Sosial

Sosial

Membayangkan Kematian

Kita juga melihat orang-orang dengan berbagai macam bentuk dan perilakunya. Di antara mereka ada yang memiliki sesuatu dan sekaligus menikmatinya. Sebagian lain memiliki tetapi tidak pernah menikmati. Tetapi ada juga orang yang tidak memiliki tetapi menikmati. Misalnya, para penjaga vila milik orang kaya. Ia tidak ikut memiliki, tetapi sehari-hari menikmati, sedangkan pemiliknya sendiri, entah di mana, dia tidak pernah menikmatinya. Manusia dalam hidupnya selalu mencari kepuasan. Ada di antara mereka yang mengejar kepuasan itu dengan cara ngumpulkan harta. Jika berhasil mendapatkan harta banyak ia mengira akan puas. Tetapi ternyata, seberapapun harta yang berhasil didapat, kepuasan itu tidak diperoleh. Semakin berhasil mengumpulkan banyak harta, semakin merasa kekurangan. Karena ternyata, ia masih melihat ada saja orang lain yang berhasil melebihinya. Melihat dirinya masih belum menang, ia ingin menambahnya, dengan berbagai strategi yang ditempuh. Mungkin orang seperti ini lupa, bahwa hartanya sudah tidak akan habis digunakan untuk keperluan apa saja sekalipun sampai ia mati, dan sedangkan kapan datangnya kematian itu, ia juga tidak akan tahu. Ada juga orang yang mengira bahwa akan merasa puas hidupnya jika telah berkuasa. Karena itu mereka kejar kekuasaan itu dengan cara apapun, termasuk mengorbankan teman, saudara dan bahkan juga anggota keluarganya sendiri. Kekuasaan diperebutkan dan juga dipertahankan. Menjelang pemilihan umum seperti saat-saat ini, fenomena bagaimana orang mengejar kekuasaan tampak sekali. Agar berhasil menang, mereka berusaha memperkenalkan diri dengan berbagai cara. Dengan dikenal mereka berharap agar dipilih dan ditunjuk sebagai pemimpin. Berapapun biaya yang harus dikeluarkan, tidak masalah. Akan dibayar, asal masih tersedia dana yang ada padanya. Bahkan jika habis, kalau mungkin, pinjam dulu. Akhirnya, mencari kepuasan melalui kekuasaan, tak ubahnya seperti judi. Dalam berkompetisi tidak saja kalah atau menang, melainkan juga untung atau rugi. Yang kalah, tentu, tidak saja menderita kekalahan bersaing, tetapi sekaligus juga kehilangan apa saja yang selama ini dimiliki. Usaha keras yang dilakukan untuk mendapatkan kelebihan itu, tentu didasari oleh pemahaman dan keyakinannya. Mereka menganggap dengan harta atau kekuasaan tersebut, akan mendapatkan kepuasan hidup. Selanjutnya dengan keberhasilan mengumpulkan harta dan kekuasaan itu mereka akan mendapat penghargaan masyarakat. Memang penghargaan, prestise, kehormatan itu semua biasanya diberikan kepada orang kaya dan orang berkuasa atau keduanya. Pertanyaannya, apa selalu begitu. Jawabnya, tentu tidak. Ada orang kaya dan juga atau berkuasa, ternyata tidak mendapatkan penghormatan apa-apa, atau masyarakat tidak heran atas keberhasilannya itu. Ya, dianggap biasa-biasa saja. Islam sesungguhnya tidak melarang orang mencari rizki sebanyak-banyaknya dan juga mendapatkan kekuasaan. Namun, sepanjang rizki dan kekuasaan itu didapat dengan cara-cara yang halal dan selanjutnya dimanfaatkan secara benar pula. Mencari rizki harus ditempuh dengan cara yang halal dan tidak merugikan siapapun. Begitu pula, kaum muslimin boleh-boleh saja berkuasa, asal didapat dan dijalankan kekuasaan itu secara jujur dan adil. Lagi pula, kekuasaan itu tidak perlu dikejar-kejar. Kekuasaan adalah amanah. Sedangkan amanah tidak selayaknya dicari-cari. Namun jika amanah itu diberikan, maka juga tidak selayaknya ditolak. Nafsu manusia selalu ingin berdekatan dengan harta dan juga kekuasaan. Manusia sangat sulit dan merasa susah jika ditinggal oleh kedua hal itu. Padahal kenikmatan hidup itu baru akan diraih manakala manusia dekat dengan Dzat Yang Maha Mulia, Yang Maha Ada, yaitu Allah swt. Namun pada kenyataannya, manusia justru lebih suka mengejar harta dan kuasa daripada berusaha mendekat pada Dzat Yang Mulia itu. Manusa jika mau sedikit saja membayangkan dan sadar akan datangnya kematian, maka mereka itu pada hakekatnya adalah sedang dalam perjalanan, atau sedang bermusyafir -----tidak menuju ke harta dan juga ke kekuasaan, menuju kepada Allah swt. Bekal menuju Allah adalah imam, amal sholeh dan akhlakul karimah. Kita boleh-boleh saja berhasil mendapatkan harta dan kekuasaan, tetapi dengan selalu membayangkan kematian, diharapkan kekayaan itu seharusnya diposisikan sebagai bekal menuju kepada Nya. Allahu a’lam. (Inna lillahi wa inna ilaihi roijiun, pagi ini Kamis, 19 Maret 2009, Ayah Mertua, ( H.Hadiman Sholeh) wafat, dipanggil oleh Nya. Mohon doanya, agar diampuni dosanya dan dibalas amal sholehnya)

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Rekomendasi Artikel: