Sosial

Sosial

Memimpin Seharusnya Sepenuh Hati


Jika tuntutan yang sederhana itu terpenuhi, maka mereka semua akan mau bekerja keras dan bahkan lebih dari itu juga bersedia diajak berkorban. Saya dalam banyak kesempatan sampai terharu, tatkala menyaksikan betapa mereka sangat tulus dan ikhlas menunaikan tugas-tugas yang diembannya. Mereka kadang bekerja lembur sampai larut malam, agar pekerjaannya selesai. Padahal, mereka harus meninggalkan keluarga yang seharusnya ditunggui. Sementara, atas kerjanya itu mereka belum tentu mendapatkan imbalan yang seimbang dengan tanggung jawab yang diembannya. Beberapa tuntutan bawahan itu misalnya, agar pemimpin itu mau memberi tauladan, ada kesamaan antara yang diucapkan dengan apa yang dilakukan, tidak mencari untung sendiri, mau berkorban untuk kepentingan membesarkan kampus, tidak kalkulatif atau transaksional, berani dan mau menaggung resiko, bersedia mendengarkan suara dari siapapun. Dan, sifat-sifat lain yang juga sederhana. Hal-hal seperti ini, menurut hemat saya tidak sulit dilakukan oleh siapapun asal mau menjalankan. Memang pemimpin harus memiliki visi, cita-cita dan pandangan jauh ke depan. Pemimpin juga harus memiliki ketrampilan berkomunikasi dengan berbagai kalangan, mampu berargumentasi dan berdeplomasi secara baik. Tapi sesungguhnya, kemampuan seperti ini, bisa dipelajari oleh siapapun dengan catatan mau belajar. Belajar juga bisa didapat dari mana saja dan kapan saja. Belajar memimpin tidak harus kepada para ahli, pakar atau pemikir klas tinggi. Menurut hemat saya, belajar bisa dari para bawahan, misalnya dari para karyawan, mahasiswa dan bahkan dari satpam dan cleaning servis sekalipun. Belajar berhati ikhlas, bersyukur dan sabar justru dari mereka itu sudah cukup. Jangan dikira mereka itu tidak mengerti tentang sesuatu. Kita lihat saja misalnya, mereka kadang kelihatan sudah berada di masjid, tatkala adzan sedang dikumandangkan. Sementara dosen senior yang disertasinya hampir selesai pun, baru mau berangkat ke masjid tatkala sudah diperingatkan. Akhirnya mereka terlambat sholat berjama’ah. Orang yang digunakan contohkan terakhir itu, memang belum layak menjadi pemimpin kampus ini. Ia harus belajar dulu. Belajar mulai dari datang ke masjid tepat waktu, hingga memahami betul bahwa sholat jama’ah itu erat kaitannya dengan tugas-tugas mereka sebagai pendidik di kampus ini. Kelihatannya sangat sederhana, tetapi memang memimpin itu tidak rumit. Memimpin itu adalah pekerjaan memberi uswah atau contoh, maka ia selalu harus berada di depan. Imam atau pemimpin tidak pernah mengambil posisi di belakang. Orang di belakang namanya bukan pemimpin, tetapi makmum. Selanjutnya, hal yang perlu disadari bahwa kampus ini sudah terlanjur mengklaim dirinya, -----atau setidak-tidaknya bercita-cita, sebagai perguruan tinggi Islam yang selalu berada di depan dalam berinovasi atau melakukan pembaharuan, di banding perguruan tinggi Islam lainnya di Indonesia. Atas dasar klaim itu maka, kampus ini tidak boleh berhenti bergerak dan berinovasi. Oleh sebab itu, kampus ini juga memerlukan pemimpin yang mampu menggerakkan semua potensi yang ada. Karenanya, maka ia harus mempunyai kekuatan, untuk menggerakkan terhadap siapapun yang dipimpinnya. Menggerakkan orang, di mana dan kapan pun tidak sulit, asal yang bersangkutan mau menempatkan dirinya selalu di depan. Misalnya, tatkala harus menggerakkan orang agar mau menyumbang berupa dana atau apa saja untuk kepentingan mendesak, maka pemimpin harus terlebih dulu merogoh sakunya dan tidak boleh lebih kecil jumlahnya dari yang akan diberikan oleh bawahannya. Jika ia belum mampu berkorban seperti ini, ------sekalipun hal itu ringan bagi yang sudah terbiasa, maka janganlah berani menjadi pemimpin kampus ini. Pemimpin itu agar diikuti oleh bawahan secara tulus dan ikhlas, maka harus selalu berani tampil di depan tatkala menghadapi beban dan resiko apapun, tetapi sebaliknya harus mengambil posisi di belakang tatkala sedang membagi-bagi fasilitas atau kenikmatan. Di sinilah sulitnya menjadi pemimpin. Padahal pemimpin itu, tatkala di luar kantor, atau sedang di rumah, ia adalah pemimpin rumah tangga. Ia akan berperan sebagai suami atau isteri dan orang tua dari para anak-anaknya. Isteri/suami dan anak-anak itu biasanya juga memiliki tuntutan yang banyak dan bermacam-macam. Sebagai seorang pemimpin, ia harus mampu memberikan pengertian kepada keluarganya itu, agar mereka tidak menuntut berlebih-lebihan. Jika ia sebagai pemimpin misalnya, ketika harus mengeluarkan sebagian uangnya saja, masih takut ditegur isteri atau anak-anaknya, maka orang seperti ini juga belum terlalu memenuhi syarat menjadi pemimpin yang baik. Orang seperti ini tidak akan berhasil menggerakkan lembaga yang dipimpinnya secara maksimal. Pemimpin yang tidak berani berbuat baik, lantaran takut dengan isteri di rumah, maka ia belum masuk kategori orang kuat. Tuntutan lain sebagai seorang pemimpin, tentu saja masih ada. Tetapi apa yang disebutkan itu saja berhasil terpenuhi, sesungguhnya sudah baik atau sudah cukup. Terasa sekali bahwa syarat-syarat menjadi pemimpin itu sesungguhnya sangat sederhana. Dan, memang demikian, sangat sederhana. Namun, sebagai tambahan, pemimpin akan selalu menghadapi anak buah yang beraneka ragam sifat, watak dan kharakteristiknya. Mereka itu, memang sudah begitu. Kehidupan manusia ini penuh warna dan bermacam-macam. Setiap orang bersifat unik, di antara mereka tidak ada yang sama. Tetapi, apapun sifatnya, mereka itu harus diterima secara utuh. Mereka harus diberi kasih sayang secara sempurna. Jika pun suatu saat, di antara mereka yang keterlaluan harus dihukum atau diberi sanksi, maka sanksi itu harus dimaksudkan sebagai upaya mendidik, agar ke depan menjadi lebih baik. Pemimpin tidak boleh bangga hanya karena bisa menghukum anak buah. Salah satu ukuran lainnya dari pemimpin yang baik, adalah tatkala mereka yang dipimpin menjadi baik, tanpa harus dihukum. Pemimpin memang seharusnya bersifat sebagai seorang guru, pengasuh, atau mungkin juga seperti seorang pawang. Seorang pawang singa, ia seharusnya mampu mencintai singanya, -----sekalipun beresiko pada suatu saat, ia akan diterkam oleh binatang asuhannya itu. Lebih dari itu, pemimpin juga harus mampu membagi-bagi sifat kasih sayangnya kepada semua. Semua bawahannya, tanpa terkecuali, semestinya diberi peluang untuk maju, berkembang dan mampu menyelesaikan berbagai problem yang dihadapinya. Pemimpin seyogyanya mampu menumbuhkan rasa percaya diri, memberikan harapan masa depan dan dalam bahasa kontemporernya, disebut mampu memberdayakan terhadap siapapun yang dipimpinnya. Sebagai pemimpin perguruan tinggi, bawahan itu adalah para dosen, karyawan maupun seluruh mahasiswanya. Mungkin sekarang ini, kita sudah melihat orang yang sekiranya memiliki ciri-ciri sebagaimana dikemukakan itu. Jika demikian, maka sesungguhnya tidak perlu ada sesuatu yang dikhawatirkan terhadap akan adanya kemunduran, atau stagnasi lembaga ini. Melalui uraian sederhana ini, kiranya menjadikan siapapun ------dosen, karyawan dan mahasiswa, telah bisa menjawab pertanyaana terkait dengan kepemimpinan yang dirisaukan itu, yakni apakah kampus ini sesungguhnya telah memiliki seseorang yang memiliki jiwa dan karakter seperti itu. Memang tidak boleh hanya mengira-ira, menduga atau bergambling, atau sebatas berharap bahwa seseorang akan memiliki kharakter dan kesanggupan seperti itu. Soal memilih pemimpin jangan sampai hanya berdasar atas pantas dan tidak pantas, apalagi hanya memilih orang yang baru sanggup berkata “akan”. Tatkala mencari pemimpin seharusnya memilih orang yang telah memiliki track record yang baik. Jika terdapat banyak pilihan, maka juga seharusnya dimilih di antara mereka yang telah memiliki paling banyak kelebihannya, atau yang paling unggul dan berkualitas atas sumbangannya terhadap kampus selama ini. Menurut pandangan saya, pilihlah pemimpin yang sepenuh hati, dan jangan memilih calon pemimpin yang hanya sanggup duduk di kursi pimpinan, tetapi tidak tahu sebenarnya apa yang seharusnya akan dilakukan, kasihan. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang