Jasa Pembuatan Web Malang

Sosial

Suara Orang Kecil

Ada beberapa hal yang menarik dari pembicaraan dengan sopir taksi. Di antaranya, ia mengatakan bahwa sekarang ini telah memasuki zaman di mana orang kecil lagi bertepuk tangan, gembira. Kegembiraan itu bukan karena merasakan kemakmuran, mudah mencari rizki, anak-anak mereka bisa sekolah sampai perguruan tinggi, tetapi menurut pengakuannya, sedang menyaksikan orang-orang besar ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Fenomena itu melegakan orang kecil. Orang kecil yang selama ini dianggap salah dan tidak mengikuti zaman, mengganggu hasil hitungan kemajuan yang dicapai oleh pembangunan, ternyata rahasia alam sudah terungkap. Bukan orang kecil saja yang salah, tetapi orang besar pun juga nyata-nyata membuat andil kerusakan. Rahasia yang selama ini, kata sopir taksi tersebut, bahwa seolah-olah orang besar selalu benar, pintar dan mengikuti zaman, ternyata tidak begitu. Sekarang zaman sudah terbuka, rahasia sudah terungkap, bahwa semua orang berpontensi salah dan sesungguhnya juga bodoh. Dulu, kata sopir taksi hanya para pencuri ayam, pencopet, penjambret yang masuk penjara. Berbeda dengan sekarang, tampak aneh justru orang-orang besar yang masuk penjara. Seperti bergantian saja dengan orang kecil. Sebaliknya orang kecil merasa aman. Justru orang besar yang kini hidupnya khawatir, takut terbongkar rahasianya dan kemudian masuk penjara. Lebih dari itu orang kecil saat ini menjadi rebutan. Suara mereka dibutuhkan oleh orang-orang besar agar tetap menjadi pemimpin. Untuk menjadi pejabat lagi, mereka harus mengeluarkan uangnya. Jika tidak berhasil, mereka akan menjadi miskin. Dan jika pun juga berhasil, kalau tidak hati-hati hanya akan mengantarkannya ke pintu penjara. Sopir taksi juga menyorot soal reformasi. Bahwa reformasi yang dimaksudkan akan memakmurkan orang kecil, ternyata sejak sepuluh tahun terakhir belum ada buktinya. Orang kecil hidupnya bertambah susah. Sembako dan kebutuhan sehari-hari semakin mahal. Dia mengatakan bahwa orang kecil sesungguhnya tidak berlebih-lebihan, misalnya ingin agar punya rumah besar, kendaraan, tabungan banyak, dan tanah luas. Yang diperlukan oleh mereka sederhana saja, yaitu agar kehidupan mereka tetap berlangsung dengan mudah. Mereka sudah senang jika setiap hari bisa membeli beras, sayur dan lauk pauk secukupnya, dan sekali-kali bisa membeli pakaian untuk isteri dan anaknya dengan harga murah atau terjangkau, serta memiliki tempat untuk berteduh. Mereka tidak ingin berlebih-lebihan, menjadi kaya. Tokh kekayaan, menurut pandangan mereka tidak akan dibawa sampai mati, katanya. Hal menarik lainnya, adalah pernyataan sopir taksi. Ia sering mendengar pernyataan bahwa orang kecil perlu diberdayakan dan diselamatkan hidupnya. Pernyataan itu dianggap aneh oleh sopir taksi. Sebab menurutnya, yang justru perlu dikasihani adalah orang-orang besar. Orang besar memang berpendidikan tinggi, tetapi tidak sedikit dari mereka yang ilmunya hanya digunakan untuk mengejar dan menumpuk harta, dan sesungguhnya belum tentu dimanfaatkannya. Dengan ilmunya itu, mereka belum kelihatan pintar, terbukti sampai masuk penjara, mengambil uang rakyat. Atas penglihatannya itu, sopir taksi berpendapat bahwa semestinya justru orang pintar dan kaya yang harus selalu mendapatkan peringatan. Bahaya yang timbul dari orang miskin atau orang kecil, tidak sedahsyat bilamana dibandingkan dengan bahaya yang ditimbulkan oleh orang pintar lagi kaya yang menempuh jalan tidak benar. Berbincang dengan orang yang mengaku sebagai orang kecil, semacam sopir taksi ini kadang memang menarik. Dengan berbincang-bincang secara langsung seperti ini, kita akan mendapatkan pengetahuan tentang aneka kehidupan yang sesungguhnya. Belajar dari fenomena ini, kita mendapatkan pengetahuan bahwa kehidupan ini tidak sederhana. Tidak semua orang kecil itu sederhana, terbatas informasinya, tidak cerdas dan tidak berdaya. Dari mereka, kita sesungguhnya bisa belajar banyak hal. Mereka juga tidak sedikit yang kaya informasi dan bahkan juga lebih arif dalam hidupnya. Islam, melalui Nabi Muhammad mengajarkan, bahwa jangan melihat siapa yang lagi berbicara tetapi lihatlah apa yang dibicarakan. Atas dasar itu, kita semestinya juga mendengarkan dan belajar dari orang yang mengaku sebagai orang kecil, semisal sopir taksi ini. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Add comment


Go to top