Sosial

Sosial

Memilih Jalan Lurus


Namun pada kenyataan sehari-hari, orang justru memilih jalan lain, yang tidak lurus. Orang sekolah atau kuliah, semestinya tujuannya adalah agar pintar dan atau menjadikan kualitas pribadinya meningkat menjadi lebih baik. Akan tetapi, tidak jarang orang sekolah ternyata hanya dimaksudkan mendapatkan ijazah. Maka kemudian muncul pameo yang mengatakan, lulus dulu tokh ilmu bisa dicari kemudian. Pandangan ini menjadikan orang malas belajar, tidak segera menyelesaikan tugas-tugasnya dan bahkan kemudian menyerahkan ke orang lain untuk menyelesaikan tugas itu dengan imbalan tertentu. Contoh lain misalnya, orang guru atau dosen semestinya tugas itu merupakan panggilan hati nurani untuk mendidik para siswa atau mahasiswanya menjadi pintar. Tetapi tidak jarang panggilan hati itu di tengah jalan berubah. Mereka baru mau mengajar jika imbalannya cukup menurut ukurannya sendiri. Mereka menuntut uang transport, kelebihan jam mengajar, imbalan untuk koreksi, lembur dan lain-lain. Jika tidak tersedia itu semua maka semangatnya kendor. Jika benar hal itu terjadi seperti, maka tugas guru sudah dikaburkan dengan tugas-tugas pedagang yang sehari-hari mencari untung. Memang tidak ada salahnya, seorang guru mendapat imbalan yang cukup, dan itu adalah wajar dan bahkan keharusan. Akan tetapi jika olrientasi guru atau dosen sudah berubah, yaitu lebih pada upaya mendapatkan rizki, niat itu menjadi tidak lurus, atau tidak berada pada shirothol mustaqiem. Demikian pula contoh yang paling aktual saat ini. Banyak orang berkeinginan menjadi pemimpin masyarakat, baik menjadi calon legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Sebelum status itu benar-benar diraih, selalu mengatakan dengan jabatan itu agar bisa memperjuangkan rakyat. Berjuang untuk rakyat, demikianlah yang disuarakan di mana dan kapan saja. Rakyat pun sebagian percaya, karena disampaikan secara meyakinkan. Padahal, apa yang terjadi kemudian, setelah mereka benar-benar menduduki jabatan itu. Yang terdengar dari luar, ternyata tidak selalu sebagaimana yang disuarakan sebelumnya. Mereka menuntut disediakan sekretaris pribadi atas biaya institusi, mobil dan rumah dinas yang baru, berbagai tunjangan dan lainnya. Seolah-olah mereka wajar menuntut semua itu, atas dasar alasan bahwa dengan fasilitas itu agar tugas-tugasnya bisa dijalankan sebaik-baiknya. Selain itu, tokh untuk meraih posisi itu, mereka telah mengeluarkan biaya yang tidak kecil. Akan tetapi, bukankah sesungguhnya misi utama mereka menduduki posisi itu adalah untuk memperjuangkan nasip rakyat. Jalan lurus ternyata memang justru tidak mudah dilalui. Contohnya mudah sekali dikemukan, termasuk yang agak lucu-lucu. Bahwa tugas-tugas anggota legislatif misalnya, adalah menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi rakyat di lembaga legislatif itu. Sehingga semestinya, kemampuan yang diperlukan oleh peran itu setidak-tidaknya adalah kepintaran menyerap aspirasi, merumuskan, menyampaikan dan membuat argumentasi agar aspirasinya berhasil diterima. Jika ini yang benar, atau disebut yang lurus itu, maka para calon anggota legislatif akan memperkenalkan dirinya sebagai orang yang sangat jago dalam hal itu. Tetapi anehnya, partai politikpun yang direkrut adalah orang-orang yang memiliki kelebihan lain, seperti misalnya mengambil pelawak, penyanyi tenar, presenter terkemuka dan sejenisnya. Mulai dari sana sudah tampak bahwa niat membela rakyat sudah kelihatan kabur. Orientasi membela rakyat, sudah berubah menjadi mengejar target agar partainya menang. Memang, kemenangan pada tingkat itu penting, akan tetapi jika hal itu yang dipilih akan mengorbankan hal yang sifatnya mendasar, sehingga kebijakan itu semestinya dihindari. Masih terkait dengan contoh sebagaimana di muka, mudah sekali dilihat bagaimana para calon legislatif saat ini memperkenalkan diri agar dipilih oleh masyarakat. Ternyata sebagian besar hanya memamerkan foto-foto berbagai ukuran dengan maksud agar dikenal dan dipilih pada pemilihan beberapa bulan yang akan datang. Kiranya boleh-boleh saja memperkenalkan diri dengan memasang foto-foto itu. Tetapi sesungguhnya apa artinya foto-foto itu jika tidak disertai pesan yang terkait dengan tugas-tugas legislative yang akan dijalankan. Sebagai contoh yang agaknya tepat, ialah justru ada di dunia olah raga. Pemain tinju misalnya, sebelum bertanding selalu mengumumkan karier dan prestasinya. Informasi penting yang disampaikan ketika itu bukan ketampanannya, melainkan berat badannya, jangkauan tangannya, umur, berapa kali bertanding, berapa kali menang KO, kalah dan sterusnya. Sebaliknya, terasa aneh tatkala memperkenalkan calon legislative, agar dikenal, dipahami dan kemudian dipilih oleh rakyat, yang ditunjukkan justru sebatas ketampanan dan kecantikannya. Rupanya kita semua lupa, bahwa memilih calon pasangan atau pacar berbeda dengan memilih calon wakil rakyat. Memilih calon pacar yang kebetulan belum saling mengenal, cukup masing-masing mengirim fotonya. Cara itu benar, memang yang akan dijadikan bahan pertimbangan adalah ketampanan dan kecantikannya. Akan tetapi sebagai calon anggota legislatif rasanya tidak cukup jika hanya mengedepankan kecantikan atau ketampanan. Sehingga, rasanya sangat perlu foto-foto yang dipasang itu dilengkapi dengan prestasi keberhasilan dalam memperjuangkan rakyat selama ini. Masih banyak contoh-contoh lainnya, baik pada skala besar atau kecil di masyarakat yang secara istiqomah selalu memilih jalan lurus atau shirothol mustaqiem. Jalan lurus itu sesungguhnya telah ditunjukkan oleh Tuhan, agar kita semua memilihnya, sehingga kita selalu beruntung dan selamat. Akan tetapi, manusia selalu lupa dan memilih jalan yang justru tidak menguntungkan, sekalipun bagi dirinya sendiri. Oleh karenanya, agar terhindar dari kesesatan itu, sebagaimana petunjuk Nya adalah, hendaknya kita selalu memperbanyak ingat pada Allah, berdzikir pada setiap waktu. Selain itu, kita selalu memohon kepada Allah, agar selalu diberikan petunjuk atau hidayah, agar selalu berhasil memilih jalan lurus itu. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang