Sosial

Berguru Ke Makasar

Kota Ujung Pandang yang sekarang lebih dikenal dengan nama Makasar, ketika itu terasa jauh. Nama Universitas Hasanuddin, bagi saya saat itu masih terasa asing. Hanya didorong oleh niat belajar dan keinginan maju, saya meninggalkan keluarga berangkat ke kota itu. Saya masih ingat, ketika membeli tiket pesawat terbang dan berangkat ke airport Surabaya, terasa seolah-olah saya akan pergi jauh. Saat itu, semua terasa serba baru, tidak terkecuali ketika memasuki ruang tunggu naik pesawat. Mungkin, jika ada orang yang memperhatikan, kira-kira ketika itu saya tampak lucu, bingung dalam segala halnya. Sesampainya di Makasar, ketika itu sudah sore. Saya langsung ke Universitas Hasanuddin. Suasana kampus sudah sepi, hanya ada beberapa orang saja, mungkin penjaga kampus. Setelah turun dari taksi, saya menghampiri salah seorang yang kebetulan keluar dari ruang kantor kampus itu. Saya bertanya kepada orang tersebut, tentang tempat penerimaan peserta Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Tidak banyak bicara, orang tersebut mengajak saya ke sebuah mobil yang sedang diparkir, dan mengangkatkan koper saya ke bagasi mobilnya. Dia kemudikan sendiri mobil itu dan saya bersamanya diajak ke rumah, di kawasan Baraya. Sesampainya di rumah, saya dipersilahkan masuk, sebagaimana penerimaan tamu pada umumnya. Kemudian, saya disuruh masuk kamar depan, istirahat dan segera mandi. Tidak lama kemudian, datanglah seseorang, yang rupanya sudah ditilpun terlebih dahulu. Orang tersebut kemudian saya kenal bernama Pak Farid. Saya sedemikian kaget, tatkala Pak Farid, selalu menyebut pemilik rumah tersebut, dengan sebutan Prof. Setelah saya tanya, sang pemilik rumah, yakni orang yang baru saja membawa saya dari kampus, yang mengemudikan sendiri mobilnya, mengangkatkan koper ke bagasi dan membawanya saya ke rumah, ternyata ia adalah Direktur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial, yaitu Prof.Dr.Hasan Walinono. Ketika itu saya benar-benar merasa kaget dan terharu. Selama itu, saya gambarkan bahwa seorang profesor adalah sudah tua, tidak selayaknya mengemudikan mobilnya sendiri, tugasnya menyuruh-nyuruh orang lain, apalagi harus menyopir segala, pikir saya tidak mungkin. Ketika itu, pelajaran yang sangat berharga benar-benar telah saya dapatkan. Dari pengalaman itu saya belajar, bahwa seorang profesor tidak harus menjaga jarak, termasuk dengan murid-muridnya. Beliau sebagai seorang Guru Besar, memberikan pelajaran yang sangat baik, bagaimana menerima tamu, sekalipun tamu itu sesungguhnya adalah calon mahasiswanya sendiri. Seorang profesor masih berkenan mengangkat koper milik tamunya, mengemudikan sendiri mobilnya. Semua itu adalah pemandangan yang belum pernah saya bayangkan akan terjadi sebelumnya. Setelah beberapa saat kemudian, Prof.Dr.Hasan Walinono, pemilik rumah dan sekaligus juga ternyata sebagai Direktur Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, menugasi Pak Farid mengantarkan saya ke asrama. Selama sebelas bulan kemudian saya bertempat tinggal di sana, bersama teman-teman peserta latihan lainnya. Pengalaman yang sudah sekian lama itu tidak pernah saya lupakan. Sebelum pelatihan dimulai, saya merasakan, telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana seorang Guru Besar menerima tamu, menghormati dan membantu orang yang seharusnya mendapatkan pertolongan. Pelajaran lain yang saya dapatkan ketika itu, bahwa tatkala seseorang telah lulus Doktor (S3) dan juga bahkan mendapatkan gelar Guru Besar, seharusnya mampu menata hati, lebih tawadhu’ dan merendah. Seperti tampak dalam cerita tersebut di muka, seseorang ketika sudah lulus pendidikan tinggi, ternyata seharusnya menjadi semakin tinggi karakternya, yaitu memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak keluasan ilmu, dan profesional. Pelajaran yang sangat indah inilah yang saya dapatkan pertama kali, tatkala berguru ke Makasar. Sebagai seorang murid, selayaknyalah selalu berdo’a untuk guru, semoga Prof. Hasan dan para pengajar lainnya dikaruniai ilmu yang bermanfaat dan selalu mendapatkan limpahan berkah, serta kasih sayang secara sempurna dari Allah swt.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Go to top