Sosial

Orang-Orang Tulus

Untuk membangun institusi pendidikan, apalagi zaman sekarang ini, selalu memerlukan uang. Apa saja, seolah-olah tidak bisa berjalan jika tidak ada dana. Sehingga orang memposisikan uang sebagai sesuatu yang terpenting dari semua lainnya. Akan tetapi sesungguhnya, menurut pengalaman selama ikut terlibat memimpin lembaga pendidikan yang tidak kurang dari 30 an tahun, saya merasakan, ternyata yang lebih utama dari semua aspek adalah keberadaan orang-orang yang tulus. Orang-orang yang tulus ikhlas, ulet, dedikasi dan integritas tinggi apalagi memiliki semangat berjuang yang diikuti oleh kesediaan berkurban, maka orang-orang itulah sesungguhnya yang keberadaannya jauh lebih penting, melebihi apapun lainnya. Oleh karena itu, saya selalu menganggap bahwa orang-orang tulus merupakan kekayaan lembaga pendidikan yang sebenarnya. Hanya seringkali orang-orang tulus ini tidak selalu beruntung. Orang tulus dan ikhlas ini bagi orang yang ingin mendapatkan keuntungan pribadi dan ingin menyeleweng, di lembaga pendidikan sekalipun, akan dianggap sebagai pengganggu dan bahkan juga musuh. Orang seperti itu dipandang sebagai pengganggu karena tidak mau diajak bekerjasama untuk mencari keuntungan pribadi itu, sehingga jika perlu mereka harus disingkirkan. Tidak sulit kita temukan kasus seperti itu. Karena itu, jangan selalu dikira orang yang tersingkir dari komunitas, selalu yang bersangkutan merugikan lembaga di mana mereka berada, melainkan bahkan justru sebaliknya. Saya sering sekali mendapatkan komentar dari berbagai kalangan, bahwa lembaga pendidikan yang saya pimpin sudah semakin besar dan maju. Mereka setelah saya tanya balik, tentang apa sesungguhnya yang mereka jadikan ukuran hingga menganggapnya besar dan maju itu. Ternyata penilaian itu hanya didasarkan oleh semakin besarnya bangunan kampus, dan semakin banyaknya jumlah mahasiswa serta jumlah anggaran setiap tahunnya semakin meningkat. Saya sesungguhnya menjadi agak kaget atas komentar itu. Mereka menilai kebesaran suatu lembaga pendidikan hanya diukur dari semakin besarnya bangunan serta jumlah anggaran yang tersedia. Sederhana sekali, keberhasilan pendidikan hanya dilihat dari aspek kulit dan bukan substansinya. Semestinya, keberhasilan pendidikan dilihat dari aspek yang lebih mendasar, yakni tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan terkait dengan persoalan guru dan murid. Karena itu semestinya yang dilihat adalah bagaimana kualitas para guru atau dosennya. Mereka itu secara langsung berpengaruh pada murid atau mahasiswanya. Atas penilaian itu saya kemudian selalu menjelaskan bahwa besarnya bangunan kampus memang penting. Sebab dengan besarnya bangunan itu warga kampus menjadi percaya diri dan bahkan melahirkan kebanggaan terhadap institusi itu. Selain itu dengan fasilitas tersebut para dosen dan mahasiswa tidak kesulitan melakukan aktivitasnya. Akan tetapi sesungguhnya bangunan gedung dan fasilitas lainnya itu tidak akan memberi arti banyak bagi pendidikan, jika di sana tidak ada orang-orang yang diperlukan bagi pengembangan pendidikan, yaitu orang-orang yang memiliki keahlian dan kemudian disempurnakan dengan akhlak atau pribadi yang mulia, tulus dan ikhlas. Posisi orang-orang yang tulus bagi saya sedemikian strategis. Merekalah sesungguhnya yang justru saya anggap sebagai kekayaan kampus yang sebenarnya. Tanpa orang-orang tulus ini kampus tidak akan menjadi tumbuh dan berkembang. Saya berpandangan bahwa belum tentu gedung dan kelengkapan fasilitas lainnya yang megah bisa melahirkan orang-orang tulus. Tetapi sebaliknya orang-orang tulus akan mampu membuat gedung-gedung serta apa saja yang diperlukan. Oleh karena itu, sebatas kehilangan uang, mobil kampus, buku-buku perpustakaan ------sekalipun itu juga tidak boleh terjadi, saya tidak begitu gusar. Sebaliknya, jika STAIN/UIN Maulana Malik Ibrahim yang sedang saya pimpin ini kehilangan orang-orang tulus, maka saya anggap sebagai malapetaka. Oleh karena itu, jika suatu ketika, sebagai pimpinan kampus ini, saya ditanya tentang jenis kekayaan kampus ini, maka secara tegas saya akan menjawab bahwa kekayaan lembaga ini yang sesungguhnya adalah berupa orang-orang yang memiliki ketulusan, kecerdasan, kerelaan bekerja keras yang disertai dengan kesediaan berkorban. Orang-orang inilah yang saya anggap sebagai kekayaan dan sekaligus pilar utama kekuatan kampus ini. Mereka tidak boleh hilang dan meninggalkan kampus ini. Seringkali saya mendengar sebuah institusi, -----juga termasuk institusi pendidikan, pimpinannya merasa bangga telah bisa memberhentikan orang-orang yang menurut pandangannya telah melakukan kekeliruan. Kebanggaan seperti itu seperti itu, ----sekalipun yang bersangkutan sudah disebut sebagai tokoh, sesungguhnya menggambarkan bahwa yang bersangkutan belum paham posisi strategis sumber daya manusia yang harganya sangat mahal. Mengurus lembaga pendidikan disamakan olehnya dengan mengurus lembaga politik. Dalam dunia politik, mungkin cara berpikir seperti itu sesuai dengan logika politik. Dalam dunia politik, bisa jadi seseorang dipandang sebagai saingan, competitor dan bahkan musuh. Oleh karena itu, mereka harus selalu diawasi, dan jika perlu dikurangi kekuatannya agar tidak membahayakan dirinya. Berbeda dengan logika politik, adalah logika pendidikan. Lembaga pendidikan hadir adalah untuk memberdayakan siapapun. Lembaga pendidikan sehari-hari tugasnya adalah meningkatkan kualitas orang, mengubah orang lemah menjadi kuat, orang bodoh menjadi pintar, orang jelek jadi baik, orang lembek menjadi kuat, orang yang sempit pikirannya menjadi luas pikiran dan wawasannya, orang miskin agar menjadi kaya dan seterusnya. Oleh sebab itu keberhasilan pendidikan adalah manakala berhasil mengubah siapapun menjadi lebih baik, lebih cerdas, lebih kuat, lebih sejahtera dan seterusnya. Pekerjaan itu tidak mudan dan tidak murah dilakukan. Tetapi itulah tugas lembaga pendidikan yang sebenarnya. Saya merasa beruntung, tatkala mendapatkan tugas memimpin kampus STAIN Malang hingga menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mendapatkan orang-orang yang tulus dan ikhlas itu. Mereka sanggup bekerja keras, tidak pernah menunjukkan sikap kalkulatif, yakni hanya mau bekerja jika diketahui akan mendapatkan honor. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, misalnya menyusun berkas-berkas yang diperlukan untuk segera dikirim ke Jakarta, mereka kerjakan dengan lembur hingga larut malam. Mereka tidak pernah menghitung akan mendapat apa, kecuali berharap agar lembaganya menjadi maju dan berkembang. Mereka bekerjasama, tidak pernah membedakan satu dengan lainnya. Seseorang tidak pernah ditanya dari mana asalnya, melainkan pertanyaan itu lebih banyak berbunyi mau kemana dan akan melakukan apa. Suasana pergaulan seperti ini, tidak diskriminatif atau membeda-bedakan antar sesam, menjadikan iklim kerja selalu menggembirakan. Semangat kerja menjadi terjaga dan akhirnya kemajuan berhasil diraih. Memang ada, beberapa orang yang sama seperti di tempat lain, suka menempatkan diri sebagai penonton atau pengamat dan bahkan juga sebagai komentator. Tetapi mereka yang seperti itu jumlahnya tidak banyak. Dan dari waktu ke waktu, atau lama kelamaan ternyata mereka juga sadar dan berubah, akhirnya ikut menjadi pemain. Selanjutnya, jika direnungkan secara mendalam, akan dihasilkan kesimpulan bahwa memang itulah kehidupan dunia, tidak akan bisa orang yang tidak produktif itu dihilangkan sama sekali. Oleh karena itu, saya kadang juga berpikir, jangan-jangan keberadaan orang-orang seperti itu, jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, sesungguhnya juga bermanfaat, yaitu sebagai kekuatan untuk mendinamisasi gerak organisasi. Maka, sebagaimana kita diperingatkan al Qur’an dengan mengatakan bahwa : rabbana ma kholaqta hadza bathila.. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Go to top