Jasa Pembuatan Web Malang

Umum

Kitabnya Jadi Rujukan di Timur Tengah Al-Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Alaydrus

Pakar Hadits dan fiqh dari Malang, Jawa Timur yang telah menulis 42 kitab.

Dua rak almari di ruang tamu Al-Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Alaydrus itu penuh oleh kitab. Hampir semuanya berbahasa Arab. Tebal dan berjilid-jilid. Kitab karangan berbagai ulama terkenal dunia dengan berbagai tema itu disusun rapi. Ada yang berisi tentang fiqh, tafsir, Hadits, dan lain sebagainya. Judul dan penulis kitab-kitab itu tertera dibagian belakang buku sehingga mudah dibaca. Mengambilnya pun tak sulit.

Di antara deretan ratusan kitab “gundul” itu -demikian kalangan santri biasa menyebutnya karena tak berharakat- ternyata ada sebagiannya buah karya Habib Sholeh. Jumlahnya sekitar 42 kitab. Semuanya berbahasa Arab. Ada yang sudah dicetak luks, tapi ada juga yang masih berupa print out.

Meski lahir di Malang, Jawa Timur dan kini tinggal di kota apel itu, tapi karangan guru tetap di Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah, Malang ini menembus hingga ke luar negeri. Kitabnya mendapat apresiasi para ulama. Ada beberapa kitabnya yang menjadi rujukan di beberapa negara di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Yaman, Madinah, dan Mesir. Bahkan, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir pun menggunakan kitabnya sebagai bahan ajar mahasiswanya.

Kemampuan menulis pria kelahiran 1953 ini diasah sejak belajar di Makkah pada tahun 1977. Habib Sholeh, demikian sapaan akrabnya dibimbing langsung oleh gurunya, As- Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani. Habib Sholeh tergolong murid yang cerdas dan ulet. Oleh karena itu, tak begitu sulit baginya mengikuti proses belajar. Ia pun ditunjuk Syaikh Al-Maliki, ulama besar Ahlussunnah waljamaah yang bermazhab Malikiyah namun paham mazhab Syafi’iyah ini menjadi juru tulisnnya.

“Setiap mengajar. Abuya menyuruh saya dan beberapa murid senior pilihan lainnya untuk menuliskan setiap penjelasan yang disampaikan dalam setiap waktu belajar,” ujar habib kharismatik ini kepada Suara Hidayatullah medio September lalu.

Murid yang mendapat amanah itu bukan sembarang orang. Setidaknya, ujar Habib Sholeh, mereka harus cerdas dan memiliki kemampuan yang cukup. Ia pun bisa menunaikan titah gurunya itu dengan baik. Sejak itulah, kemampuan tulis menulisnya terasah semakin tajam.

Menurutnya, Abuya Al-Maliki, demikian Habib Sholeh biasa memanggil gurunya itu adalah penulis produktif. Karanganya saja, katanya, mencapai 250 kitab. Karena itu, Abuya Al-Maliki menularkan ilmunya tersebut kepada murid-muridnya. “Abuya Al-Maliki selalu menyarankan muridnya agar gemar menulis buku,” ujar Habib Sholeh.
Bagi Habib Sholeh, menulis adalah keharusan, terlebih seorang ulama. Sebab, katanya, dengan buku orang akan bisa berbagi banyak manfaat yang tiada terbatas waktu dan tempat.

“Menulis itu memiliki manfaat kolektif. Karya kita bisa dinikmati banyak orang. Meski kita sudah mati, tapi kitab kita masih bisa dinikmati. Dan itu yang membuat kita tetap hidup,” jelasnya.

Tak lama usai berlatih menulis, ia mulai mengarang. Habib yang cukup disegani di Malang ini setiap hari membagi waktu antara belajar dan menulis. “Ketika itu, saya sudah bisa menulis 16 kitab dan dicetak di Makkah,” terangnya.

Menulis baginya bukan hal sulit. Selain dibimbing gurunya, ia juga dibantu dengan banyaknya referensi kitab di perpustakaan (maktabah). Abuya Al-Maliki memiliki tujuh maktabah yang cukup besar. Jumlah kitabnya bila diperkiraan bisa mencapai lebih dari sejuta.

“Jadi, dalam menulis, saya tidak kekurangan rujukan. Kitab tentang apa saja, insya Allah tersedia,” tuturnya.

Ketika kembali ke Tanah Air pada 1988, aktivitas menulisnya tidak redup, bahkan kian bersinar. Ia pun menambah koleksi karyanya itu dari 16 hingga 42 kitab. Dan, berapa banyak kitab yang hendak ia tulis lagi? “Insya Allah, jika Allah menghendaki. Tapi menulis kitab itu sangat penting,” jelasnya. Tampaknya, menulis sudah menjadi bagian hidupnya.

Menurut santrinya, ayah tujuh anak itu adalah pakar Hadits dan fiqh. Habib Sholeh begitu menguasai dua disiplin ilmu tersebut. Bukan berarti ia mengabaikan bidang lainnya. Ilmu lain, seperti al-Qur`an, sejarah, kebudayaan, sastra, tafsir, dan yang lainnya juga dikuasainya. Oleh karenanya, kitab-kitab karanganya cukup komplit. Hampir segala bidang, seperti Hadits, fiqh, tasawuf, tsaqafah islamiyah, tarikh, sastra, dan nahwu.

Dari 42 kitab, ada 5 karanganya yang termasuk monumental. Kitab itu adalah Assyaafiyah Fii Istilaahatil Fuqaha Asy Syafi’iyyah, Is’aaful Muhtaj Fii Syarhil qiilaat Al-Murajjahah Fiil Minhaaj, I’laamul Bararah Bi Mabadi’ al-‘Asyarah, Lafthul Intibahat Fiima Hadzaral Ulama Minat Ta’lifaat, dan Faidhul ‘Allam Fii syarhi Arba’in Haditsan fis Salaam.

Di antara ke-5 kitab itu, katanya lagi, kitab Assyaafiyah Fii Istilaahatil Fuqaha Asy Syafi’iyyah paling mendapat pengakuan di Timur Tengah, terutama di Hadramaut, Yaman. Kitab yang berisi istilah di kitab-kitab Syafi’iyyah itu menjadi pegangan para mufti. Begitu juga di Pesantren Lirboyo, Jawa Timur, kitab dua jilid ini menjadi bahan ajar penting.

Kitab yang Berjalan
Habib Sholeh sejak kecil rajin belajar pengetahuan keislaman. Ia menempuh sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah At-Taraqqie, Malang dan dilanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah, Malang. Di sini ia belajar dasar-dasar Hadits kepada Al-Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dari situ, ia langsung belajar ke Abuya Al-Maliki di Makkah.

Sebenarnya, waktu belajarnya hanya 5 tahun. Karena merasa belum puas, ia menambah 5 tahun lagi. Habib yang kini kerap berdakwah di Malaysia, Singapura, dan Thailand itu akhirnya belajar secara khusus kepada Abuya Al-Maliki hingga telah mempelajari lebih dari 100 kitab.

Suatu waktu, Abuya Al-Maliki yang juga pernah tinggal di Malang ini diminta seorang ulama di Malang untuk tetap tinggal di daerahnya. Namun, karena alasan ingin terus berdakwah, ia pun menolaknya. Ia hanya mengatakan akan mengutus seorang muridnya.

“Nanti saya akan utus ulama ke Malang. Ia adalah kitab yang berjalan,” ujarnya. Ternyata, yang dimaksud ungkapan ulama berjalan itu adalah Habib Sholeh. *Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah OKTOBER 2011

Add comment


Go to top