Umum

Qunut Muhammadiyah - NU

Qunut



Terdapat tiga poin yang akan kita bicarakan dalam masalah Qunut, yakni Qunut Subuh, Qunut Nazilah, dan Qunut Witir. Tiga macam qunut ini adalah masalah khilafiyah yang tidak asing lagi di kalangan umat Islam, perbedaan itu juga terjadi di antara NU dan Muhammadiyah.
Dalam masalah qunut subuh, NU bermadzhab kepada Imam Malik dan

Syafi‘i  yang   mana   qunut  subuh  dimasukkan dalam perkara sunnah  ab‘adh, sunnah yang apabila lupa tidak dikerjakan maka disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi. Sementara Muhammadiyah, tidak membenarkan adanya qunut (berdoa ―allahummah dinii.. dst) di shalat  subuh.
Untuk masalah qunut nazilah, NU menghukuminya sunnah hai‘ah  (kalau lupa    tertingal    tidak    disunatkan    bersujud    sahwi),    karena    Nabi    juga melakukannya.   Sementara   Muhammadiyah,   memutuskan    tarjihnya   bahwa qunut nazilah tidak lagi boleh diamalkan, sebab sudah terjadi mansukh, tetapi qunut nazilah juga boleh dilakukan selama tidak menggunakan kutukan dan permpohonan pembalasan dendam terhadap perorangan.
Kemudian, dalam masalah qunut witir, NU memberikan beberapa pilihan

dari pendapat ulama salaf. Sebagaimana ditulis KH Cholil Nafis, bahwa menurut pengikut Imam Abu Hanifah (hanafiyah) qunut witir  dilakukan diraka‘at yang ketiga   sebelum  ruku‘  pada  setiap   shalat   sunnah.  Menurut  pengikut  Imam Ahmad bin  Hambal (Hanbaliah) qunut witir  dilakukan setelah  ruku‘.  Menurut pengikut Imam  Syafi‘i (Syafi‘iyyah) qunut witir dilakukan pada akhir shalat witir setelah   ruku‘  pada  separuh  kedua  bulan   Ramadlan.  Akan   tetapi   menurut pengikut Imam Malik qunut witir tidak disunnahkan. Namun demikian, dalam tataran keseharian warga NU lebih condong memakai pendapat Imam Syafi'i dalam masalah qunut witir.  Sementara Muhammadiyah sendiri, sebagaimana ditulis Abdul Munir Mulkan (2005) merujuk pada HPT Muhammadiyah bahwa untuk    qunut    witir    Muhammadiyah    masih    menangguhkan    pengambilan keputusannya.
 
Untuk itu pada bab masalah qunut, hanya akan kami jabarkan pendapat qunut nazilah dan qunut subuh dari ulama NU dan Muhammadiyah, sedangkan untuk qunut witir hanya akan kami jabarkan pendapat dari kalangan NU saja.


1.   Nahdhatul Ulama a. Qunut Nazilah
Dalam sebuah tanya jawab Gus Mus tentang Qunut Nazilah yang pernah dimuat www.pesantrenvirtual.com, KH. Musthafa Bisri atau yang akrab di sapa Gus Mus menulis bahwa mengartikan qunut dengan tunduk; merendahkan diri kepada    Allah;    mengheningkan    cipta;    berdiri    shalat.    Kemudian,    dalam perkembangannya, qunut digunakan untuk doa tertentu di dalam shalat.
Nazilah sendiri biasa diartikan dengan ―musibah.‖ Nabi Muhammad SAW, demikian tulis Gus Mus, pernah berqunut pada setiap lima waktu shalat, yaitu pada saat ada nazilah (musibah). Saat kaum muslimin mendapat musibah atau malapetaka, misalnya ada golongan muslimin yang teraniaya atau tertindas. Pernah pula Nabi melakukan qunut muthlaq, yakni qunut yang dilakukan tanpa sebab yang khusus.
Jadi, qunut nazilah adalah qunut yang dilakukan saat terjadi malapetaka

yang menimpa kaum muslimin. Seperti dulu ketika Rasulullah SAW atas permintaan Ri'l Dzukwan dan 'Ushiyyah dari kabilah Sulaim, mengirim 70 orang Qura‘   (semacam guru  ngaji)   untuk  mengajarkan  soal   agama  kepada  kaum mereka.  Dan ternyata  setelah sampai  di  suatu tempat yang  bernama  Bi'r  al- Ma'uunah  orang-orang  itu  berkhianat  dan  membunuh  ketujuh  puluh  orang Quraa  tersebut.  Mendengar  itu  Rasulullah  SAW  berdoa  dalam  shalat  untuk kaum mustadh'afiin, orang-orang yang tertindas, di Mekkah.
Qunut Nazilah adalah sunnah hai‘ah  hukumnya (kalau lupa tertingal tidak

disunatkan bersujud sahwi). Hal ini sebagaimana menurut Imam Syafi'i, qunut nazilah disunnahkan pada setiap shalat lima waktu, setelah ruku' yang terakhir,
 
baik  oleh  imam  atau  yang  shalat  sendirian  (munfarid):  bagi  yang  makmum tinggal mengamini doa imam.
Dasar disunnahkannya qunut nazilah oleh kalangan NU antara lain hadist

Nabi yang artinya:

“Rasulullah SAW  kalau hendak mendoakan untuk  kebaikan seseorang atau doa atas kejahatan seseorang, maka  beliau  doa qunut   setelah ruku‟  (HR.  Bukhori  dan Ahmad).


Sementara bacaan doa untuk qunut nazilah sama dengan qunut subuh.



 
,  ف    يف    ا    ا
 
,  فات    يف    ات
 
,  ف    يف    ا    يف    ا    لا
 

 
زع    ,
 
فا    ف       ,
 
فل     ف      ,  ف
 

 
ا    يح    فأ    ل    الله     لص
 
,  فا    ت    أ
 
,  فا ع    ا    ا    ,    ا

لأ    حص     ا    ل
 



Hanya saja, biasanya dalam qunut nazilah ditambahkan sesuai kepentingan yang berkaitan dengan musibah yang terjadi. Misalnya dalam malapetaka di Bosnia yang baru lalu, atau tragedi di Ambon dan Aceh, atau serangan Israel ke Palestina, kita bisa memohon kepada Allah agar penderitaan saudara-saudara kita di sana segera berakhir dan Allah mengutuk mereka yang lalim.
Disunnahkannya qunut nazilah yang sejalan dengan pendapat ini adalah

pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin  Sa‘d, Yahya  bin  Yahya  Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits. Qunut nazilah tidaklah manzukh sejak turunnya al-Qur‘an  surat  alimran ayat  128, sebagaimana hadist Abu  Hurairah riwayat Bukhari-Muslim yang artinya:
“Adalah Rasulullah shollallahu „alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat

dari raka‟at kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I‟tidal)  berkata : “Sami‟allahu   liman  hamidah rabbana walakal hamdu,  lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. “Ya  Allah  selamatkanlah Al-Walid  bin  Al-Walid, Salamah bin Hisyam, „Ayyasy bin Abi Rabi‟ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan
 
jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf.  Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri‟lu, Dzakw  an dan „Ashiyah yang  bermaksiat kepada Allah  dan Rasul-Nya.  Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun  ayat: “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (HR.Bukhari-Muslim)


Menurut kalangan yang sepakat masih disunnahkannya qunut nazilah, termasuk  kalangan  NU  pada  umumnya,  berpendapat  bahwa  berdalilkan dengan  hadits  tersebut  di  atas  menganggap  mansukh-nya  qunut  adalah pendalilan  yang  lemah,  karena  dua  hal:  Pertama:  ayat  tersebut  tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby  dalam  tafsirnya,  sebab  ayat  tersebut  hanyalah  menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib. Kedua: sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang artinya:


Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata: “Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya‟ dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir”. (HR. Bukhari)


Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansukh. Andaikata qunut    nazilah    telah    mansukh    tentunya    Abu    Hurairah    tidak    akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah.
 
b. Qunut Witir



Pada umumnya di kalangan warga NU mempraktekkan qunut witir, khususnya untuk qunut witir setelah rukuk pada separuh kedua bulan Ramadhan. Meskipun diakui bahwa memang ada perbedaan pendapat dari madzhab yang empat. Perbedaan tersebut yaitu:
1)  Menurut pengikut Imam Abu Hanifah (hanafiyah) qunut witir dilakukan

diraka‘at yang ketiga sebelum ruku‘ pada setiap  shalat  sunnah.

2)  Menurut  pengikut  Imam  Ahmad  bin  Hambal  (hanabilah)  qunut  witir

dilakukan setelah  ruku‘.

3)  Menurut Pengikut Imam  Syafi‘i (syafi‘iyyah) qunut witir  dilakukan pada akhir  shalat  witir  setelah  ruku‘ pada separuh kedua bulan  Ramadlan.
4)  Akan tetapi menurut pengikut Imam Malik qunut witir tidak disunnahkan.



Dalam praktek peribadatan warga NU pada umumnya cenderung mengambil pendapat Imam Syafi'i. Di antara dasar yang mendukung pendapat ini antara lain dari Sahabat dan Tabi‘in.


Dari  ‗Amr bin  Hasan, bahwasanya “Umar radhiyallahu anhu  menyuruh  Ubay radiyallahu „anhu mengimami  shalat  (tarawih)  pada  bulan  Ramadhan,  dan  beliau menyuruh   Ubay  radhiyallahu  „anhu untuk   melakukan  qunut   pada  pertengahan Ramadhan yang dimulai pada malam 16 Ramadhan.(HR. Ibnu Abi Syaibah)


Ma‘mar   berkata: ―Sesungguhnya  aku  melaksanakan qunut  Witir  sepanjang tahun,
kecuali pada awal Ramadhan sampai dengan pertengahan (aku tidak qunut),

demikian  juga  dilakukan  oleh  al-Hasan  al-Bashri,  ia  menyebutkan  dari

Qatadah dan lain-lain‖. (Dalam  kitab Mushannaf ‗Abdirrazzaq)



Syaikh  al-Albani  berkata:  “Boleh juga  do‟a  qunut  sesudah ruku‟  dan  ditambah dengan  (do‟a)  melaknat  orang-orang kafir,  lalu  shalawat  kepada  Nabi  Shallallahu
 
„alaihi wa sallam dan mendo‟akan kebaikan untuk  kaum Musli-min pada pertengahan bulan Ramadhan, karena terdapat dalil dari para Shahabat radhiyallahu „anhum di zaman  „Umar  radhiyallahu  „anhu. Terdapat  keterangan  di  akhir  hadits  tentang Tarawihnya  para Shahabat radhiyallahu  „anhum, Abdurrahman  bin  „Abdul Qari berkata: „Mereka (para Shahabat) melaknat orang-orang kafir pada (shalat Witir) mulai pertengahan   Ramadhan,   kemudian   takbir,   lalu   melakukan   sujud.    (HR.   Ibnu Khuzaiimah)


c. Qunut Subuh



H.M Cholil  Nafis dalam sebuah tulisannya berkaitan dengan masalah qunut subuh, mencoba mengkompromikan dua pendapat yang bertentangan di antara Ulama Salaf. Pendapat yang pertama datang dari pengikut Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad yang menyatakan bahwa hukum qunut subuh tidak disunnahkan. Sedangkan pendapat yang kedua, datangnya dari Imam Malik dan Imam Syafi'i yang menyatakan bahwa qunut subuh hukumnya sunnah hai‘ah.
Sebelum    lebih    jauh    mengetahui    bagaimana    Cholil    Nafis

mengkompromikan dua pendapat yang berbeda itu dan pada akhirnya mengambil pendapat yang menetapkan qunut subuh sebagai amalan sunnah terlebih, dahulu kita mengetahui dasar-dasar dari pendapat yang berbeda itu.
Pendapat yang menetapkan bahwa qunut subuh tidak disunnahkan adalah berdasarkan hadis Nabi hadits Nabi SAW bahwa Nabi pernah melakukan doa qunut pada saat shalat Fajar selama sebulan telah dihapus (mansukh) dengan ijma‘ sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud:


―Diriwayatkan oleh Ibn Mas‟ud: Bahwa Nabi SAW  telah melakukan doa qunut selama  satu  bulan  untuk  mendoakan  atas  orang-orang  Arab  yang  masih  hidup, kemudian Nabi SAW meninggalkannya.‖ (HR. Muslim)


Sedangkan  pendapat  madzhab  yang  menetapkan  qunut  subuh  sunnah

menyatakan  bahwa  Rasulullah  SAW  ketika   mengangkat  kepala  dari   ruku‘
 
(i‘tidal) pada raka‘at  kedua shalat  Shubuh beliau  membaca qunut. Dan demikian itu  ―Rasulullah SAW lakukan sampai meninggal dunia (wafat)‖. (HR.  Ahmad  dan Abd Raziq).
Imam  Nawawi menerangkan dalam kitab Majmu‘nya:



―Dalam  Madzhab  kita  (madzhab Syafi‟i)  disunnahkan  membaca qunut  dalam shalat Shubuh, baik karena ada mushibah maupun tidak. Inilah pendapat mayoritas ulama‟ salaf‖. (al-Majmu‘, juz 1 : 504)


Cara pengkompromian yang dilakukan Chalil Nafis untuk mendapat kesimpulan hukum (thariqatu al-jam‟i wa al-taufiiq) adalah, bahwa hadits Abu Mas‘ud  (dalil  pendapat Hanafiyyah) menegaskan bahwa Nabi  SAW telah melakukan qunut selama sebulan lalu meninggalkannya tidak secara tegas bahwa  hadits  tersebut  melarang  qunut  shalat  Shubuh  setelah  itu.  Hanya menurut interpretasi  ulama  yang  menyimpulkan bahwa  qunut shalat  subuh dihapus (mansukh) dan tidak perlu diamalkan oleh umat Muhammad SAW. Sedangkan hadits Anas bin  Malik  (dalil  pendapat Malikiyyah dan  Syafi‘iyyah) menjelaskan bahwa Nabi SAW melakukan qunut shalat subuh dan terus melakukannya sampai beliau wafat.
Chalil sampai pada kesimpulan, bahwa ketika interpretasi sebagian ulama

bertentangan dengan pendapat ulama lainnya dan makna teks tersurat (dzahirun nashs) hadits, maka yang ditetapkan (taqrir) adalah hukum yang sesuai dengan pendapat ulama yang berdasrkan teks tersurat hadits shahih. Jadi, hukum melakukan edoa qunut pada shalat subuh adalah sunnah  ab‟adh,  yakni ibadah sunnah yang jika lupa tertinggal mengerjakannya disunatkan melakukan sujud sahwi setelah duduk dan membaca tahiyat akhir sebelum salam.
Terdapat pula hadis-hadis yang menguatkan pendapat tersebut, yakni:

Hadis Anas r.a.:



“Sesungguhnya Nabi s.a.w. berqunut selama sebulan mendoakan kebinasaan atas mereka, kemudian meninggalkannya. Maka adapun pada sembahyang subuh, beginda
 
masih berqunut sehingga wafat. (HR jamaah dan dianggap sahih oleh al-Hakim, al- Baihaqi, al-Daruquthni dll.)


Riiwayat dari al-Awwam bin Hamzah, katanya: “Aku bertanya Abu Usman mengenai qunut pada sembahyang subuh, dia berkata: Selepas rukuk. Aku  berkata: Dari siapa? Dia berkata: Dari Abu Bakar, Umar dan Ustman. (HR al-Baihaqi dan dianggapnya sebagai sahih)
Riwayat  al-Baihaqi  dari   Abdullah bin  Mua‘qqal,  katanya:  “Ali  berqunut

pada sembahyang subuh.”

Di dalam al-Mudauwanah al-Kubra:  Waqi‘ berkata dari  Fithr  dari  Atho‘, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. berqunut pada sembahyang subuh, dan sesungguhnya Abu  Musa   al-Asy‟ari,  Abu   Bakrah,   Ibnu  Abbas  dan  al-Hasan   berqunut  pada sembahyang subuh.”
Riwayatkan  dari   Anas   bin  Malik  dan   Abu  Rafi‘  bahwa kedua-duanya bersembahyang subuh di belakang Umar, dia berqunut selepas rukuk.


2.   Muhammadiyah a. Qunut Nazilah
Dalam masalah qunut nazilah Tarjih Muhammadiyah menampung adanya pemahaman    yang    berbeda    dan    belum      dapat   dipertemukan,    disebabkan pemahaman     yang     berlainan        mengani    hadis    yang    menerangkan    bahwa Rasulullah Saw tidak mengerjakan qunut Nazilah setelah diturunkan surat Ali
Imran ayat 128:


 
 
 
  
 
 
 
  
 
  
 

 



Artinya:

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima  Taubat  mereka,  atau  mengazab  mereka  karena  sesungguhnya  mereka  itu orang-orang yang zalim.
 
Dalam    doa    itu    Rasulullah    mohon    dikutuknya    mereka    yang    telah melakukan kejahatan dan dimohonkan pembalasan Allah terhadap mereka. Kemudian turunlah ayat di atas.
Pemahaman Tarjih yang timbul dari riwayat tersebut ialah:

1. Bahwa qunut nazilah tidak boleh lagi diamalkan

2. Boleh    dikerjakan    dengan    tidak    menggunakan    kata    kutukan    dan permohonan terhadap perorangan.


b.    Qunut Subuh



Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, bahwa di kalangan Muhammadiyah pada umumnya, qunut yang dibaca khusus pada raka‘at  kedua setelah    rukuk    dalam    shalat    subuh    tidak    ada.    Tarjih    Muhammadiyah menjelaskannya lebih lanjut sebagaimana uraian berikut:
Di  samping perkataan qunut yang  berarti ‗tunduk kepada Allah  dengan penuh kebaktian‘, Muktamar dalam keputusannya menggunakan makna qunut yang  berarti ―berdiri (lama)  dalam shalat  dengan membaca ayat  al-Qur‘an dan berdoa sekehendak hati‖.
Dalam  perkembangan  sejarah  fiqh,  demikian  Abdul  Munir  Mulkhan,  di masa lampau orang atelah cenderung untuk memberi arti khusus pada apa yang dinamakan qunut, yakni:  ―berdiri sementara‖ pada shalat  shubuh sesudah ruku‘ pada raka‘at   kedua dengan membaa doa:  “Allahummahdini  fiman  hadait… dan seterusnya‖
Muktamar    Tarjih    tidak    sependapat    dengan    pemahaman    tersebut berdasarkan pemikiran bahwa:
1) Setelah    diteliti    kumpulan    maam-macam    hadis    tentang    qunut,    maka muktamar berpendapat bahwa qunut sebagai bagian dari pada shalat tidak khusus hanya ditamakan pada shalat subuh.
2) Bacaan   doa:   ―Allahummahdini  fiman   hadait…  dan   seterusnya‖  tersebut

tidaklah sah.
 
3) Penerapan hadis hasan tentang doa tersebut dalam phoin (2) untuk khusus dalam qunut subuh tidak dibenarkan.


Terus    terang,    penulis    belum    menemumukan    dasar    yang    rinci    dari pengistimbathan hukum qunut subuh oleh tarjih Muhammadiyah tersebut. Namun, dalam  sebuah  situs   pdmbontang.com,  situs  resmi  Muhamamdiyah  kota  Bontang, terdapat sebuah tulisan Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulkarnain, yang menyangkal disunnahkannya qunut subuh.
Abu Muhammad Dzulkarnain mengatakan bahwa, dalil  hadis:  ―Terus-menerus Rasulullah shollallahu ‗alaihi wa a lihi wa sallam  qunut pada sholat  subuh sampai beliau  meninggal dunia‖ yang  dikeluarkan oleh ‗Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf
3/110  no.4964,  terdapat  dalam  kitab-kitab   lain  adalah  ―mungkar”.  Menurutnya, hadits ini memang dishahihkan  oleh Muhammad bin ‗Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy.  Namun  Imam  Ibnu  Turkumany  dalam  Al-Jauhar  An-Naqy  berkata:
―Bagaimana bisa sanadnya menjadi shahih sedang rawi  yang  meriwayatkannya dari

Ar-Rob  i‘ bin  Anas  adalah Abu  Ja‘far ‗Isa bin  Mahan Ar-Rozy  mutakallamun fihi (dikritik)‖. Berkata  Ibnu  Hambal dan  An-Nasa`i : ―Laysa  bil  qowy  (bukan orang yang  kuat)‖. Berkata  Abu Zur‘ah:  ―Yahimu katsiran (Banyak  salahnya)‖. Berkata  Al- Fallas : ―Sayyi`ul hifzh  (Jelek hafalannya)‖. Dan berkata Ibnu  Hibban: ―Dia bercerita dari rawi-rawi yang masyhur hal-hal yang  mungkar‖.
Lebih  jauh,  Abu  Muhammad  Dzulkarnain  mengutip  pendapat  Ibnul  Qoyyim

dalam Zadul Ma‘ad  jilid  I setelah   menukil suatu  keterangan  dari  gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja‘far Ar-Rozy,  beliau  berkata: ―Dan yang  dimaksudkan bahwa Abu  Ja‘far Ar-Rozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya‖.
Hadits yang sedang kita bahas itu memiliki ini memiliki tiga jalan dari Anas bin  Malik  radhiallahu ‗anhu,  tetapi   semuanya jalan  tersebut dianggap  lemah. Di antara  mereka  yang  melemahkannya  adalah adalah Ibnul  Jauzi dalam al-‗Ilal  al
 
Mutnahiyah (1/444), Ibnu at Turkimani dalam Ta‘liq ‗ala al Baihaqi, Ibnu Taimiyyah dalam Majmu‘ Fatawa (22/374), Ibnu  Qayyim dalam Zadul Ma‘ad  (1/99), al Hafidz Ibnu Hajar dalam at Talkhis al Khabir (1/245). Dan diantara ulama mutaakhkhirin adalah al Albani  dalam silsilah  ad Dha‘ifah  (1/1238)
Selain itu, hadis tersebut bertentangan dengan logika; yaitu bagaimana mungkin  Nabi  saw.  selalu  qunut  dalam  shalat  subuh  dan  membaca do‘a  rutin sementara tidak  diketahui sama  sekali  do‘a  yang  dibaca  itu.  Tidak  dalam hadits shahih maupun dhaif. Bahkan para sahabat yang paling mengerti tentang sunnah seperti Ibnu  Umar  radhiallahu‘anhuma mengingkarinya dengan mengatakan: “Kami tidak pernah melihat dan tidak mendengarnya.” Apakah masuk akal jika dikatakan Nabi Shalallahu ‗alaihi wassalam selalu  qunut, sedangkan Ibnu  Umar  radhiallahu‘anhu bersaksi: “Kami tidak pernah melihat dan mendengarnya?” demikian, sebagaimana termaktub dalam Majmu‟ Fatawa.
Selain itu, beberapa dalil yang biasanya dipakai untuk menyangkal pendapat

yang mengatakan qunut subuh adalah sunnah adalah hadist berikut:

Dari Abu Malik al-Asyaja‘i,  katanya: ―Aku berkata kepada ayahku: ‗Wahai ayahku,  sesungguhnya  engkau  pernah  bersembahyang  di  belakang  Rasulullah s.a.w., Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, di sini di Kufah selama hampir lima tahun, adakah mereka berqunut?‘ Dia  menjawab: ‗Wahai anakku itu  adalah bid‘ah.‘ (HR Ahmad, al-Tarmizi & Ibnu Majah)
Ibnu   Mas‘ud,   berkata:  ―Rasulullah  saw.  tidak  pernah  berqunut  di  dalam

sembahyangnya sekalipun.‖ (HR al-Thabrani, al-Baihaqi & al-Hakim)

Sesungguhnya  Nabi  saw.   pernah  berqunut  sebulan  lamanya,   kemudian baginda meninggalkannya (tidak berqunut lagi). (HR Ahmad)
Meski  Muhammadiyah  berprinsip  untuk  tidak  bermadzhab,  namun  dalam

pendapatnya pada masalah qunut, sejalan dengan pendapat Madzhab Hanafi dan

Hambali.

M. Yusuf Amin Nugroho

Go to top