Sosial

Sosial

Keluarga Sukses


Jawa biasanya dipahami seperti itu. Dimulai dari berhasil mendapatkan pekerjaan, kemudian berkeluarga, berhasil membangun rumah dan seterusnya. Oleh karena itu bagi orang Jawa, seseorang dikatakan hidupnya berhasil manakala mereka telah memiliki pekerjaan. Dengan pekerjaan itu setidak-tidaknya secara ekonomi ia telah mandiri. Kemudian disusul dengan tahap berikutnya, yaitu telah menikah. Tahap ini dicapai terlebih dahulu, sebelum membangun rumah. Biasanya membangun rumah diraih kemudian setelah nikah. Orang membangun rumah setelah nikah, agar pekerjaan itu dilakukan bersama-sama dengan isterinya. Ada saja orang yang masih bujangan membangun rumah terlebih dahulu sebelum nikah, tetapi tidak terlalu banyak terjadi. Islam ternyata juga memberikan kategori sebagai orang sukses. Indikator sebagai orang sukses menurut Islam bersifat universal dan tidak bersifat materialistik. Islam tidak melihat kesuksesan itu dari hal-hal yang bersifat material, seperti misalnya berapa besar rumah yang berhasil dibangun, berapa lembar baju yang telah dimiliki, jenis kendaraan yang telah dibeli dan sejenisnya. Bukan itu semua. Islam ternyata melihat keberhasilan hidup itu lebih pada aspek batin, bukan dari aspek dhohir. Lagi pula Islam melihat keberhasilan seseorang dalam perspektif yang jauh dan luas, yaitu meliputi kehidupan di dunia dan diakherat. Keberhasilan hidup di dunia, menurut Islam, belum bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup yang sebenarnya. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berdo’a agar mendapatkan kebaikan di dunia dan sekaligus kebaikan di akherat. Islam menunjukkan bahwa kebahagiaan itu bukan terletak pada aspek lahir, melainkan berada pada wilayah batin. Orang yang kaya raya dengan harta yang melimpah, bisa memenuhi semua keinginannya. Tetapi belum tentu mereka merasakan kebahagiaan. Demikian pula orang yang tercukupi kebutuhan gizinya saharí-hari, kemudian dengan begitu badannya menjadi sangat gemuk, belum tentu mereka gembira dan bahagía dengan kegemukannya itu. Bahkan dengan kondisi seperti itu, bisa jadi mereka bertambah susah. Kegembiraan dan kebahagiaan, adalah menggambarkan suasana batin. Memang adakalanya suasana batin menjadi gembira setelah terpenuhi kebutuhan fisiknya. Tetapi tidak serta merta orang yang terpenuhi kebutuhan fisiknya kemudian selalu bergembira. Orang selalu bergembira tatkala usahanya tercapai. Karena itulah maka Islam menganjurkan umatnya untuk selalu berjuang. Perintah berjuang dalam al Qur’an bertebaran di mana-mana. Orang akan mendapatkan kebahagiaan manakala orang tersebut terlibat dan apalagi mempelopori perjuangan. Oleh karena itu memang tidak terlalu mudah memahami indikator keberhasilan hidup seseorang. Apalagi kalau keberhasilan itu dikaitkan dengan kebahagiaan. Ternyata belum tentu seseorang segera merasa bahagia dengan mendapatkan sesuatu, misalnya sejumlah harta secara mendadak yang tidak tahu asal usulnya. Setiap orang memerlukan rasionalitas. Atas dasar itu mereka selalu bertanya, termasuk bertanya misalnya mengapa harta itu hingga sampai padanya. Jika dengan pemberian harta itu menjadikan harga dirinya turun, maka belum tentu segera diterimanya. Dari sini ternyata menjaga harga diri lebih diutamakan daripada mendapatkan harta. Sekalipun harta itu bagi siapapun dianggap penting. Soal indikator keberhasilan hidup ini, Islam menyebut bahwa orang yang akan mendapatkan kebahagiaan adalah orang yang beriman dan beramal sholeh. Orang yang berhasil menjaga keimanannya dan selalu berbuat baik, maka oleh Allah akan diberi balasan berupa surga. Dan kiranya balasan itu tidak saja akan diterima di akherat saja, tetapi sejak di dunia pun balasan kebaikan itu akan didapat. Sebagaimana disebutkan tanda-tanda orang beriman adalah misalnya, menjaga kebersihan, menyenangi semua orang, menghormat tamu, suka menolong orang, suka bersedekah, perhatian pada fakir miskin dan mencintgai anak yatim dan lain-lain. Amal sholeh dalam wujudnya yang nyata adalah bekerja secara baik, lurus, benar atau disebut profesional. Hal itu semua akan disenangi oleh orang. Dan siapapun jika berhasil menyenangkan orang, akan kembali disenangi oleh orang lain. Mereka kemudian akan mendapatkan kebahagiaan sejak di dunia atas kebaikan yang telah diperbuatnya. . Apa yang digambarkan tentang keberhasilan hidup secara panjang lebar di muka, juga bisa diperjelas dengan berbagai contoh. Di antara banyak sekali contoh, ada kisah yang mungkin bisa dijadikan pelajaran berharga. Ada seorang keluarga yang menurut pandangan masyarakat sangat sukses. Ia berhasil menempati posisi yang sangat terhormat di perusahaan negara. Tentang kekayaan mereka tidak perlu ditanyakan lagi keadaannya, sangat melimpah. Mereka mau pergi ke mana pun tidak ada hambatan, sekalipun harus keliling dunia. Namun keluarga ini memiliki kekurangan, yaitu dalam hal berkomunikasi antara suami dan isterinya. Sopirnya pernah dibikin susah, melayani suami isteri yang tidak pernah akur ini. Suatu misal, sekalipun sama-sama menghadiri pesta pernikahan dan duduk satu mobil, seringkali suami isteri itu tidak saling menyapa. Tatkala keduanya masuk ruang pesta masih bersama-sama, seolah-olah keduanya rukun. Akan tetapi tatkala keluar dari tempat resepsi, sudah sendiri-sendiri. Yang terjadi selanjutnya adalah saling menunggu, dan yang pasti kemarahan akan semakin menjadi-jadi. Peristiwa seperti itu, menurut kisah sopirnya, bukan terjadi sekali dua kali, bahkan sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Contoh lainnya, mengenai kasus yang agak berbeda, tetapi masih serupa. Keluarga ini sama dengan kasus pertama, sebagai pimpinan perusahaan milik negara dan pasti kaya. Keluarga itu sepertinya utuh dan rukun, tetapi sebenarnya menyimpan bara yang jika suatu saat meletus, keluarga itu akan bagaikan terkena bom. Sekalipun suaminya tampak sholeh, dekat dengan kehidupan keagamaan, tanpa diketahunya ternyata isterinya selalu selingkuh dengan sopirnya. Semua itu dirahasiakan secara rapi. Tetapi, pada suatu saat terbongkar rahasianya itu, maka secara mudah dibayangkan bagaimana akibatnya keluarga itu dengan anak yang sudah sekian banyak. Sudah barang tentu, kasus-kasus serupa itu jumlahnya cukup banyak, sehingga kalau mau meneliti tidak akan sulit mendapatkan datanya. Kehidupan dunia adalah seperti itu. Banyak keluarga jika dilihat dari luar tampak berhasil, karena tercukupi semua kebutuhannya, tetapi ternyata menyimpan persoalan yang amat besar dan tidak mudah menyelesaikannya. Sebaliknya, terdapat keluarga yang dari aspek ekonomi terlihat tidak terlalu berlebih-lebihan, dan bahkan pada saat-saat tertentu mengalami kekurangan, tetapi keluarga itu justru mendapatkan kebahagiaan. Kesehatannya terjaga, ibadahnya tertib, isterinya pandai mengatur penghasilan yang diterimanya setiap bulan, anak-anaknya tampak disiplin, menghormat pada orang tua dan seterusnya. Keluarga itu setiap dikumandangkan adzan, suami isteri bersama anak-anaknya, selalu memenuhi panggilan itu, untuk sholat berjama’ah. Keluarga itu selalu dijadikan contoh oleh masyarakat sekitarnya. Bukankah ini sesungguhnya, yang disebut sebagai keluarga sukses, yaitu mereka mampu menjaga keimanannya dan amal sholeh secara istiqomah. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang