan, maka diterima dengan baik, sebagaimana kyai menerima tamu pada umumnya. Atas permintaan itu, kyai memberikan nasehat dan kesanggupan mendoakan, agar semua berjalan baik dan kelak selalu mendapatkan berkah dari Allah atas usahanya itu. Atas respon kyai tersebut, tamu yang meminta dukungan merasa senang, karena sudah didoakan dan direstui oleh kyai. Selanjutnya, dalam kesempatan lain kyai juga masih mendapatkan tamu yang mempunyai tujuan serupa. Orang yang datang kemudian ini juga akan diberlakukan secara sama. Diterima dengan baik, dinasehati dan didoakan secara sama agar semua berjalan baik dan kelak mendapatkan berkah dari Allah atas usahanya itu. Sebagaimana tamu yang pertama, ia merasa senang telah mendapatkan restu dan doa dari kyai. Dan begitu pula seterusnya, kyai didatangi oleh calon-calon yang lain. Kyai selalu menunjukkan sikap netralnya. Sikap netral kepada siapapun yang dikembangkan oleh kyai tersebut menjadikan tokoh agama selalu dijadikan anutan oleh siapapun. Ia diikuti dan disenangi oleh semua kelompok yang ada di desa itu. Siapapun baik yang menang atau yang kalah masih tetap merasa dekat dengan kyai, karena mereka telah didoakan. Kata kuncinya adalah telah direstui atas usahanya itu dan juga didoakan. Jika ada dugaan tentang pilihan yang sebenarnya dilakukan oleh kyai, maka hal itu hanya sebatas berada pada tataran dugaan. Pilihan yang sebenarnya tidak diketahui oleh siapapun. Karena secara dhahir, kyai menempatkan di antara mereka pada posisi dan tempat yang sama. Cara menempatkan diri pada posisi netral seperti itu, ternyata dalam kenyataan memang tidak mudah. Sehingga akhir-akhir ini, tidak sedikit kyai yang kelihatan secara jelas keberpihakannya. Bahkan juga ada kyai yang nyata-nyata hanya mendukung seorang calon dan juga partainya. Sehingga muncul sekarang ini, kyai dengan berbagai label. Misalnya, kyai PKB, kyai PKNU, kyai PPP, kyai Golkar, kyai PDIP, dan lain-lain sejumlah partai politik yang ada dan masih dipandang pantas. Berkembangnya fenomena seperti itu, tidak sedikit masyarakat yang kemudian menjadi kebingungan. Akhirnya, pesantren juga terpengaruh. Kyai yang nyata-nyata berafiliasi ke partai politik tertentu, tidak didatangi oleh calon santri yang orang tuanya tidak sepaham. Pendukung PPP misalnya, akan mengirimkan anak-anaknya ke pesantren yang kyainya berlabel PPP. Para pendukung PKB akan mengirimkan putra putrinya ke pesantren yang kyainya juga PKB., dan seterusnya. Akhirnya yang terjadi adalah belajar agama atau mengaji dikaitkan dengan politik. Anak yang seharusnya belajar agama kepada kyai yang alim, maka kriteria pilihan itu bertambah, yaitu yang sama afiliasi politiknya. Bahkan bisa jadi kriteria kealiman seorang kyai terkalahkan oleh kriteria yang terkait dengan pilihan politik. Jika fenomena ini benar-benar terjadi, sesungguhnya tidak ada yang rugi, kecuali kita dan ummat semua. Oleh karena itu, apapun sikap-sikap yang dikembangkan oleh para kyai sebagaimana yang dikemukakan di muka, ada benarnya. Kyai seharusnya netral. Kyai semestinya menjadi milik bagi semua, yaitu semua saja yang berafiliasi ke berbagai partai politik yang beraneka ragam dan bahkan termasuk pada mereka yang tidak berafiliasi ke mana-mana. Memang, sebagai pewaris Nabi, dalam keadaan tertentu, kyai seharusnya melakukan peran-peran sebagai orang yang selalu memberi peringatan dan mengajak ke jalan yang benar kepada siapapun tanpa terkecuali, yaitu mencari ridho Allah dan bukan sebatas mengajak orang untuk mendapatkan kemenangan dalam berpolitik. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang