Sosial

Pemain Biola Cilik, Dukun Cilik dan Pikiran Cilik

Saya sendiri tidak begitu akrap dengan berbagai jenis seni. Saya bisa menikmati jenis kesenian itu, tetapi tidak sampai mampu menilai kualitasnya. Saya tahu bahwa permainan biola itu bagus, dari komentar banyak orang yang hadir. Sejak kecil, saya tidak pernah berlatih kesenian, kecuali menabuh bedug di masjid sebagai tanda telah masuk waktu sholat, atau menjelang makan sahur untuk membangunkan warga sekitar masjid. Ketika saya masih kanak-kanak tinggal di desa, bedug menjadi sangat penting, karena tidak sedikit orang desa yang belum memiliki arloji, atau radio, apalagi televisi. Karena dianggap aneh, pemain biola cilik tersebut menarik perhatian seluruh undangan. Baru-baru ini ada fenomena lain terkait dengan anak cilik, yaitu siapa lagi kalau bukan Mohammad Ponari, dukun cilik dari Jombang. Tidak sebagaimana pemain biola cilik di resepsi pernikahan tersebut, praktek perdukunan Ponari dengan berbagai pertimbangan, dihentikan oleh pemerintah setempat termasuk juga pihak kepolisian. Kebijakan pemberhentian itu apakah semata-mata karena terlalu banyaknya pengunjung sehingga sulit mengaturnya, apalagi tidak tersedia dana untuk itu, ataukah karena pertimbangan lain. Jika larangan itu atas pertimbangan lain, misalnya takut masyarakat terperosok pada perilaku syirik, bukankah sesungguhnya soal perdukunan itu adalah hal biasa, dan bahkan juga dilakukan oleh pemuka agama sekalipun. Dulu pada sekitar tahun 1965, tatkala terjadi pemberontakan PKI atau G 30 S PKI, secara mendadak tidak sedikit para kyai membuka layanan kekebalan. Banyak orang datang ke rumah kyai meminta untuk diberi asma’ dan sekaligus senjata. Senjata yang diberikan oleh kyai bukan meriam, bom atau senapan, tetapi cukup sebatang penjalin. Kenapa kyai memberi senjata berupa penjalin, jawabnya mudah. Yaitu yang dimiliki oleh kyai hanyalah penjalin itu. Tokoh agama tidak pernah punya senjata modern. Saya ketika itu masih berumur belasan tahun, duduk sebagai siswa SMP. Terus terang saya juga ikut-ikutan diberi asma’. Badan saya ditulisi dengan huruf Arab, yang saya tidak bisa membacanya. Setelah itu dicoba dengan cara dibacok dengan pedang oleh kyai, ternyata tidak terasa sakit dan juga tidak mempan. Saya masih ingat, beribu-ribu orang antri dari pagi hingga sore, meminta diberi asma’ agar kebal. Selain, menulisi bagian punggung setiap orang yang minta asma’, kyai juga memberikan senjata berupa penjalin dan tamper yang terbuat dari benang. Apa yang dilakukan oleh kyai ketika itu tidak pernah dikritik dan tidak ada orang yang berani melarang. Bahkan semua anak muda, dari manapun afiliasi keagamaannya, setidak-tidaknya di kampung saya semua ikut. Mereka yang masuk kelompok tradisional, modernis dan atau tidak tradisional dan tidak modernis ikut semua ke kyai meminta diberi kekebalan. Ketika itu tidak ada yang berkomentar bahwa cara-cara itu adalah hanya layak dilakukan orang kecil, miskin, kurang berpendidikan, apalagi menyalahkan pemerintah karena tidak mampu mensenjatai rakyat dan seteriusnya. Sepertinya semua orang ketika itu sepakat dan membenarkan cara-cara yang ditempuh oleh para kyai. Tidak pernah ada kritik, atau mungkin juga tidak berani, ketika itu mengkritik kyai yang memiliki kelebihan itu. Fenomena cilik lainnya, bukan berupa anak cilik lagi, melainkan dalam bentuk statemen orang besar yang berbobot cilik. Muncullah akhir-akhir ini beberapa pihak, mengklaim keberhasilannya masing-masing. Misalnya swasembada pangan berhasil adalah karena prestasi partai tertentu. Demikian pula penurunan BBM adalah prestasi partai politik lainnya. Pelayanan kesehatan Karena kecanggihan menterinya dan seterusnya. Fenomena seperti ini tidak sedikit orang kemudian berkomentar dan dibarengi rasa prihatin, kenapa statemen yang hanya pantas disampaikan oleh anak cilik, dari waktu ke waktu, muncul justru dari kalangan elite bangsa ini. Munculnya pemain biola cilik, dukun cilik dan mungkin apalagi lainnya, adalah menarik. Setidaknya, dengan fenomena itu masyarakat akan melihat sesuatu yang tidak biasa atau tidak lazim. Melihat sesuatu yang mungkin dianggap aneh itu, lalu masyarakat saling berpikir dan berdiskusi panjang. Suasana seperti itu betapapun menjadi perlu untuk menghidupkan potensi atau kekayaan intelektual, yang mungkin tidak terlalu digunakan jika tidak muncul hal yang aneh itu. Selanjutnya hal yang agaknya justru perlu diprihatinkan adalah jika selalu muncul di tengah-tengah elite masyarakat pikiran cilik. Mestinya dalam membangun bangsa yang besar, yang masih memiliki tantangan sedemikian banyak, persoalan-persoalan yang rumit, dan besar, seperti angka kemiskinan semakin bertambah, pelayanan pendidikan dan kesehatan yang perlu ditingkatkan, apalagi lingkungan yang menuntut segera perbaikan, semua itu memerlukan pikiran-pikiran besar. Dalam suasana seperti itu seharusnya berbagai kekuatan disatu-padukan. Mestinya semua pihak menyadari, bahwa tidak mungkin sebuah prestasi besar bisa diraih sendiri. Prerstasi besar, apalagi terkait dengan penyelesaian persoalan bangsa, selalu melibatkan banyak pihak dari berbagai jenis dan levelnya. Oleh karena itu, bolehlah di negeri ini muncul berbagai fenomena cilik, seperti pemain biola cilik, dukun cilik, pemain catur cilik, dan lain-lain yang serba cilik, tetapi janganlah sekali-sekali muncul pikiran-pikiran cilik, apalagi terkait pekerjaan besar mengurus negeri ini. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Go to top