Sosial

Sosial

Berzikir Sambil Menjajakan Tape Ketan


Menurut cerita, tidak pernah dagangannya nyisa, karena tidak laku. Setiap menjelang sore tape dagangannya terjual habis. Juga ia tidak memiliki langganan tetap. Pada setiap hari para pembelinya selalu bergantian. Pembeli kemarin, berbeda dengan pembeli hari ini. Ia pun berjualan tidak menetap. Sehari ke suatu desa dan pada hari lainnya ke arah desa yang berbeda. Akan tetapi yang aneh, setiap hari tape jualannya selalu habis terjual, kemana pun arah tape itu dibawa. Pengalaman seperti itu, menjadikannya ia berkesimpulan bahwa rizki itu memang sudah ada yang mengatur, ialah Yang Maha Kuasa, Allah swt. Penjual tape umumnya berlatar belakang pendidikan rendah, tamat Sekolah Dasar saja. Oleh karena itu cara berpikirnya sederhana saja. Ia tidak pernah berangan-angan memperbesar usahanya. Bagi mereka yang penting setiap hari, mendapat hasil untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Dari hasil jualan itu dirasakan sudah cukup, sekalipun juga tidak sisa. Kalaupun ada lebih, ditabung untuk membiayai kebutuhan yang tidak diduga sebelumnya, misalnya biaya berobat jika sakit, untuk membayar biaya sekolah anaknya, yang semua itu juga dirasakan cukup. Ada beberapa hal yang menarik dari mengamati orang kampung penjual tape ketan setiap hari ini. Pertama, rizki itu memang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Penjual tape ini pada setiap hari, dagangannya selalu laku, dan habis. Sehingga, ia selalu bisa menyambung hidup, memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Rasanya persis benar janji Allah bahwa setiap makhluk itu sudah dikaruniai rezki masing-masing. Setiap orang akan mendapatkannya, asalkan mereka mau mengambil rizki itu, dengan cara mau berusaha dengan cara bekerja. Kedua, orang-orang yang menekuni pekerjaan seperti ini, ---- penjual tape, penjual roti, penjual jamu, pisang goreng dan lain-lain serupa, di mana-mana selalu ada. Bekerja seperti itu, sudah dirasakan sebagai bagian hidupnya. Mereka sudah merasa senang dengan pekerjaan seperti itu. Hiruk pikuk kegiatan partai politik, pemilihan caleg, cabub, cawali, cabub, cagup dan capres, tidak pernah menjadi perhatiannya. Siapapun wakilnya di DPR dan siapapun bupati, gubernur dan presidennya, dirasakan tidak berpengaruh apa-apa terhadap lapangan pekerjaan mereka. Mungkin ia baru akan merasa susah apabila pemerintah hasil pemilu membatasi wilayah penjajaan mereka itu. Ketiga, mereka tidak memiliki keinginan apa-apa selain memenuhi kebutuhan hidupnya itu. Hidup dijalani secara rutin, membuat tape dan menjualnya. Jika dikumandangkan adzan dari masjid yang berada disebelah rumahnya ia segera mendatangi, dan sholat berjama’ah. Seminggu sekali mereka ikut jama’ah tahlil atau yasinan yang selalu diselenggarakan, bergantian dari rumah ke rumah lainnya. Kegiatan ini tidak saja penting baginya sebagai upaya mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi juga sebagai sarana yang mudah dan murah untuk bersilaturrahmi dengan lingkungannya. Berkumpul dengan tetangganya yang bertaraf ekonomi lebih tinggi, ia juga tidak merasa rendah diri. Tokh rizki itu dilihat olehnya sebatas titipan dari Allah swt. Keempat, penjual tape ketan ini pendapatannya hanya pas-pasan, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pada tingkat dasar, sehingga jika mengikuti statistik akan masuk kategori berekonomi lemah. Akan tetapi, jika melihat seseorang tidak saja dari ukuran ekonomi, tetapi juga dari perspektif yang lebih luas, misalnya diukur dari aspek spiritual dan akhlaknya, saya yakin ia masuk kategori orang kaya. Ialah kaya batin dan spiritual itu. Kehidupan penjual tape ini tidak diliputi oleh suasana kegelisahan karena ancaman apapun. Di tengah-tengah para pejabat di berbagai tingkatan, tidak sedikit yang ketakutan atas ancaman BPK, KPK, ia sama sekali tidak terbebani persoalan itu. Ia juga tidak terjangkit penyakit ambisi kekuasaan yang harganya mahal. Ia juga tidak berpenyakit mental, seprti dengki, iri hati, permusuhan dan lain-lain. Ia juga tidak memiliki nafsu naik mobil mewah, rumah besar, tanah luas dan seterusnya sekedar untuk pamer dan sombong. Ia hanya ingin mempertahankan hidupnya seperti itu, berjualan tape ketan sepanjang jalan sambil mengingat dan berdikir, serta membaca sholawat atas Nabi Muhammad saw. Penjual tape ketan tersebut memang secara dhahir tidak terlalu banyak sumbangannya pada negara, ia juga bukan tergolong pejuang untuk bangsanya, tetapi ia juga tidak merepotkan dan apalagi mengganggu orang lain. Merenungkan kehidupan orang-orang seperti itu, lantas saya berpikir, jangan-jangan justru orang seperti itu, yang sesungguhnya telah meraih kenikmatan hidup yang sebenarnya. Jika pun mereka tidak memberi sesuatu yang besar dan luas pada kehidupan, bukankah sesungguhnya setiap orang tidak akan dibebani, kecuali sebatas kemampuannya. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang