Sosial

Memperkokoh NU Dan Muhammadiyah

Orgamnisasi ini bergerak tanpa sokongan dana dari pemerintah, kecuali saat-saat tertentu saja jika ada perhelatan besar seperti muktamar, mereka meminta sumbangan. Atau ketika mereka membangun tempat ibadah atau madrasah, sebatas sebagai tambahan sekedarnya. Akan tetapi untuk menghidupi lembaga yang didirikan, baik social maupun pendidikan dan kesehatan, mereka membiayai sendiri. Ada atau tidak ada bantuan pemerintah, mereka tetap berjalan. Kita bisa membayangkan berapa besar sumbangan organisasi keagamaan ini dalam ikut membangun bangsa ini. Melalui lembaga pendidikannya saja yang didirikan oleh kedua organisasi ini, telah menghasilkan lulusan yang sulit dibayangkan berapa jumlahnya. Hasil lulusan dari berbagai lembaga pendidikan yang didirikan oleh kedua organisasi keagamaan itu telah mendarma-bhaktikan tenaga dan pikirannya di berbagai tempat, menjadi ulama’, kyai, ilmuwan, politikus, tokoh di berbagai lapisan masyarakat. Demikian juga, sumbangan organisasi keagamaan di bidang kesehatan dalam bentuk rumah sakit, klinik pelayanan kesehatan, tidak pernah terhitung karena besarnya. Belum lagi pembinaan masyarakat melalui tempat ibadah -----masjid, musholla, surau, langgar, dilakukan sehari-hari, yang itu semua tanpa disediakan dana dari pemerintah. Apa yang kadang belum dilakukan atau terjamah oleh pemerintah, ternyata sudah terlebih dahulu dirintis dan dikembangkan oleh kedua organisasi keagamaan ini. Obyek pengabdian organisasi keagamaan tersebut tersebar luas di seluruh wilayah, baik di kota maupun di desa, di pelosok-pelosok dan bahkan sampai di pedalaman. Hal itu tidak terkecuali di perguruan tinggi Islam, baik negeri maupun swasta. Di UIN/IAIN/STAIN selalu kita lihat dan rasakan terdapat getaran-getaran gerakan kedua organisasi keagamaan ini. Begitu pula, hal itu juga ada di Departemen Agama sendiri, baik di daerah maupun di pusat. Siapapun yang masuk Departemen Agama, akan merasakan hal itu. Pertanyaan, siapa di kantor pemerintah itu yang dominan, NU atau Muhammadiyah. Hal itu jika dilihat dari perspektif yang positif, yakni digunakan sebagai kekuatan untuk menghidupkan dan mendinamisasi organisasi, akan merupakan kekayaan yang luar biasa besarnya. Dua organisasi keagamaan ini sesungguhnya memiliki misi secara garis besar sama, yakni memberikan pelayanan, panduan dan bimbingan pada masyarakat tentang kehidupan beragama Islam. Kedua organisasi keagamaan ini membimbing pada keyakinan yang sama, yaitu bersyahadah kepada Allah swt., dan kerasulan Muhammad saw., berpedoman pada kitab suci al Qur’an dan hadits, kiblat yang sama yaitu Ka’bah dan jika wukuf bertempat yang sama, yaitu di padang Arofah, demikian pula tatkala melempar jumrah, juga di Mina. Hanya saja, karena factor psikologis dan juga sosiologis saja, seringkali mereka terbawa dalam proses-proses social, seperti kompetisi, konflik, walaupun dalam saat lain mereka juga berintegrasi. Hal seperti itu bagi orang yang mengenali ilmu social akan menganggapnya wajar, sebagaimana layaknya kehidupan social akan mengalami seperti itu. Proses-proses social dari kedua organisasi social keagamaan itu, sekalipun di kampus dan juga orang-orang kampus ------yang semestinya lebih ilmiah, sehingga selalu bersikap obyektif, rasional, terbuka, ternyata tidak mudah diwujudkan. Kadang emosi kelompok yang selalu diwarnai oleh nuansa idiologis lebih menonjol. Maka yang muncul kemudian adalah sebagaimana yang terjadi pada masyarakat pada umumnya, ------di luar perguruan tinggi, -----yaitu tertutup, irrasional, subyektif dan bahkan juga berorientasi pada menang-kalah dan bukan benar salah. Hal yang demikian, kadang mengganggu pengembangan akademik. Perguruan tinggi yang seharusnya menjaga prinsip-prinsip ilmiah, terpaksa juga terbawa-bawa ke ranah idiologis dengan segala ciri-cirinya itu. Oleh karena itu, dengan cara apapun hal seperti itu harus berhasil dieliminasi. Atas dasar penglihatan itu, maka pada saat awal memulai memimpin STAIN Malang, yang saya pikirkan adalah bagaimana mengurangi muatana idiologis sebagai ciri khas organisasi keagamaan itu, dan sebaliknya lebih menonjolkan pada muatan akademik dengan berbagai tuntutannya, yaitu agar lebih obyektif, rasional, terbuka dan selalu berorientasi pada benar salah dan bukan sebaliknya, yakni menang kalah itu. Kedua organisasi social keagamaan ini, menurut pandangan saya, harus tetap ada dan bahkan justru harus berkembang. Tetapi, bisa dikemas sedemikian rupa, sehingga prinsip –prinsip akademik tetap berhasil dikembangkan sebagaimana tuntutan tradisi kampus pada umumnya. Namun, ternyata menyelesaikan pekerjaan tersebut juga tidak mudah dilakukan. Masing-masing kelompok sudah terlanjur memiliki kesejarahan yang panjang. Sementara itu, jika hal itu tidak bisa dikurangi, kampus akan terwarnai oleh sintimen-sentimen kelompok, mereka saling memperebutkan sesuatu yang tidak jelas, sulit diajak bekerjasama secara terbuka, hubungan-hubungan kekeluargaan menjadi semu dan bahkan juga palsu. Selain itu, kampus tidak diwarnai oleh iklim akademik yang jelas, tetapi justru bernuansa politik. Fenomena seperti itu menjadi lebih tampak misalnya, tatkala terjadi pemilihan pimpinan, maka pertimbangan rekruitmen bukan pada kapasitas dan kapabilitas, idealisme, komitmen dan integritas, melainkan pertimbangannya pada kekuatan emosi kelompok. Misalnya, seseorang terpilih menjadi pimpinan, hanya atas dasar pertimbangan kesamaan ideologi. Terjadinya hal seperti ini, sesungguhnya tidak terlalu bisa disalahkan karena memang pada kenyataannya keputusan-keputusan yang diambil oleh sementara pemimpin sebelumnya, diwarnai oleh kepentingan kelompok seperti itu, hingga melahirkan perasaan tidak adil. . Salah satu cara untuk mengurangi ketegangan antara kelompok yang berbeda, dan bahkan sebaliknya agar menjadikan jarak itu semakin tipis, saya menempuh jalan yaitu justru memberikan peluang seluas-luasnya kepada semua pihak secara sama, melakukan aktualisasi diri organisasi. Masing-masing kelompok saya berikan pengakuan tentang eksistensinya di dalam kampus. Mereka yang NU saya minta untuk menunjukkan ke NU annya, begitu juga yang Muhammadiyah. Karena di STAIN Malang banyak orang NU maka nuansa ke NU an harus ditampakkan. Misalnya, NU biasanya kaya akan kegiatan spiritual, seperti membaca al Qur’an bersama, doa, tahlil, membaca surat yasin bersama, istighosah, memperbanyak membaca sholawat, sholat tarweh 20 roka’at dan lain-lain, maka di kampus pun kegiatan itu diadakan. Demikian pula bagi Muhammadiyah, kegiatan yang menjadi identitasnya dikembangkan, misalnya kultum setiap selesai sholat berjama’ah atau lainnya. Artinya, semua kegiatan yang menjadi symbol kelompok diberi peluang seluas-luasnya untuk dikembangkan. Sebaliknya, yang tidak dibolehkan adalah kegiatan kelompok yang dilakukan secara diam-diam, tidak tampak, tidak jelas, bersembunyi-sembunyi atau gerakan di bawah tanah. Semua kegiatan yang dipandang baik, harus ditampakkan hingga menjadi jelas dan bahkan dibanggakan bersama. Kebijakan memberikan keleluasaan menampakkan identitas masing-masing kelompok organisasi secara jelas juga diberikan reasoningnya. Misalnya, bahwa Islam di Indonesia harus tampak secara sempurna. Sementara ini dipandang bahwa setidak-tidaknya ada dua organisasi besar Islam di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah. Maka kedua organisasi ini harus tampak identitasnya, termasuk di kampus. Mereka yang merasa NU harus berjuang untuk menampakkan ke NU annya, begitu juga Muhammadiyah. Masing-masing diberi peluang secara adil agar menampakkan identitasnya. Hal itu dipandang penting bagi kampus, sebagai upaya mewariskan nilai-nilai yang diyakini benar itu kepada generasi berikutnya. Semua pihak diyakinkan bahwa kedua organisasi keagamaan itu memang harus ada, dan keduanya merupakan kekayaan umat Islam di tanah air ini. Perguruan tinggi Islam yakni STAIN/IAIN/UIN harus ikut bertangung jawab mengembangkannya. Tokh dalam sejarahnya, jika mau jujur, kelahiran perguruan tinggi Islam itu semua sebenarnya adalah rintisan dan prakarsa dari organisasi Islam ini. Di kampus ini (UIN Malang) NU dan Muhammadiyah dikembangkan secara bersama-sama, setidak-tidaknya oleh anggota kelompoknya. Tidak boleh ada pihak-pihak yang dilemahkan. Sebab keduanya penting sebagai asset ummat untuk kepentingan dakwah dan secara nyata melakukan pembinaan umat. Keduanya harus diapresiasi. Karena itu pada saat tertentu, -----waktu muktamar misalnya, jika sedang diselenggarakan muktamar NU, maka sebagai bentuk pemberian apresiasi itu di depan kampus UIN Malang dipasang spanduk bertuliskan : “Selamat Bermuktamar, Semoga NU Semakin Kokoh Dan Berhasil Dalam Mengembangkan Intelektual dan Spiritualitas Umat”. Demikian pula jika Muhammadiyah melakukan hal yang sama, maka dipasang spanduk dengan bertuliskan “ Selamat Bermuktamar, Semoga Muhammadiyah Berhasil Dalam Mengembangkan Dakwah, Sosial dan Pendidikan”. Ini adalah bentuk-bentuk pengakuan atau apresiasi yang diberikan oleh kampus, terhadap organisasi yang berbeda dengan cara yang sama. Melalui STAIN/UIN Malang ditanamkan agar mereka yang NU bangga dengan ke NU annya dan begitu juga yang ber Muhammadiyah bangga dengan Muhammadiyahnya. Diyakinkan kepada semua pihak bahwa kedua organisasi itu adalah penting, masing-masing telah melakukan peran-peran strategis sebagai gerakan dakwah, pembina umat dan oleh karena itu semuanya merupakan kekayaan umat Islam dan bangsa ini secara keseluruhan. Atas dasar pikiran dan pandangan itu maka, keberadaannya justru harus dipelihara, dikembangkan, diberi space dan iklim agar tumbuh secara leluasa. Strategi ini, juga didasarkan atas pertimbangan bahwa para lulusan kampus Islam ini, mau tidak mau kelak akan terjun ke masyarakat ------berdakwah, berbakti dan melakukan peran-peran kepemimpinan di tengah-tengah masyarakat, yang realitasnya bersentuhan dengan gerakan organisasi ini. Oleh karena itu, pemberian peluang mengenali dan bahkan memahami organisasi social keagamaan ini justru merupakan keniscayaan. Dan kampus, wajar jika berperan aktif medorong berbagai kegiatan itu. Selanjutnya, yang tidak dibolehkan adalah munculnya niat saling melemahkan di antara kelompok organisasi keagamaan yang berbeda. Masing-masing kelompok harus didorong untuk saling memperkukuh atau menguatkan. Hadits Nabi yang menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi maunusia lainnya, harus dimaknai dalam perspektif yang benar dan luas. Yakni, bagaimana kita tatkala sedang berorganisasi, juga berusaha menjadi organisasi yang memberi manfaat bagi organisasi lainnya. Hal itu dilakukan, dengan maksud agar menjadi organisasi yang terbaik. Demikian juga jika sedang (harus selalu) memiliki kesadaran berbangsa, maka seharusnya mengikuti rumusan, bahwa sebaik-baik bangsa adalah bangsa yang paling banyak memberi manfaat bagi bangsa lainnya. Menjadi yang terbaik dengan ukuran-ukuran seperti itu harus dijadikan cita-cita, baik tatkala sedang merasa sendiri, sedang berada pada organisasi dan bahkan tatkala sedang merasa menjadi bagian dari bangsa. Semua warga kampus harus menjadi yang terbaik, yakni yang selalu memberi manfaat bagi lainnya. Dengan cara selalu mengembangkan berpikir seperti ini, maka di kampus pun antara kelompok yang berbeda, misalnya NU, Muhammadiyah dan lainnya diharapkan menjadi dapat saling bertemu dan sekaligus berkeinginan saling memperkukuh dan akhirnya umat ini menjadi bersatu secara kokoh. Sekalipun belum sempurna, usaha-usaha itu, kini sudah dapat dirakan hasilnya. Warga NU dan Muhammadiyah di kampus UIN Malang selalu bertemu, berpikir dan beramal sholeh bersama, masing-masing mengedepankan kualitas, dan mereka sudah tidak merasa berbeda. Pada tingkat ini saya merasakan kedua organisasi keagamaan tersebut semakin kukuh. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Add comment


Go to top