Sosial

Sosial

Ibadah, Amal dan Akhlak


Sebelum, sedang dan akhir dari sholat, mereka mengucapkan kalimah-kalimah mulia, mulai dari basmallah, subhanallah, hamdallah dan takbir. Itulah yang sehari-hari dilakukan oleh kaum muslimin pada setiap pagi tatkala mengawali kehidupan di hari itu. Bandingkan umpama, seseorang tidak memeluk Islam. Tidalk akan ada kegiatan itu. Di pagi buta, karena tidak ada niat dan kewajiban menjalankan ibadah, masih meneruskan tidurnya hingga menjelang mereka pergi mencari rizki. Kalaupun mereka terbangun dari tidur di pagi buta itu, bagi mereka yang tidak merasa berkewajiban sholat subuh, bagi mereka yang berdagang segera buka toko atau pergi ke pasar. Begitu pula akan segera ke kantor, karena jaraknya dari tempat tinggalnya cukup jauh, misalnya. Di pagi buta subuh ini, sudah bisa dibedakan antara kehidupan dan kegiatan kaum muslimin dari mereka yang bukan. Kaum muslimin diajarkan agar tidak pernah mengabaikan Sang Penciptanya. Dari pagi setelah bangun dari tidur, hati dan bibir serta jasat kaum muslimin dibiasakan mengingat pada Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta dan Yang Maha Mencintai terhadap seluruh makhluk-Nya. Kalimat-kalimat agung dan mulia menghiasi kehidupannya sehari-hari. Sedangkan mereka yang tidak beragama Islam, kebiasaan itu kiranya tidak dilakukan. Maka, Islam mengajarkan kepada kaum muslimin, agar seluruh hidupnya untuk beribadah. Sepulang dari masjid, selesai menjalankan sholat subuh berjama’ah, bagi yang tidak memiliki kegiatan selanjutnya, mereka masih di masjid membaca kitab suci al Qur’an sebagai kegiatan rutinnya, atau kegiatan membaca al Qur’an bisa dilakukan di rumah masing-masing. Bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya, setelah membaca al Qur’an, berolah raga, misalnya dengan jogging atau berjalan kaki. Sedangkan bagi mereka yang bekerja, setelah membaca al Qur’an, berkemas-kemas, makan pagi, segera menuju ke tempat kerja masing-masing. Bagi mereka yang keluar rumah tidak terlalu pagi, sehubungan dengan jenis pekerjaannya tidak menuntut yang demikian, setelah matahari kelihatan jelas dari timur, kaum muslimin disunnahkan untuk mengambil air wudhu dan selanjutnya sholat dhuha beberapa roka’at. Rosulullah memberikan tuntunan seperti itu. Selanjutnya, pada waktu kerja mereka bertebaran ke tempat kerjanya masing-masing, untuk mendapatkan rizki, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Apapun yang dilakukan oleh kaum muslimin, seharusnya dimulai dengan mengucap basmallah. Kalimat yang sangat mulia, yakni basmallah selalu digunakan untuk memulai seluruh kegiatannya. Penyebutan kalimah itu akan memberikan kesadaran sekaligus keyakinan bahwa apa saja yang dilakukan selalu terdorong dan diwarnai oleh sifat-sifat yang mulia itu. Sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang milik Allah yang selalu dijadikan awal sekaligus dasar berbuat dan atau bekerja diharapkan akan mewarnai seluruh kegiatan saat itu. Rasanya dengan menggunakan logika dan atau cara berpikir seperti ini, seorang muslim tidak akan berbuat yang bertentangan dengan itu, misalnya berbuat kasar, atau menurut masyarakatnya dinilai tidak sopan hingga menyakiti orang lain, apalagi bersifat merusak. Bekerja atau dalam Islam disebut sebagai beramal, menurut tuntunan Islam harus dilakukan secara sholeh. Kata sholeh memiliki arti benar, tepat, lurus, cocok atau mungkin kata yang tepat sebagaimana yang dikenal saat sekarang adalah professional. Amal sholeh, sama artinya dengan bekerja secara professional. Tetapi sesungguhnya tidak semua yang dilakukan secara professional merupakan amal sholeh. Kerja professional baru dikatan sebagai bentuk amal sholeh jika dimulai dengan basmallah, dilakukan secara sabar, ikhlas, amanah dan istiqomah, untuk menghasilkan yang terbaik. Kegiatan itu diakhiri dengan bersukur, karena mendapatkan nikmat, petunjuk dan pertolongan dari Allah swt. Bekerja atau amal sholeh yang selalu diliputi oleh suasana beribadah, maka akan selalu menghindari terjadinya kerugian pihak lain, seperti misalnya kecurangan, kebohongan, kepalsuan dan segala bentuk keburukan lainnya. Sehingga, kalau pekerjaan itu sebagai bagian dari mencari rizki, maka akan mendapatkan rizki yang halal. Berkerja dan atau mencari rizki, menurut tuntunan Islam harus memperhatikan kadar ke halalannya. Rizki bagi kaum muslimin -----apapun cara mendapatkannya, misalnya melalui bekerja di kantor, di kebun sebagai petani, di tambak atau laut sebagai nelayan, buruh, pegawai dan lain-lain harus dieroleh secara halal. Bahkan sebagai penyempurna kehalalan rizki itu, masih harus dikeluarkan sebagiannya diserahkan pada yang berhak, sebagai bentuk solidaritas dan tanggung jawab sosialnya. Maka, muncullah konsep tentang zakat, infaq, shodaqoh, dan hibah. Semua itu agar kehidupan yang dijalani membawa berkah. Bekerja sepanjang waktu bagi siapapun akan mengalami kelelahan. Karena itu, di waktu-waktu tertentu, ada kegiatan spiritual yaitu sholat. Di siang hari setelah bekerja selama sekitar 5 jam misalnya, dari jam 07.00 sampai jam 12.00, kaum muslimin diwajibkan sholat dhuhur, dan sangat utama jika dilakukan secara berjama’ah. Bekerja selama kurang lebih lima jam, akan mengalami kelelahan. Mereka sangat memerlukan istirahat. Jika mereka kemudian ambil air wudhu, membasuh seluruh wajah, tangan, mengusap sebagian rambut dan juga membasuh kaki, maka, selain badan menjadi suci dari hadats, maka kelelahan atau rasa capek akan berkurang. Sholat berjama’ah selain sekaligus mempererat silaturrahmi juga menjadikan beban-beban psikologis akibat bekerja sepanjang waktu, akan berkurang pula. Bekerja atau beramal sholeh, lalu mengingat Allah Yang Maha Pencipta, Maha Kuasa dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, akan berpengaruh terhadap semua aspek kehidupannya, baik jiwa, pikiran maupun badannya secara keseluruhan. Hidup seperti digambarkan tersebut, yakni seluruh kegiatannya selalu dikaitkan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ditunaikan dengan penuh amanah, sabar, ikhlas dan istiqomah, maka itulah sebagai bentuk ibadah. Ibadah dan amal sholeh tidak dilihat secara terpisah, melainkan menyatu. Apalagi, kegiatan itu selalu diwarnai dengan kharakter atau akhlaq yang mulia. Bahwa apa yang dilakukan sebagai ekspresi dari suara hati yang jernih, karena itu selalu diniatkan sebagai ibadah yang didorong oleh semangat bekerja secara lillahi ta’ala, ikhlas, sabar dan sukur, tawakkal dan istiqomah. Sebaliknya, sebagai bagian dari menjaga akhlaq, tatkala bekerja selalu menghindari dari sifat sombong, dengki, takabbur, iri hati dan sifat-sifat buruk lainnya, maka antara ibadah, amal dan akhlaq menyatu dalam kehidupan kaum muslimin. Masih dalam rangkaian aktivitas ibadah spiritual lainnya, yang juga bernuansa kebersamaan, karena dilakukan secara berjama’ah adalah sholat asyar, maghrib dan isya’. Selain itu masih ada lagi sholat-sholat sunnah baik sebelum atau sesudah sholat fardhu ialah sholat malam dan juga sholat witir. Semua kegiatan spiritual, amal sholeh dan akhlakul karimah itu, sesungguhnya jika dijalankan secara istiqomah, akan melahirkan jiwa, watak atau pribadi yang unggul. Semua itu bagi kaum muslimin merupakan kekuatan dan sendi atau pilar lahirnya masyarakat dan bahkan peradaban yang unggul yang dicita-citakan oleh seluruh kaum musliminmua. Inilah sesungguhnya kehidupan yang diharapkan bagi kaum muslimin. Kehidupan kaum muslimin dari waktu ke waktu yang secara ideal digambarkan itu, sungguh amat indah dan mulia. Namun pada kenyataannya, manusia selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan nyata, baik terkait dengan kesejarahan, sosilogis, kultural, dan psikologisnya, sehingga apa yang seharusnya terjadi, ternyata tidaklah selalu demikian indah keadaaannya. Islam melalui kitab suci al Qur’an dan tauladan kehidupan Rasulullan, telah memberikan tuntunan tipe ideal kehidupan seseorang muslim yang seharusnya selalu dijadikan cita-cita, agar lahir pribadi dan juga masyarakat unggul, yaitu masyarakat yang dibangun di atas landasan yang kokoh serta gambaran kehidupan yang jelas, yaitu kehidupan yang diliputi oleh suasana ibadah, amal sholeh dan akhlak yang mulia. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang