Sosial

Sosial

Paling Sulit Mengembangkan Dosen


Lembaga pendidikan modern, tidak seperti itu. Jika mau membangun lembaga pendidikan dan juga perguruan tinggi, selalu yang dianggap penting adalah membangun ruang kelas atau ruang kuliah. Dengan memiliki ruang kuliah, menganggapnya sudah cukup. Kelengkapan lainnya adalah ruang perkantoran. Ruang kantor pimpinan dan tata usaha dianggap penting, karena itu juga dibangun lebih dulu. Setelah itu, ruang perpustakaan dan kalau tersedia dana membangun laboratorium. Lagi-lagi fasilitas untuk guru atau dosen terlewatkan dan bahkan juga terlupakan. Guru atau dosen tidak terpikirkan sedemikian pentingnya. Tanpa guru para murid atau mahasiswa akan belajar kepada siapa mereka itu. Guru biasanya dianggap bisa dicari dari mana saja. Pelamar sebagai calon guru sedemikian banyak, sehingga pimpinan lembaga pendidikan bisa memilihnya. Padahal dalam kenyataan tidak seperti itu. Jika lembaga pendidikan ingin menghasilkan lulusan yang baik, maka juga tidak boleh sembarang guru diperkenankan untuk mengajar. Guru harus dipilih yang unggul, yaitu yang memiliki tingkat keilmuan tinggi, memiliki jiwa guru, menguasai paedagogik, mencintai murid atau mahasiswanya, berwawasan luas, memiliki komitmen dan integritas yang tinggi terhadap lembaga pendidikan yang dikembangkan. Jika dosen dengan syarat-yarat seperti itu yang dicari, maka mendapatkannya sangat tidak mudah. Sebaliknya, jika yang dimaksud adalah sebatas dosen yang hanya datang jika waktunya mengajar, atau mengambil gaji setiap bulan, dan tidak mampu membuat karya ilmiah, jumlahnya memang banyak. Dan jika perguruan tinggi para dosennya kebanyakan seperti itu, maka jangan diharap perguruan tingginya maju dan juga mahasiswanya menjadi berkualitas. Lebih sulit lagi jika dosen yang dicari adalah mereka yang berlatar belakang pendidikan dan berjabatan akademik puncak, misalnya bergelar Professor Doktor, atau setidak-tidaknya Doktor. Memang, agar kampusnya maju dan berwibawa maka para dosennya harus memiliki kelebihan, produk-produk pemikiran dan penelitiannya berkualitas dan karyanya selalu dijadikan reference oleh berbagai perguruan tinggi. Buku dan tulisan-tulisan para dosennya dijadikan bahan bacaan dan bahan diskusi oleh kalangan luas. Dosen seperti ini jarang ditemukan. Tidak bisa didapat dari sembarang tempat. Jika pun perguruan tinggi punya uang dan mau membeli dosen dengan kualifikasi seperti itu, juga tidak akan ditemukan di mana tempatnya, apalagi di Indonesia. Hal itu berbeda dengan faktor pendidikan lain, misalnya bangunan gedung atau alat laboratorium, buku-buku perpustakaan dan sejenisnya. Jika tersedia uang, maka memenuhi kebutuhan itu, tidak terlalu sulit. Membangun gedung, jika telah tersedia uang, maka mudah dilakukan, tinggal memanggil konsultan untuk menggambar dan menugasi kontraktor untuk melaksanakan pembangunan itu. Berbeda ketika memenuhi kebutuhan tenaga dosen, belum ada pihak-pihak yang menyediakan. Kecuali, yang dimaksudkan adalah calon dosen dengan syarat-syarat minimal, di sana sini selalu ada, dan bahkan jumlahnya banyak. Ketika mulai memimpin STAIN Malang, saya juga dihadapkan oleh persoalan ketenagaan ini. Jumlah dosen tetap STAIN Malang ketika itu hanya 43 orang. Mereka itu pada umumnya berlatar belakang pendidikan S1, dan usianya sudah lanjut. Beberapa bulan kemudian berkurang, wafat 7 orang, akhirnya tinggal 36 orang. Dosen tetap sejumlah itu, saat ini ----setelah berjalan 12 tahun, tinggal 14 orang. Selainnya sudah purna tugas dan beberapa lainnya sudah wafat. Oleh karena itu, yang saya prioritaskan adalah menambah jumlah. Yang penting, dalam pengembangan dosen, untuk sementara adalah terpenuhi jumlahnya. Tentang kualitas dikembangkan kemudian. Ada dua jalan yang saya tempuh untuk mengembangkan dosen. Pertama, saya menawarkan kepada para Rektor IAIN dan Ketua STAIN dalam kesempatan pertemuan dinas di Jakarta, jika mereka memiliki dosen yang dianggap kinerjanya kurang bagus, tetapi memiliki latar belakang pendidikan minimal S2 dan syukur kalau S3, saya persialahkan agar dianjurkan pindah ke STAIN Malang. Saya akan menerimanya dengan senang hati. Keterbukaan menerima dosen pindahan itu, mendapat respon yang baik. Tidak sedikit dosen IAIN dan STAIN dari berbagai tempat berpindah ke STAIN Malang. Bahkan pindahan dosen tidak saja dari perguruan tinggi agama, beberapa berasal dari perguruan tinggi umum. Saya berkeyakinan bahwa para dosen yang di tempat asalnya tidak produktif, akan berubah menjadi baik, manakala diperlakukan secara baik. Menurut keyakinan saya, siapapun akan menjadi baik dan produktif manakala diberi peluang dan iklim untuk melakukan kebaikan. Begitu juga sebaliknya. Kedua, cara lain untuk mendapatkan dosen tetap, saya tempuh dengan mengajukan permohonan ke Departemen Agama. Dengan cara agak memaksa kepada Menteri Agama, Sekretaris Jendral dan juga Direktur Jendral, saya meminta tamabahan dosen dalam jumlah yang agak banyak. Pada masa itu, sekitar tahun 2000 an, terkait dengan kepegawaian diberlakukan kebijakan zero growth, atau tidak ada pengangkatan pegawai baru lagi. Dalam keadaan seperti itu, saya berhasil meyakinkan Pimpinan Departemen Agama, dan akhirnya diangkatlah sejumlah 53 calon dosen tetap, khusus untuk STAIN Malang. Alasan yang saya gunakan untuk meyakinkan mereka adalah, bahwa STAIN Malang memiliki program unggulan sebagai cara untuk mengurangi kelemahan Perguruan Tinggi Islam yang telah dirasakan bertahun-tahun -----selamanya, yaitu kelemahan di bidang Bahasa Arab. Rupanya, Pimpinan Departemen Agama tanggap dan mempercayai argumen yang saya ajukan, sehingga usulan tersebut dipenuhi, sekalipun kemudian kebijakan tersebut mengundang rasa iri dari berbagai perguruan tinggi Islam Negeri lainnya. Usaha-uasaha pengembangan secara kuantitatif seperti itu pada setiap tahunnya selalu saya usahakan. Sehingga, pada tahun ini (2009) UIN Malang -----awalnya berstatus STAIN Malang, telah memiliki 283 dosen tetap. Sejumlah dosen tetap tersebut tersebar secara relative merata dan seimbang di natara berbagai program studi yang ada di kampus ini. Bahkan beberapa waktu yang lalu, saya agak terkejut setelah ITB melakukan pendataan terhadap seluruh dosen tetap, khususnya di lingkungan Fakultas Sainstek 6 UIN di seluruh Indonesia. Ternyata UIN Malang dalam hal pengembangan dosen, khususnya untuk dosen sainstek menempati posisi terbaik, disbanding 5 UIN lainnya di Indonesia. Fakultas Sainstek UIN Maulana Malik Ibrahim Malang telah memiliki 73 dosen tetap, yang hal itu belum termasuk beberapa calon dosen tetap yang sedang diproses status kepegawaiannya di Biro Personil Departemen Agama Jakarta. Selain itu, keunggulan lainnya, kebanyakan dosen tetap sainstek tersebut telah berpendidikkan strata dua (S2) dan Doktor (S3), dan juga tidak sedikit di antara mereka sedang menyelesaikan disertasi S3 nya. Pengembangan dosen dari aspek kuantitas, khusus di Departemen Agama agak sulit dilakukan. Tetapi sesungguhnya, jauh lebih sulit lagi dalam mengembangkan dari aspek kualitasnya. Membangun dosen tetap adalah membangun orang. Mereka memiliki watak, karakter, perilaku yang berbeda-beda, sesuai dengan asal atau bakat yang dibawa sejak lahir, lingkungan, tantangan yang dihadapi sehari-hari dan lain-lain. Mereka tidak cukup hanya diperlakukan sebagai pegawai, apalagi sebatas sebagai pekerja biasa. Mereka adalah manusia yang memiliki harapan masa depan, sehari-hari menghadapi berbagai problem kehidupan, baik terkait dengan dirinya dan keluarganya, maupun problem-problem lain. Oleh sebab itu, cara terbaik pendekatan yang dilakukan, mereka harus diperlakukan sebagaimana orang yang memiliki harapan masa depan, cita-cita, aku nya harus diakui pada setiap saat, diperjuangkan, dihargai dan diberi peluang atau ilklim untuk berkembang secara maksimal. Mengembangkan mereka, harus dilakukan, baik secara formal maupun yang non formal. Selama ini pengembangan secara formal, ditempuh melalui cara misalnya, selalu dilayani kenaikan pangkatnya manakala sudah memenuhi syarat, diarahkan dan difasilitasi agar bisa menulis, meneliti dan segera melakukan studi lanjut -----umumnya ke S3. Akhir-akhir ini para dosen UIN Malang hampir semuanya sudah disediakan fasilitas komputer/laptop. Dan tidak kalah pentingnya adalah diberikan tauladan, bagaimana menjadi warga kampus atau dosen tetap yang baik. Secara non formal, Para Pimpinan tingkat universitas, Fakultas dan Jurusan dianjurkan agar memberi kesempatan seluas-luasnya berdialog, berdiskusi dan mencari berbagai alternative untuk meraih kemajuan bersama. Dalam hal menulis misalnya, saya selaku Rektor selalu memberikan contoh, pada setiap pagi selalu menulis dan hasilnya bisa dibaca di Website saya, sebagaimana juga tulisan ini. Kesulitan lain, terkait pengembangan dosen, seperti yang saya kemukakan di muka, adalah bahwa mengembangkan dosen pada hakekatnya adalah mengembangkan kehidupan manusia itu sendiri. Ada kalanya semangat mereka meningkat, tetapi pada saat lain sebaliknya. Tanpa diperhitungkan sebelumnya, kadang etos mereka menurun dan bahkan juga hilang sama sekali. Ada saja di antara mereka yang suka menempuh jalan pintas, atau menerabas, mengulur-ulur waktu dalam menyelesaikan tugas, sehingga pekerjaan yang semestinya bisa diselesaikan tiga tahun, sudah dua kali lipat dari itu, ternyata belum selesai. Semua itu saya sebut sebagai problem kehidupan, tidak terkecuali adalah juga problem kehidupan para dosen di perguruan tinggi. Selain itu, ada di antara mereka yang ternyata juga mengalami kelambatan dalam meraih kedewasaan. Atas dasar kenyataan itu, pimpinan perguruan tinggi, ternyata dihadapkan oleh persoalan-persoalan non akademik seperti itu. Dari pengalaman panjang memimpin perguruan tinggi, saya berkesimpulan bahwa dari berbagai macam pendekatan, ternyata pendekatan Islam secara utuh, yakni memberikan sentuhan-sentuhan emosional spiritual ternyata lebih membawa hasil, daripada sebatas dengan pendekatan formal melalui tata tertib atau peraturan apapun bentuknya. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang