Jasa Pembuatan Web Malang

Sosial

Berkhayal

Orang, masyarakat dan bahkanb bangsa yang tidak maju, menurut sementara pendapat, disebabkan oleh karena tidak mampu atau memiliki orang yang pandai berkhayal ini. Orang yang tidak pernah berkhayal tidak akan tumbuh cita-citanya. Mereka menganggap bahwa dunia ini sebenarnya sudah jadi dan telah final. Dunia ini tidak perlu diubah dan juga tidak perlu dikhayalkan agar menjadi bentuk yang lain, yang berbeda dan juga aneh. Karena itu siapapun yang menghendaki kemajuan, dinamika, inovasi, perubahan, maka selalu memerlukukan kemampuan berkhayal atau berimajinasi ini. Al Qur’an dan juga hadits Nabi, jika kita simak secara saksama, memberikan gambaran bahwa betapa penting berkhayal ini. Kaum muslimin melalui kitab suci, diajak berkhayal tentang kehidupan kelak di akherat. Islam mengajak membayangkan tentang kehidupan yang indah, damai, sejahtera, selamat, dan bahkan juga kehidupan nanti di akherat, tentang adanya surga dan juga neraka. Bahwa setelah kehidupan di dunia ini ada lagi kehidupan di akherat, yang jika di dunia ini dijalani secara tepat ----beriman dan beramal sholeh, maka siapapun akan mendapat kehidupan yang lebih baik dari kehidupan sekarang. Sebaliknya, jika seseorang selalu melakukan kemungkaran, tidak beriman dan tidak beramal sholeh, maka kelak akan mendapatkan kehidupan yang amat sengsara, di neraka. Dalam al Qur’an dinggambarkan tentang kehidupan akherat. Di akherat nanti ada surga dan neraka. Kehidupan di surga digambarkan sebagai kehidupan yang sangat menyenangkan. Segalanya serba ada dan tercukupi. Digambarkan bahwa di surga terdapat kebun-kebun yang indah dengan berbagai macam bunga dan buah-buahan yang lezat. Di surga terdapat sungai yang mengalir dan tidak terputus-putus dan kekal. Kehidupan yang serba menyenangkan ini di gambarkan oleh kitab suci dan juga melalui hadits Nabi. Sebaliknya, gambaran tentang neraka yang isinya digambarkan tentang penderitaan yang tidak henti. Kaum muslimin diajak berkhayal dan berimajinasi tentang kehidupan yang jauh, yakni di akherat. Selain itu, ajaran Islam juga memperkenalkan beberapa konsep tentang kehidupan di dunia yang indah dan sempurna. Misalnya, konsep tentang orang baik, orang yang beruntung, orang yang bahagia, orang yang meraih kemenangan hidup, orang yang bertaqwa dan seterusnya. Dalam tataran kehidupan bersama juga disebut-sebut konsep kehidupan yang indah, seperti koryah thoyyibah, ummah, baldah thoyyibah dan lain-lain. Membaca kitab suci tersebut, diperoleh pengertian tentang betapa penting berkhayal itu bagi kehidupan, agar lebih dinamis, inovatif dan maju. Manusia diajak untuk berkhayal tentang kehidupan yang sama sekali belum pernah dibayangkan, apalagi dilihatnya sendiri, yakni kehidupan akherat. Sebagai seorang yang beriman, tentu akan segera membenarkannya. Sebagai seorang muslim, melalui kitab suci diajak untuk berkhayal dan berimajinasi tentang kehidupan masa depan yang jauh itu. Hal itu kiranya bisa dimaknai, betapa pentingnya kemampuan berkhayal dalam kehidupan di manapun, kapanpun dan oleh siapapun. Dan jika kita cermat melihat berbagai pengalaman hidup yang luas, maka memang akan tampak, bahwa kemajuan baik yang dialami oleh pribadi, kelompok masyarakat dan bahkan juga suatu bangsa, diraih oleh mereka yang pandai berkhayal dan berimajinasi ini. Saya membayangkan, jangan-jangan anak-anak yang malas, tidak mau belajar, tidak mau mencoba dan mencoba mencari jalan hidup yang lebih baik, mereka yang meninggalkan studinya dengan mudah, drop out dan mencari pelarian kemana tidak jelas, maka semua itu disebabkan oleh karena, mereka tidak memiliki imajinasi atau berkhayal tentang masa depan. Begitu juga bangsa ini, yang selalu mendapatkan kesulitan mendapatkan jalan keluar dari berbagai belenggu problem kehidupan, dan tidak segera meraih kemajuan secara cepat, maka sesungguhnya hanya disebabkan oleh karena, belum memilikinya pemimpin yang pandai berimajinasi dan berkhayal. Betapapun melimpahnya kekayaan alam yang dimiliki ----tanah daratan yang subur dan luas, beraneka tambang, hutan, lautan dan berbagai sumber kehidupan lainnya, tidak akan memberikan manfaat secara signifikan, disebabkan oleh karena tiadanya kemampuan para pemimpinnya, untuk berkhayal dan berimajinasi itu. Jika demikian, pendidikan seharusnya juga berupaya dengan melalui berbagai cara menumbuh-kembangkan kemampuan berkhayal dan berimajinasi ini. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Add comment


Go to top