Sosial

Sosial

Pendidikan Membangun Manusia Unggul


Akhir-akhir ini, tuntutan anggaran pendidikan sebesar 20 % sudah akan dipenuhi mulai tanhun anggaran 2009. Dengan anggaran sebesar itu, diharapkan kebutuhan pembiayaan pendidikan akan tercukupi. Kesejahteraan guru dapat ditingkatkan, orang miskin akan bisa mengikuti pendidikan karena akan mendapatkan bea siswa ----setidak-tidaknya pendidikan dasar dan menengah. Pertanyaannya adalah apakah dengan peningkatan jumlah anggaran, pendidikan akan otomatis bergerak maju. Jawaban sederhana dan spontan akan mengatakan tidak. Sebab, anggaran pendidikan hanyalah satu faktor dari sekian banyak factor lainnya yang sama-sama menjadi penyangga tegaknya pelaksanaan pendidikan. Selain persoalan anggaran, sesungguhnya ada persoalan besar terkait pelaksanaan pendidikan yang luput dari perhatian. Persoalan itu justru terkait dengan wilayah yang mendasar, yaitu menyangkut filosofi pendidikan itu sendiri. Pendidikan semestinya mengantarkan anak bangsa menjadi berakhlak mulia, cerdas dan kreatif, memiliki cita-cita besar, berani, jujur, peka terhadap kehidupan sosialnya. Pendidikan seringkali dimaknai secara sederhana, hanya menyangkut tentang birokrasi pendidikan. Misalnya, yang terpikir dari perbincangan pendidikan hanya terkait soal kurikulum, bahan ajar, metode pembelajaran, evaluasi dan sejenisnya yang bersifat teknis administrative. Akibatnya dari itu semua yang terjadi adalah, tatkala mereka menamatkan pendidikan, setelah dinyatakan lulus, ternyata kecakapan dan sifat-sifat yang diharapkan dari hasil pendidikan itu belum selalu tampak. Setelah diwisuda, ternyata mereka masih bertambah bingung, yang hal itu menggambarkan bahwa pendidikan yang dilalui belum menjadikan mereka tercerahkan dan mampu melihat peluang-peluang yang seharusnya dijadikan wahana pengabdiannya di tengah-tengah masyarakat. Padahal pendidikan semestinya berhasil membebaskan, mencerahkan dan memperkukuh kepribadiannya. Akan tetapi tampaknya bakat, minat dan potensi yang dibawa anak-anak sejak lahir belum berhasil dikembangkan oleh lembaga pendidikan kita. Semestinya semakin meningkat strata pendidikan yang ditempuh, mereka semakin mampu merumuskan cita-citanya dan masa depannya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, tidak jarang sudah lulus program strata 1, bahkan pascasarjana, mereka belum memiliki jiwa dan cita-cita yang unggul. Fenomena ini menggambarkan betrapa pendidikan kita ini masih sangat lemah. Lembaga pendidikan, diakui atau tidak masih belum mampu menghidupkan jiwa, kadang justru terasa sebaliknya, membuat peserta didik tidak percaya diri dan lemah. Di lingkungan birokrasi, kita mengenal sebuah istilah yang kurang enak didengar yakni kegiatan menghabiskan anggaran. Sekalipun orientasi itu semestinya tidak boleh terjadi, akan tetapi kita lihat pada bulan-bulan tertentu ------masa menghabiskan anggaran itu, hotel-hotel penuh, disewa oleh berbagai isntansi pemerintah untuk menyelenggarakan rapat, seminar, diskusi atau apa sajalah namanya, yang berorientasi menghabiskan anggaran. Apa yang terjadi di birokrasi pemerintah, ternyata juga terjadi didunia pendidikan. Seorang kepala sekolah dan juga guru ternyata juga memiliki tradisi itu, ialah menghabiskan bahan ajar. Pada pikiran mereka tumbuh, bagaimana kurikulum dan bahan ajar bisa diselesaikan dalam waktu tertentu. Kepala sekolah dan guru berpikir bagaimana bahan-bahan ajar bisa dihabiskan sesuai target. Yang dipentingkan adalah mengejar target, menghabiskan bahan ajar. Betapa kelirunya ketika itu, kepala sekolah dan juga guru memaknai pendidikan. Mendidik disamakan dengan menyelesaikan proyek yang bersifat fisik. Mereka mungkin berkeyakinan bahwa dengan selesainya target ------bahan pelajaran berhasil disampaikan di depan kelas, akan menjadikan tujuan pendidikan yang sesungguhnya telah tercapai. Inilah kiranya, yang menjadi salah satu sebab lemahnya hasil pendidikan. Pendidikan menjadi sebuah birokrasi, yaitu dijalankan sebatas formalnya. Pendidikan semestinya diorientasikan untuk membangun cita-cita, kreativitas, keberanian, kepercayaan diri, kejujuran, kepekaan social dan bukan lebih rendah dari itu, sebatas memenuhi tuntutan birokrasi, yaitu mendapatkan tanda lulus. Jika orientasi pertama itu yang akan diraih, maka selain memenuhi anggaran, juga harus ada keberanian melakukan reformulasi format pendidikan secara mendasar. Jika tidak, maka pendidikan sebagaimana yang kebanyakan terjadi selama ini, hanya menghasilkan hal-hal yang bersifat semu, manipulatif dan melahirkan anak munafik. Lembaga pendidikan hendaknya menjadi institusi yang memungkinkan berhasil membangun kreativitas, cita-cita, imajinasi-imajinasi, mimpi-mimpi tentang hari depan yang indah serta bagaimana meraihnya. Lembaga pendidikan seperti itu, harus diberikan space atau ruang gerak yang cukup leluasa. Langkah yang perlu diambil, untuk menghindari terjadinya birokrasi pendidikan yang berlebihan, maka lembaga pendidikan perlu diberikan keleluasaan untuk bergerak dan berkreasi. Para pejabat pendidikan, mulai dari kepala dinas pendidikan, kepala sekolah dan tidak terkecuali guru-guru, agar diberi kebebasan berekspresi seluas-luasnya. Lembaga pendidikan semestinya tidak diformat seperti kantor, yang sarat dengan tata tertib hingga menjadikan para penghuninya terbelenggu. Lembaga pendidikan hendaknya memberikan peluang seluas-luasnya untuk membangun cita-cita, kreasi, dan membangun karakter unggul yang akan digunakan sebagai bekal dalam kehidupan yang sarat dengan tantangan. Manusia unggul hanya akan tumbuh dari iklim dan suasana yang khas. Kreativitas akan tumbuh jika ada suasana yang mendukungnya. Kreativitas memerlukan alam yang bebas. Seringkali kita melakukan kebijakan yang kontra produktif. Satu sisi menghendaki munculnya kreativitas, sedang pada sisi lain membangun suasana yang tidak akan mungkin lahir kreativitas itu. Jika kita menghendaki dari lembaga pendidikan lahir kreativitas, maka semestinya ditumbuhkan suasana yang tidak membelenggu. Hal yang membelenggu itu misalnya pedoman yang terlalu dibuat berbelit-belit, pendidikan dikaitkan dengan birokrasi, politik, kaya petunjuk teknis dan bahkan juga peraturan. Semestinya peraturan hanya penting jika menyangkut hal teknis, misalnya membuang sampah harus ditempatnya, tidak merokok di sembarang tempat, jam kantor, pengaturan jadwal praktikum, pelayanan perpustakaan dan seterusnya. Peraturan seperti itu penting dan harus dibuat untuk menjadikan semua anggota masyarakat terlindungi, sehingga mereka merasa tidak ada yang terganggu dan lagi pula agar semua tampak indah. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang