Pendidikan

Membangun Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal


Judul: Membangun Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.
Nama & E-mail (Penulis): M. Eri Irawan
Saya Mahasiswa di FE Universitas Jember
Topik: Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Tanggal: 5 Januari 2006

Membangun Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Oleh M. Eri Irawan *

Banjir bandang yang terjadi di Jember berekses sangat negatif pada proses pendidikan di daerah tersebut. Yang paling terlihat mencolok adalah kerusakan infrastruktur pendidikan.

Ratusan santri madrasah di pondok pesantren dan siswa SD tidak dapat mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Penyebabnya: sekolah rusak, akses jalan ke sekolah terganggu, dan sekolah jadi tempat penampungan pengungsi.

Kini, setelah konsentrasi kita terfokus pada penanganan saat terjadi bencana (disaster response), yang harus kita pikirkan sekarang adalah tindakan rehabilitasi-rekonstruksi pascabencana, termasuk bagaimana nasib pendidikan untuk anak-anak korban bencana.

Kita harus sadar bahwa untuk membangun dan meraih masa depan bangsa yang lebih baik, yang harus kita lakukan adalah melakukan persiapan untuk masa mendatang. Dan pemimpin dan penggerak roda perjalanan bangsa di masa mendatang tak lain adalah anak-anak masa kini, termasuk anak-anak korban bencana.

Berkaitan dengan itu, pertanyaannya adalah: bagaimana konsep pendidikan untuk anak-anak korban bencana? Apakah cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur pendidikan? Pemerintah tampaknya hanya terfokus pada pembangunan kembali gedung-gedung sekolah. Padahal, yang kita butuhkan saat ini justru penataan mental anak-anak korban bencana dengan model pendidikan yang lebih humanis.

Ingat, mendidik anak-anak korban bencana tidaklah mudah. Hal ini terjadi karena tidak jarang mereka masih mengalami trauma psikis yang parah. Selain itu, tidak jarang mereka-yang notabene berada di pedesaan-masih memegang teguh sistem nilai dan budaya lama, sehingga sulit diterapkan suatu sistem yang benar-benar baru yang dapat memberdayakan mereka. Mereka mempunyai entry characteristic yang bervariasi dan berbeda dengan anak-anak lainnya.

Dalam keadaan demikian, kurikulum pendidikan untuk anak-anak korban bencana tidak dapat digeneralisir (disamakan) dengan yang lainnya. Penyamaan kurikulum pendidikan hanya akan menghukum mereka, yang dengan sendirinya akan menyebabkan mereka semakin tertinggal.

Untuk itulah, pembedaan kurikulum merupakan poin pokok yang harus dipenuhi dalam program pendidikan anak-anak korban bencana. Kurikulum pendidikan yang perlu diterapkan adalah yang memiliki semangat dan filosofi yang benar-benar memberdayakan minat dan potensi peserta didik sesuai realitas yang dihadapi mereka. Itulah yang disebut dengan pendidikan berbasis kearifan lokal.

Kearifan Lokal

Model pendidikan berbasis kearifan lokal adalah model pendidikan yang memiliki relevansi tinggi bagi pengembangan kecakapan hidup (life skills) dengan bertumpu pada pemberdayaan ketempilan dan potensi lokal di masing-masing daerah.

Dalam model pendidikan ini, materi pembelajaran harus memiliki makna dan relevansi tinggi terhadap pemberdayaan hidup mereka secara nyata, berdasarkan realitas yang mereka hadapi.

Kurikulum yang harus disiapkan adalah kurikulum yang sesuai dengan kondisi lingkungan hidup, minat, dan kondisi psikis peserta didik, yaitu anak-anak korban bencana. Juga harus memerhatikan kendala-kendala sosiologis dan kultural yang mereka hadapi.

Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didik untuk selalu lekat dengan situasi konkret yang mereka hadapi. Obyek pendidikan di sini adalah realitas pahit berupa musibah bencana yang telah meluluh-lantakkan apa yang selama ini mereka punya. Paulo Freire, filsuf pendidikan dalam bukunya, Cultural Action for Freedom (1970), menyebutkan, dengan dihadapkan pada problem dan situasi konkret yang dihadapi, peserta didik akan semakin tertantang untuk menanggapinya secara kritis.

Dalam praktisnya, anak-anak korban bencana dididik bagaimana menghadapi kondisi alam yang sudah porak-poranda. Dididik bagaimana memanfaatkan kembali secara arif kondisi alam tersebut. Atau dididik cara hidup yang arif agar alam tidak lagi "marah", mengingat daerah-daerah yang diterjang bencana, seperti Jember dan sekitarnya, adalah daerah yang dinyatakan rawan terhadap bencana di masa mendatang.

Harus ditanamkan pada pikiran anak-anak korban bencana, bahwa manusia tidak sekadar hidup (to live), namun juga bereksistensi (to exist). Sehingga, mereka termotivasi untuk berusaha mengatasi situasi serbaterbatasnya.

Artinya, mereka harus dididik bersama-sama menghadapi realitas pahit yang menimpanya sebagai persoalan yang mau tak mau harus dihadapi, bukan direduksi dan dihindari. Sehingga, mereka mampu berpikir secara kritis dan kreatif dalam merespon kondisi sosio-kulturalnya. Hal ini sesuai yang disebut Freire (1970) sebagai pendidikan sejati, di mana pendidikan mampu mendorong peserta didik menjadi pribadi sadar (corpo consciente) dalam relasinya dengan sesama manusia, maupun dengan dunia atau lingkungan sekitarnya.

*M. Eri Irawan, mahasiswa FE Universitas Jember,
peneliti Institute of Cultural Society Studies (I-Cos) Jember.

Saya M. Eri Irawan setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

.