Sosial

Sosial

Memperkaya Rohani

Sedemikian tinggi semangat masyarakat dalam membangun masjid, hingga jika dana terbatas, mereka meminta sumbangan ke sana kemari, termasuk menempuh cara yang oleh sementara orang dianggap kurang layak, misalnya dengan cara mencari sumbangan di tengah jalan. Kita lihat, di beberapa tempat orang memberhentikan kendaraan hanya sebatas meminta sumbangan untuk mendirikan masjid. Sebagian orang memberi, tetapi juga tidak sedikit yang tidak mau dan bahkan merasa terganggu. Melihat fenomena seperti itu saya menghargai, setidaknya dari semangat membangun tempat ibadah yang luar biasa itu. Memang cara-cara mencari sumbangan seperti itu jelas mengganggu, tetapi itulah cara yang bisa mereka lakukan. Menunggu sumbangan pemerintah daerah misalnya, juga tidak pernah datang. Infaq dan atau shadaqoh dari para aghniya’ juga masih harus menunggu lama. Apalagi saat ini, ---tidak seperti dulu orang banyak jalan kaki, -----di saat mobilitas sangat tinggi dan setiap orang menggunakan kendaraan, maka cara seperti itu, rasanya bisa diterima akal. Tokh tidak lama kemudian, masjid yang dibangun juga selesai dan bisa digunakan bersama. Tulisan saya seperti ini, tidak perlu dimaknai bahwa saya menyetujui cara-cara itu. Saya lebih menyukai pengumpulan dana melalui cara yang tidak mengganggu orang, didapatkan dengan ikhlas. Sayangnya kecintaan masyarakat terhadap usaha pembangunan masjid selama ini belum diikuti oleh kesenangan mereka memakmurkannya. Sehingga di mana-mana sudah terdapat masjid, tetapi penggunaannya masih belum maksimal. Masjid masih diambil maknanya sebagai simbol kebesaran umat Islam. Jika di suatu tempat terdapat masjid besar, maka dipandang bahwa umat Islamnya kuat. Padahal, bisa saja masjid itu hanya dimaknai sebatas sebagai kebanggaan belaka. Pada waktu-waktu sholat, jumlah jama’ahnya tidak seimbang dengan populasi umat Islam di sekitarnya. Jumlah jama’ah terlihat banyak, hanya pada sholat Jum’ah. Selain hari-hari itu keadaannya sepi. Jika pun ada jama’ah, yang jumlahnya juga tidak seberapa, adalah pada waktu maghrib dan isya’. Hal seperti ini menggambarkan bahwa fungsi masjid belum maksimal. Tidak sedikit hadits Nabi yang memberikan perintah dan tauladan agar kaum muslimin menjalankan sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid. Diterangkan dalam hadits nabi bahwa sholat di masjid secara berjama’ah akan mendapatkan pahala berlipat-lipat. Nabi juga tidak pernah sholat lima waktu sendirian di rumah. Nabi selalu melaksanakan sholatnya bersama-sama para sahabatnya di masjid secara berjama’ah, sekalipun dalam keadaan sakit. Dalam suatu riwayat, pernah ada seorang sahabat yang buta menanyakan kepada Nabi, apakah dengan keadaannya seperti itu -----buta, diberi keringanan sholat lima waktu di rumah. Nabi balik bertanya, apakah yang bersangkutan mendengarkan suara adzan. Sebab mendengar suara adzan itulah, maka harus mendatangi panggilan itu. Memang saya seringkali mendengar pendapat bahwa sholat berjama’ah di masjid hukumnya sunnah dan bukan wajib. Karena itu boleh dilakukan secara sendiri-sendiri di rumah masing-masing. Akan tetapi jika direnungkan secara mendalam, betapa banyak manfaat sholat berjama’ah di masjid. Saya seringkali membayangkan, alangkah indahnya kehidupan masyarakat muslim jika mereka semua membiasakan sholat berjama’ah di masjid. Dimulai dari sholat subuh, anggota masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar masjid semua mendatangi tempat ibadah itu. Mereka di pagi buta itu sudah berkumpul di rumah Allah. Semua jama’ah masjid yang terdiri atas para orang tua, dewasa, pemuda, remaja, anak-anak, laki-laki dan perempuan memenuhi masjid, kemudian sholat bersama. Dengan kegiatan sholat berjama’ah subuh itu, semua warga di sekitar masjid sudah bertemu. Masing-masing saling mengetahui keadaannya. Jika di antara anggota jama’ah ada yang sakit, maka para tetangga segera mengetahuinya karena kabar itu menyebar dan diterima ketika sebelum atau selesai sholat berjama’ah. Lebih indah lagi, jika setelah sholat subuh berjama’ah, diberikan ceramah semacam brieffing, oleh pemuka atau tokoh atau orang yang dituakan, sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari itu. Sehingga, pada pagi itu seluruh jama’ah pergi bekerja menunaikan tugasnya masing-masing, setelah mendapatkan santapan rohani singkat bakda subuh. Sholat subuh berjama’ah akhirnya mendapatkan banyak keuntungan, mulai dari pahala yang berlipat, sillaturrahmi dengan tetangga dan santapan rohani sebagai bekal dalam menjali hidup di hari itu. Cara hidup seperti ini, tentu akan lebih sehat, baik jasmani maupun rohani. Memasuki zaman modern seperti sekarang ini, orang bekerja di luar rumah, dan kadang jauh tempatnya. Oleh karena itu sholat dhuhur dan asyar berjama’ah dilakukan di masjid terdekat dari lokasi kerjanya. Mereka akan bertemu lagi dengan keluarga dan juga para tetangganya tatkala sholat maghrib dan isya secara berjama’ah pula. Dengan kegiatan seperti ini, menjadikan kaum muslimin akan saling mengenal satu sama lain. Melalui masjid, kaum muslimin disatukan. Antar tetangga tidak akan mungkin tidak saling mengenal. Melalui sholat berjama’ah di masjid, kaum muslimin masing-masing akan menjadi saling mengenal, memahami, menghormati, menyayangi dan bahkan juga saling tolong menolong. Inilah salah satu gambaran yang amat indah dan mulia dari bangunan masyarakat muslim yang hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Oleh karena itu, jika benar kita menghendaki tatanan kehidupan yang indah, rukun, bersatu, saling hormat menghormati dan tolong menolong, maka pintu yang harus dilalui adalah lewat memakmurkan masjid. Rasulullah juga demikian, dalam membangun Madinah, di antaranya memulai dengan membangun masjid. Aktif mendatangi tempat ibadah adalah merupakan cara sederhana dan mudah untuk memperkaya rohani. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Rekomendasi Artikel: