Sosial

Sosial

Berlebih-Lebihan


Padahal ajaran Islam tidak hanya sebatas memberikan pedoman tentang bagaimana melihat sesuatu itu dari kelima hukum, yaitu halal, haram, mubah, sunat dan makruh. Islam juga menganjurkan umatnya mengembangkan kreativitas dan ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Kreativitas seseorang dalam Islam tidak dibatasi, sebaliknya diberikan kebebasan seluas-luasnya. Bahkan untuk mendorong kaum muslimin agar mengembangkan kreativitas itu, Nabi pernah mengatakan yang intinya, bahwa barang siapa membuat kreativitas yang baik, maka mereka akan mendapatkan pahala dari kreativitasnya itu dan juga pahala orang-orang yang menjalankannya sampai hari kiamat. Demikian pula ajuran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan bagi umat Islam sangat jelas. Dalam kitab suci dikatakan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat lebih tinggi. Al Qur’an juga meberikan sinyal agar kaum muslimin memperhatikan bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana bumi dihamparkan dan bagaimana gunung ditegakkan. Beberapa ayat tersebut sesungguhnya merupakan sinyal bagaimana seharusnya kaum muslimin mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebagai implementasi pandangan itu semestinya kaum muslimin seharusnya membuat pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan, berupa laboratorium sebagai tempat penelitian atau eksperimen, perpustakaan yang sebesar-besarnya. Tokh, betapapun usaha manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan, oleh Allah masih dipandang terbatas atau sedikit jumlahnya. Dalam al Qur’an disebutkan bahwa Allah tidak akan meberikan ilmu pengetahuan, kecuali sedikit. Dalam mengembangkan kreativitas dan atau ilmu pengetahuan, yang hal itu adalah berada pada wilayah nalar atau kecerdasan, kaum muslimin tidak dibatasi. Rahasia alam dan jagat raya terbuka dan terbentang seluas-luasnya menantang bagi manusia agar diungkap segala rahasianya. Sebatas peringatan tentang itu, karena tidak akan mungkin dijamah oleh manusia adalah menyangkut wilayah ruh dan Dzat Allah sendiri. Sepanjang menyangkut hal yang bisa ditangkap oleh indera, yakni selain kedua hal tersebut, manusia diberi keleluasaan untuk mempelajari dan hasilnya agar dimanfaatkan seluas-luasnya bagi kehidupan. Tidak sebagaimana menyangkut kreativitas dan pengembangan ilmu pengetahuan, yang hal itu manusia diberi kebebasan seluas-luasnya, ternyata justru yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan fisik, seperti makan, minum dan bahkan bersedekah justru supaya dibatasi. Pembatasan itu, kiranya selain agar manusia tetap sehat -------dengan makan dan minum secara terbatas, juga Islam menuntun agar manusia peduli sesamanya. Manusia harus menjaga kehidupan sosialnya, supaya tercipta kehidupan bersama secara harmoni. Kehidupan yang mulia itu tidak akan terwujut, manakala di tengah-tengah masyarakat terjadi kesenjangan yang amat jauh. Kesenjangan itu terjadi oleh karena ada nafsu memiliki, menguasai dan bahkan memonopoli oleh sebagian orang dari sebagian banyak lainnya. Islam menuntun umatnya untuk hidup berjama’ah. Hak-hak dan kepemilikan seseorang diakui dalam Islam, akan tetapi siapapun harus peduli pada yang lain. Itulah sebabnya kemudian muncul dalam Islam ajaran tentang zakat, shadaqoh, infaq, wakaf, hibah dan lain-lain. Sayang sekali ajaran yang terkait dengan kebersamaan atau berjama’ah ini belum banyak mendapatkan perhatian, termasuk oleh kaum muslimin sendiri, sehingga kesenjangan itu terjadi di mana-mana. Bahkan, di negeri berpenduduk mayoritas muslim pun, seperti di Indonesia ini, kesenjangan masih terjadi. Sebagian orang menguasai sumber-sumber ekonomi, sehingga memiliki kekayaan yang luar biasa banyaknya. Sementara lainnya sangat kekurangan. Sebagian orang menempati rumah-rumah mewah dengan berbagai fasilitas yang sangat berlebih-lebihan, sedangkan di sana sini masih banyak orang, yang hanya sebatas bertempat tinggal saja terpaksa mengambil tempat di pinggir-pinggir kali, bawah kolong jembatan, di pinggir rel kereta api, semua itu dengan bangunan seadanya. Pemandangan yang sangat kontras itu, anehnya juga justru terjadi di kota besar, seperti Jakarta. Padahal para ilmuan, politikus, pengusaha dan bahkan penguasa semua ada di sana. Mungkin mereka itu semua belum menghayati bahwa hidup berlebih-lebihan dan juga kesenjangan adalah sangat membahayakan dan bahkan melebihi dari bahaya merokok, karena itu juga dilarang oleh Islam. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang