Menyiapkan pensiun sejak dini, mengapa tidak?

Mendengar istilah pensiun yang tergambar adalah seorang karyawan di satu instansi pemerintah atau perusahaan swasta yang menyudahi masa baktinya.

 

“Saya dulu pensiunan perusahaan A atau departemen B.” Kalimat yang kerap kita dengar saat seseorang membanggakan masa pengabdiannya di satu perusahaan, terlebih perusahaan itu bonafide.

 

Bagi pekerja atau karyawan yang memiliki tunjangan hari tua, saat itu tiba tentu masih bisa bernafas lega karena kebutuhannya masih bisa terpenuhi dari uang pensiun. Namun, tak semua pegawai atau karyawan yang purnatugas mempunyai bekal pensiun atau bahkan tak menerima tunjangan apapun.

 

Pensiun pun bukan mutlak bagi mereka yang bekerja di satu perusahaan atau instansi. Seorang wiraswasta yang membangun usaha secara pribadi, suatu saat juga harus memikirkan masa tua yang damai tanpa beban finansial.

 

Konsultan dari Training for Excellence Tessie Setiabudi mengemukakan seorang karyawan harus menyadari kebutuhan masa depan, apabila merasa tempat dia bekerja saat ini tidak memberi tunjangan hari tua yang memadai.

 

Atau, perusahaan tempat dia bekerja hanya sekadar memberi tali asih sebesar dua kali atau tiga kali gaji saat karyawan tersebut menyudahi masa baktinya. Dengan kata lain, karyawan ini memasuki masa pensiun hanya berbekal uang seadanya, sementara kebutuhan hidup terus meningkat.

 

Sebab itu, mengelola keuangan untuk menciptakan dana pensiun pribadi di masa depan menjadi satu hal yang perlu diperhatikan. “Pensiun bukan hanya bagi karyawan saja, seorang wiraswasta juga harus berpikir kapan dirinya akan pensiun.”

 

Apabila saat ini masih aktif sebagai karyawan, saat ini pula harus tumbuh kesadaran menyiapkan kebutuhan hari tua dengan melakukan investasi dan memanfaatkan sebagian gaji bulanan.

 

Taruhlah gaji bulanan yang diterima Rp5 juta per bulan, jangan sampai seluruh gaji tersebut ludes untuk memenuhi kebutuhan harian atau gaya hidup.

 

Tessie menggambarkannya melalui diagram yang dinamai dompet dana. Pengisian dompet ini menggunakan sepenuhnya dana yang disisihkan untuk investasi.

 

Biasanya perencana keuangan menyarankan 20%-30% dari pendapatan bulanan yang kita terima, disisihkan untuk tabungan maupun investasi.

 

Maka 20%-30% dana bulanan yang disihkan tersebut dapat dipecah dengan menyisihkan 20% lagiuntuk mengisi dompet keamanan dalam hal ini portofolionya bisa berbentuk tabungan atau deposito.

 

Adapun 80% tersisa, masing-masing 40% dapat disisihkan untuk dompet pertumbuhan dengan portofolio investasi bisa berbentuk perhiasan, reksa dana atau obligasi dan 40% sisanya lagi disisihkan untuk mengisi dompet pertumbuah pesat dengan produk investasi berupa saham atau produk lain. “Besarannya memang tidak harus sama seperti ini, tergantung investasi mana yang menguntungkan.”

 

Pertimbangan investasi

Pertimbangan investasi, lanjut Tessie tetap memperhatikan faktor kemampuan, keamanan, likuiditas, profitabilitas, serta sesuai dengan prinsip moral dan sosial.

 

Melalui langkah ini, dia berharap dana yang dimiliki seorang karyawan berkembang selama menjalani masa kerja hingga akhir masa baktinya.

 

Kadang, tak semua orang memiliki kemampuan mengelola uang yang memadai. Jangan khawatir, karena saat ini beberapa perusahaan juga mengembangkan program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

 

Kepala Bidang Investasi Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (ADPLK) Nur Hasan Kurniawan menuturkan program DPLK untuk menjaring masyarakat umum, baik pribadi maupun kolektif yang ingin memperoleh jaminan hari tua.

 

“Jaminan ini diperuntukan bagi karyawan yang telah memperoleh jaminan pensiun melalui perusahaan tempat dia bekerja maupun yang belum memperoleh jaminan pensiun sama sekali dari perusahaannya,” ungkapnya.

 

Persoalannya, kata Nur Hasan belum semua masyarakat mengerti program ini karena tingkat pemahaman dan kesadaran yang masih kurang mengenai kebutuhan hari tua. (This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Add comment


Go to top