Sosial

Sosial

Rizki Bakda Subuh


Segera selesai sholat, ia pulang dan selanjutnya menjajakan tempe dagangannya dari rumah ke rumah yang sudah menjadi langganannya. Dari selesai sholat subuh itu, sampai jam 07.00 pagi dagangannya sudah selalu habis terjual. Ia kembali lagi ke rumah, dengan membawa modal plus keuntungannya. Pendapatan dari berdagang tempe tidak seberapa, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan dua orang anaknya. Itulah pekerjaan rutin, salah seorang tetangga, jama’ah subuh saya. Pekerjaan lainnya, jika ada ia bekerja sebagai kuli bangunan. Pekerjaan ini sebatas sebagai tambahan. Kalau pun tidak ada yang memberi pekerjaan, hasil jualan tempe keliling sudah mencukupi. Upah yang diterima sebagai kuli bangunan ini, menurut pengakuannya, digunakan untuk membiayai pendidikan anaknya dan kebutuhan lain yang diperlukan. Secara rutin kegiatan orang ini hanya seputar pergi ke pasar mencari dagangan, ke masjid, menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah, ikut jama’ah tahlil atau yasinan sekali seminggu. Kehidupan seperti ini dijalani dari tahun ke tahun. Dari hasil kerjanya itu, ia sudah berhasil membangun rumah sederhana. Rupanya ia sangat tenteram dengan kehidupannya itu. Ia juga tidak memiliki keinginan yang macam-macam, menganggap hidupnya sudah cukup. Orang seperti ini saya yakin jumlahnya amat banyak di negeri ini. Menghitung penghasilannya yang hanya sekitar 60.000/hari, ia tergolong klas menengah ke bawah. Para teoritikus ekonomi melihat mereka itu, saya yakin, akan mengkategorikan mereka sebagai kelompok yang perlu diberdayakan. Usaha mereka perlu ditingkatkan. Sekalipun bagi yang bersangkutan, hidup seperti itu sudah dianggap cukup. Bagi mereka yang penting, penghasilannya sehari-hari sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bisa beribadah sebagai bekal, jika kelak dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Mengamati kehidupan seperti itu, banyak hal yang bisa direnungkan dan diambil pelajaran berharga untuk mendapatkan makna hidup yang sesungguhnya. Beberapa hal itu, misalnya : Pertama, di dalam pergumulan hidup yang kompetitif seperti ini, seorang yang sederhana, berpendidikan rendah, pengalaman dan komunikasi terbatas, ternyata mampu melakukan adaptasi dengan lingkungannya. Ia berhasil mengetahui dan sekaligus memanfaatkan peluang mendapatkan rizki. Inilah cara Tuhan memberikan rizki kepada siapapun hamba Nya. Kedua, orang seperti ini ternyata justru berhasil mengalahkan nafsu atau keinginannya. Bandingkan dengan sebagian banyak orang, sekalipun telah mendapatkan harta yang melimpah, tetapi masih merasa miskin. Sebaliknya, ia miskin tetapi secara ekonomi sudah merasa kaya. Ketiga, ia berhasil mengenali Tuhan dan juga dirinya. Atas dasar keberhasilan mengenali dirinya itu, ia bisa memposisikannya sebagai hamba yang baik, hingga mendorong beribadah kepada Nya sebaik-baiknya. Keempat, secara ekonomis ia masuk kategori tertinggal, tetapi secara spiritual dan kharakter atau akhlak, ia berhasil meraihnya secara memadai. Ia merasa cukup dan bahagia dengan kehidupannya itu. Sudah barang tentu masih banyak nilai-nilai lainnya dari cerita itu yang bisa dipelajari. Saya yakin terlalu banyak orang yang bernasib seperti itu di negeri ini. Bagi orang yang selalu melihat dan mengukur keberhasilan hidup dari aspek ekonomi semata, orang-orang seperti ini akan digolongkan sebagai kelompok yang perlu ditolong dan diberdayakan. Tetapi, jika ukuran keberhasilan hidup itu mengikutkan variabel lainnya yang lebih luas dari sebatas variabel ekonomi, maka orang yang sumber rizkinya hanya dari memanfaatkan waktu antara dua sampai tiga jam setelah sholat subuh berjama’ah ini, justru telah mendapatkan sesuatu yang lebih dalam hidupnya. Akhirnya, jika kita melihat kehidupan ini secara utuh, maka penjual tempe keliling ini, sesungguhnya sudah lebih beruntung. Secara ekonomi, ia dilihat kurang berhasil, akan tetapi dari aspek lainnya ia telah meraih sesuatu yang lebih bermakna. Harta bagi siapapun selalu dianggap penting. Tetapi Islam mengajarkan pada umatnya, seseorang hendaknya bukan sekedar agar berhasil mengejar harta. Agama samawi ini mengantarkan pemeluknya agar mengenali Tuhan dan dirinya sendiri, serta mampu mensyukuri segala nikmat yang diterimanya. Penjaja tempe setiap bakda sholat subuh berjama’ah yang penghasilannya tidak seberapa itu sesungguhnya justru lebih beruntung, dibanding mereka yang kaya raya, tetapi hatinya kering, merasa kekurangan terus hingga tidak mampu bersyukur dan selalu melupakan ibadah pada Tuhannya. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang