Sosial

Sosial

Pantas dan Patut


Selain atas dasar timbangan halal dan haram, kaum muslimin biasanya juga menggunakan ukuran lain, misalnya patut tidak patut, atau pantas tidak pantas. Orang dalam memilih sesuatu, kalau memang masih bisa memilih, akan memilihnya yang pantas atau patut. Kepatutan atau kepantasan sesuangguhnya bersifat relatif. Ukuran itu tidak ada pedomannya. Tidak atas dasar peraturan, undang-undang atau hukum positif lainnya. Biasanya ukuran itu lebihdidasarkan pada suara hati atau perasaan. Patut atau tidak patut, dan pantas atau tidak pantas, diukur dari kebiasaan saja. Tetapi sekalipun tidak ada standar yang dipedomani, orang biasanya memahaminya dengan baik. Persoalan patut dan tidak patut, atau pantas dan tidak pantas, kadang dianggap sesuatu yang sensitif. Atas dasar alasan itu, seseorang kadang lebih hati-hati terhadap ukuran yang berdasar atas perasaan ini. Soal patut dan pantas ini, masing-masing orang ternyata dibedakan atas dasar strata sosialnya, sehingga setiap memiliki ukuran yang berbeda. Orang yang sudah lanjut usia dianggap tidak pantas misalnya, jika memilih pakaian yang hanya cocok dikenakan bagi anak muda, dan begitu juga sebaliknya. Ukuran pantas dan tidak pantas tidak saja terkait dengan pakian, bahkan juga terkait dengan hal sepele, misalnya pemenpatan tempat duduk. Sebatas tempat duduk, ternyata memiliki makna tersendiri dalam kehidupan sosial. Seorang pejabat tidak boleh dipersilahkan duduk di tempat yang kurang semestinya. Begitu juga sebaliknya, rakyat biasa tidak boleh keliru menempati tempatnya para sesepuh atau para pejabat. Jika terjadi Kekeliruan seperti itu, maka akan dikatakan tidak pantas atau tidak patut. Hal lain, sampai pada pemilihan pasangan suami isteri, juga menggunakan standar pantas dan tidak pantas. Orang yang sudah tua, yang terlambat nikah misalnya, tatkala kemudian mengakhiri masa lajangnya lalu beruntung mendapatkan isteri yang sangat muda lagi sangat cantik, padahal laki-laki tua itu tidak tampan, maka orang juga akan mengatakan, tidak patut atau tidak pantas. Rupanya masyarakat menuntut kepantasan, kepatutan dan bahkan juga keserasian. Soal patut dan tidak patut, atau pantas dan tidak pantas, jika itu dilanggar maka tidak akan ada sanksi hukumnya. Hukuman itu kalau ada berupa sangsi sosial, misalnya kemudian jadi bahan ejekan atau tertawaan. Hukuman itu misalnya, menjadikan orang tidak mempercayainya lagi, karena telah melakukan sesuatu yang tidak pantas atau patut . Jika sesuatu yang dianggap tidak pantas itu terjadi, pada awalnya memang direspon negatif, dan akan menjadi buah bibir di mana-mana. Akan tetapi, lama kelamaan orang juga bosan sendiri memperbincangkan itu. Lama kelamaan akan hilang sendirinya. Namun biasanya akanmenjadi catatan tersendiri. Catatan yang dimaksudkan, bukan sebagaimana biasa ditulis di atas kertas atau di buku harian. Catatan itu akan ditulis dalam hati masing-masing orang yang menyaksikannya. Dalam kehidupan sosial, rupanya memang masyarakat menghendaki bahwa sesuatu itu berjalan sesuai dengan adat istiadat, kebiasaan, kesepakatan-kesepakatan, kepantasan, kepatutan, dan bahkan juga hal yang terjadi dapat dirasionalkan. Mendapatkan kekayaan adalah harapan semua orang. Tetapi jika harta kekayaan itu didapat dengan cara yang tidak rasional, maka akan justru menjadi bahan ejean, kecurigaan, tertawaan dan bahkan akan menghilanghkan kepercayaan. Padahal kepercayaan itu sesungguhnya harganya sangat mahal. Kepercayaan itu tidak bisa dibeli di mana, kapan pun dan oleh siapapun. Sanksi bagi yang melanggar kepatutan atau kepantasan sekalipun tidak tertulis, bisa jadi terasa sangat berat, tentu bagi mereka yang menyadari. Oleh karena itu semua orang menghendaki agar hal-hal yang tidak patut dan tidak pantas, sebisa-bisa dihindari saja. Kepantasan atau kepatutan tidak saja mengikuti persasaan yang bersifat subyektif, kadang juga didasarkan pada logika atau hitungan matematis. Seseorang yang tidak pernah dikenal sebagai pemimpin di masyarakat, kemudian mendadak ikut menjadi pengurus partai politik, lalu secara mendadak namanya tercantum sebagai calon legislatif, maka menjadikan banyak orang kaget dan kemudian mengangapnya tidak semestinya atau tidak pantas. Seseorang yang sehari-hari pekerjaannya penjual minyak gas eceran yang tidak seberapa besarnya, kemudian tiba-tiba namanya tercantum dalam daftar calon legislatif, maka ia akan menjadi bahan pembicaraan tetangga, dan juga bahan ejekan dan bahkan tertawaan sampai pada penghinaan. Padahal sikap-sikap menghina dan menertawakan itu sesungguhnya juga tidak sepatutnya dilakukan. Soal patut dan tidak patut ini kadang juga menyangkut soal penampilan. Seringkali jika lagi membawa mobil dan mendapatkan tentara yang biasa mencari nunutan di pintu tol, saya selalu dengan senang hati mengajaknya. Dalam kesempatan itu saya manfaatkan berbincang-bincang sambil membuang waktu dan sebatas mempererat silaturrahmi. Saya pernah mendapatkan keluhan dari mereka. Tentara yang berpangkat rendahan, menurut pengakuannya serba susah. Jika tetap miskin oleh atasannya dibilang bodoh, tetapi jika kemudian menjadi kaya, maka akan segera dicurigai, darimana kekayaan itu. Jangan-jangan diperoleh dari hasil merampok. Kata tentara tadi, pilihan hidupnya serba susah. Disamping harus mengikuti disiplin tentara, maka juga harus menjaga kepaptutan atau kepantasan ini. Tidak saja di dunia tentara, di lingkungan pegawai negeri sipil pun sesungguhnya juga begitu. Pegawai negeri sipil selalu mendapatkan penghasilan standar, sesuai dengan tingkatannya. Jika ada perbedaan-perbedaan kecil, misalnya yang satu telah memiliki sepeda motor baru, sedangkan yang lainnya memiliki motor lama dirasa tidak mengapa. Akan tetapi, jika pangkat atau golongannya sama dan juga sama-sama tidak memiliki penghasilan lain selain berstatus sebagai pegawai negeri, lantas keduanya berbeda secara menyolok,----bisa beli rumah mewah misalnya, maka ia juga akan dicurigai. Kekayaan mencolok yang didapat secara tiba-tiba itu, jika tidak ada keterangan yang jelas dan masuk di akal maka akan dianggap tidak patut atau tidak pantas. Sehingga pantas dan tidak pantas, patut dan tidak patut tidak hanya didasarkan atas perasaan, melainkan sekali lagi juga didasarkan atas kalkulasi, logika maupun mamematika yang bisa diterima oleh akal. Akibat selanjutnya, harta yang disukai oleh semua orang, ternyata hanya menjadi sumber fitnah, karena itu sebisa-bisa seharusnya dihindari. Memperhatikan itu semua memang ternyata hidup ini tidak mudah. Hidup ini tidak saja dirasakan oleh yang bersangkutan, melainkan juga akan dilihat oleh orang lain, yaitu teman, tetangga, kolega dan bahkan juga para pesaing atau para kompetitor. Mereka semua menuntut pemandangan yang baik dan indah, yaitu pemandangan yang dikatakan patut atau pantas itu. Manusia dalam kehidupan sosial di mana dan kapan pun dituntut menampilkan hal yang dianggap baik, patut dan pantas. Tampilan indah dan mulia itu ternyata bukan terletak pada harta yang dimiliki, melain kan pada amal sholeh dan akhlakul karimah. Dalam ajaran Islam, siapapun yang beramal sholeh, tidak saja akan dilihat oleh Tuhan tetapi juga akan dilihat oleh manusia. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi seorang muslim yang baik, maka kuncinya adalah harus mampu menampilkan sesuatu yang pantas dan patut itu. Sedangkan yang tahu bahwa, apakah penampilan itu patut dan pantas, ternyata selalu memelukan alat, yaitu cermin atau teman. Maka, dalam hidup ini ternyata kita selalu memerlukan cermin, dan atau teman untuk ditanya, pantas atau tidak apa yang kita lakukan selama ini. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang