Sosial

Caleg Desa

Tatkala hadir takziyah di desa itu, saya bertemu dengan banyak saudara, teman, dan kenalan lama. Beberapa di antaranya sudah sekian lama tidak saling berkomunikasi. Sekalipun berada pada suasana duka, tetapi silaturrahmi seperti itu ternyata juga memperoleh hiburan tersendiri. Bertemu dengan orang-orang yang tidak terbayangkan sebelumnya, merupakan hiburan tersendiri. Sedikitnya ada dua hal yang saya rasakan sangat menarik bertemu dengan orang-orang desa. Pertama, sebagian orang desa sudah banyak berubah, tidak sedikit yang sangat kaya informasi. Dulu ketika saya masih usia kanak-kanak dan tinggal di desa, selalu heran jika ada seseorang datang dari kota. Mereka terkesan modern, mengerti banyak hal, dan lebih kaya informasi. Sekarang gambaran itu sudah berubah, tidak begitu lagi. Orang desa sudah banyak yang berpengalaman kerja di luar negeri. Mereka bisa bercerita tentang kota-kota di negara-negara yang pernah disinggahi. Memang pekerjaan mereka di luar negeri umumnya hanya sebagai pekerja kasar, seperti pegawai pabrik, sopir, pembantu rumah tangga dan sejenisnya. Tetapi ternyata, mereka kemudian oleh masyarakat dijadikan sumber informasi. Mereka menjadi orang yang dianggap sukses dan memiliki informasi baru dan penting. Dulu, sumber informasi di desa adalah guru atau PNS lainnya. Mereka itu berpendidikan lebih tinggi, sehingga dijadikan tempat bertanya dan dihormati. Tetapi sekarang, dengan hadirnya TKI, peran guru dan PNS di desa semakin berkurang. Para TKI lebih kaya informasi daripada guru atau PNS yang mobilitasnya rendah. Bahkan guru atau PNS, juga hanya menjadi pendengar. Pekerja luar negeri ----sekalipun sebatas sebagai sopir, pekerja pabrik, atau sejenisnya, beberapa di antaranya lebih dianggap elite di desa. Pegawai atau bahkan juga dosen, tidak selalu dikagumi oleh orang desa kalau belum bisa bercerita tentang luar negeri. Orang desa yang berhasil menjadi dosen, dulu dipandang hebat. Sekarang, penghormatan itu bergeser. Sekalipun sudah menjadi dosen masih belum dianggap sehebat orang-orang yang berpengalaman ke luar negeri. Pekerja luar negeri, disamping dianggap kaya uang juga kaya informasi. Karena itulah mereka lebih dihormati. Kedua, hal baru dan menarik lainnya di desa adalah soal caleg. Orang desa juga tidak ketinggalan berbicara tentang Calon Legislatif. Istilah nyaleg adalah sangat popular di desa. Orang desa sangat biasa bertanya, apakah si A ikut nyaleg. Pertanyaan lanjutannya, sudah habis uang berapa dan seterusnya. Perbincangan tentang caleg ini selalu dikaitkan dengan besarnya dana yang sudah dikeluarkan. Sehingga, rasanya memang aneh, hal penting itu belum dikaitkan dengan ketokohan, atau hal yang akan diperjuangkan dan dibela untuk masyarakat, tetapi hanya sebatas terkait dengan besarnya uang yang harus dikeluarkan. Perbincangan tentang caleg hanya menyangkut seputar besarnya biaya memasang spanduk, foto-foto yang harus dipasang di berbagai tempat, pembagian kerudung atau kaos oleh para caleg di forum-forum tahlilan, diba’an, yasinan dan seterusnya, dengan maksud agar dipilih. Pengaruh mempengaruhi melalui transaksi yang bersifat praktis dan prakmatis ini rupanya sudah menjadi hal biasa di desa. Selain itu, sangat jelas dan mudah ditangkap bahwa menjadi caleg bukan lagi dimaksudkan agar bisa berjuang untuk menyuarakan aspirasi rakyat, melainkan agar mendapatkan pekerjaan dengan gaji atau imbalan yang cukup. Para calon pun berkalkulasi, berani mengeluarkan uang sekian besar, agar kelak mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi. Cara berpikir dan perilaku caleg seperti itu, ternyata juga sangat dipahami oleh rakyat sebagai para calon pemilih. Karena itu rakyat di desa pun juga ikut-ikut berkalkulasi, yakni mau memberi apa, jika seseorang ingin dipilih. Saat sekarang ini di desa pun tidak seperti dulu lagi. Sudah tidak ada sesuatu yang diberikan dengan gratis. Memperhatikan suasana di pedesaan seperti itu, pikiran saya terbawa pada sebuah pertanyaan, akan berujung seperti apa masyarakat dengan demokrasi seperti ini. Demokrasi menjadi sedemikian mahal. Nilai-nilai demokrasi yang sementara ini digandrungi, karena dianggap mampu mengantarkan masyarakat menjadi sejahtera, ternyata belum tampak tanda-tanda hasil yang bisa dilihat. Dengan demokrasi menjadikan orang lebih bebas, memang betul dan sulit dibantah. Tapi, demokrasi disebut sebagai berbiaya mahal, sudah sedemikian mudah dicari buktinya. Berapa banyak caleg desa sudah melepas apa saja yang dimiliki, demi berstatus sebagai anggota dewan. Padahal keinginan mereka itu belum tentu kesampaian. Setelah lewat waktu sekitar 10 tahun, reformasi sudah banyak perubahan yang dirasakan. Perubahan menuju kearah seperti apa nantinya, rupanya tidak mudah dikalkulasi dan diprediksi. Tetapi, apapun yang terjadi, semogalah bangsa ini menjadi lebih baik. Tokh, dengan sifat rahman dan rahiem, bagi Allah, pintu manapun bisa dilalui untuk menjadikan bangsa ini lebih makmur dan sejahtera. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Go to top