Umum

Umum

Berlebihan Dalam Menyayangi Anak


Menyayangi anak a adalah sebagai naluri, sehingga siapa saja merasakannya. Namun apabila hal itu diberikan secara berlebihan, maka dampaknya justru kurang baik, termasuk terhadap anak yang bersangkutan.  Boleh-boleh saja mengekpresikan rasa kasih sayang itu, tetapi hendaknya sebatas kewajaran.

  Ada sebuah kasus yang dialami oleh  seorang pengusaha.  Keluarga tersebut   sedemikian sayangnya kepada anak-anaknya. Sejak kecil, anak-anaknya sudah dibuatkan  rumah sebagai usaha kos-kosan. Kebetulan ia bertempat tinggal   dekat dengan kampus, sehingga bisnis menyewakan kamar-kamar hunian untuk mahasiswa yang berasal dari luar kota, menjadi laku.  Pilihan membangun kos-kosan  dimaksudkan untuk  memberikan jaminan terhadap kecukupanj bagi anak-anaknya  tatkala nanti dewasa. Strategi itu diambil, mungkin dari pengalaman dan juga penglihatannya, bahwa mendapatkan pekerjaan semakin lama semakin sulit. Pengusaha tersebut  tidak mau melihat anak-anaknya kelak mengalami kesulitan hidup, sebagaimana yang telah dialaminya  sendiri pada masa lalu.  Dengan disediakan usaha kos-kosan itu maka setidaknya, anak-anaknya  kelak telah tercukupi kebutuhan hidupnya.   Pengusaha ini tidak mau melihat anaknya menderita, hanya karena tidak mendapatkan pekerjaan.   Ia berharap,  agar  semua anaknya bahagia dan tidak akan  menjadi beban pikirannya kelak di kemudian hari.    Cara berpikir orang tua seperti itu dianggap benar dan tepat. Ia membayangkan bahwa kebutuhan seseorang hanya terkait dengan ekonomi. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.  Banyak kebutuhan lain yang harus dicukupi oleh yang bersangkutan. Manusia membutuhkan jiwa dan pikirannya hidup dan berkembang.  Semua orang  memerlukan berprestasi dan mendapatkan pengakuan dari lingkungannya.  Kebutuhan seperti itu, justru tidak akan  terpenuhi manakala  seseorang tidak mendapatkan kesempatan untuk menyalurkannya.   Sebagai akibat dari terlalu dimanjakan itu, maka anak-anak pengusaha tersebut  menjadi  tidak pernah memiliki tantangan. Mereka  tidak  belajar dari  menghadapi kesulitan dan menyelesaikan tantangan hidup, yang justru penting untuk mengantarkannya  menjadi dewasa. Semuanya  serba sudah tercukupi dan akhirnya  menjadi  tidak kreatif. Mereka menjadi  generasi penikmat dari hasil perjuangan orang tuanya.  Secara ekonomi, anak-anak pengusaha tersebut tercukupi, akan tetapi dalam pengembangan pribadi dan sosial sebenarnya mengalami kegagalan total. Orang tuanya merasa senang dan puas oleh karena telah membahagiakan para anak-anaknya. Sementara anak-anaknya tidak pernah merasakan kebahagiaan itu. Padahal perasaan telah berjuang dan menjadi orang berguna terhadap orang lain tidak kalah pentingnya dari tercukupi kebutuan erkonominya itu.  Ternyata benar,  bahwa anak-anak pengusaha tersebut  hingga dewasa dan bahkan sampai berkeluarga tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya. Bahkan,  mereka  juga tidak mendapatkan pekerjaan, hingga sehari-hari  hanya mencukupkan dari  hasil warisan  orang tuanya itu.   Mereka menjadi penganggur,  sehari-hari hanya sebagai pengurus persewaan kamar kos. Maka artinya, anak-anak pengusaha tersebut telah gagal dalam mengembangkan pribadi dan kebutuhan sosialnya.   Maka, anak-anak pengusaha tersebut telah kalah bersaing  dengan orang tuanya sendiri.  Orang tuanya berhasil mendapatkan kebahagiaan dari perjuangannya dalam membesarkan anak-anaknya. Sementara anak-anaknya tersebut hanya sebatas menikmati -------kalau memang bisa merasakan nikmat itu, hasil perjuangan orang tuanya. Kenikmatan berjuang dan mengatasi persoalan hidup tidak pernah dirasakan oleh anak yang dimanjakan  tersebut.  Selain itu, anak-anak pengusaha tersebut juga kalah bersaing dengan anak-anak lainnya yang tidak memiliki  bekal dan potensi yang cukup, kecuali seadanya.  Dengan keterbatasannya itu, maka mereka menjadi lebih ulet dan kuat oleh karena selalu  menghadapi kesulitan dan tantangan hidup sehari-hari. Anak-anak ini  sepintas  tidak beruntung, akan tetapi sebenarnya justru tidak terbelenggu oleh kasih sayang orang tua yang berlebihan.  Hasilnya,  dengan tantangan dan pengalaman hidup yang keras, ternyata justru mendapatkan keberhasilan.   Melalui kasus tersebut ada beberapa pelajaran penting yang bisa ditangkap, yaitu beberapa di antaranya bahwa,  manusia sebenarnya tidak cukup hanya terpenuhi kebutuhan ekonominya, sekalipun itu memang penting. Manusia juga memerlukan tantangan hidup untuk memperkokoh pribadi dan sosialnya. Manusia juga memerlukan rasa puas dari hasil perjuangannya. Selain itu, manusia tidak boleh terbelenggu, termasuk belenggu dari  kasih sayang orang tuanya yang berlebihan. Wallahu a’lam.   

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang