Umum

Umum

Kegiatan Berdzikir Bersama


Beberapa tahun terahir ini, saya lihat di Jawa Timur  muncul kegiatan berdzikir bersama. Kegiatan itu dikoordinasi oleh sebuah organisasi yang dikelola secara sukarela, atas dasar keikhlasan. Di Jawa Timur, ada beberapa organisasi jamaáh dzikir, di antaranya adalah jamaáh Al Hidmah. Beberapa kali  saya diundang dan datang mengikuti kegiatan tersebut. Setiap kali dadatang, saya diminta memberikan sambutan.  

 Kelompok jamaáh dzikir ini bukan menjadi bagian dari organisasi Islam, semisal NU atau lainnya. Para pengurusnya berasal dari beberapa kalangan dan tidak selalu dari kalangan pesantren. Organisasi  tersebut  terbuka, menampung orang-orang  yang berasal dari latar-belakang yang berbeda-beda. Mereka bergabung dalam  kegiatan berdzikir bersama-sama itu.  Yang menarik,  bahwa kegiatan tersebut ternyata mendapatkan simpatik dari kalangan yang amat  luas. Pada setiap  diselenggarakan kegiatan berdzikir, dengan mengambil tempat yang berbeda-beda, ------kegiatannya selalu berpindah-pindah, selalu diikuti oleh ribuan orang. Bahkan ketika jamaáh dzikir itu diselenggarakan di Kedinding, Surabaya, diikuti oleh tidak kurang dari 300 ribu jamaáh.   Hari Sab tu, tanggal 19 Maret 2011, kegiatan dzikir dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Trenggalek, atas permintaan bupatinya yang baru 4 bulan  dilantik. Saya diundang dan hadir untuk memberikan tausiyah  singkat. Hadir dalam kesempatan itu, selain bupati sebagai tuan rumah,  adalah Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf,  yang juga memberikan sambutan. Para pejabat daerah lainnya, seperti Bakorwil Madiun, kapolres Trenggalek, kepala dinas dan pimpinan pesantren hadir di dalam kegiatan itu.   Ada beberapa hal penting yang saya tangkap dari kegiatan dzikir bersama  itu,  di antaranya misalnya pertama, bahwa kegiatan tersebut menumbuhkan kebersamaan. Kegiatan dzikir itu berhasil menghimpun orang-orang yang berasal dari berbagai kalangan yang tidak terbatas  latar belakang kultur atau kelompok, yang berbeda-beda.  Mereka adalah para  pejabat, pengusaha, ulama’, hingga rakyat biasa. Kegiatan dzikir di Trenggalek misalnya,  yang dihadiri sekitar 15 ribu jamaáh,  terdiri atas orang-orang kota juga masyarakat desa, yang datang dengan mengendarai  kendaraan seadanya, seperti pick up, dan bahkan truk pengangkut barang.  Kedua, sebagai media sillaturrahmi oleh berbagai kalangan dengan suasana spiritual. Di tempat diselenggarakan dzikir  bersama itu,   tidak terasa  ada nuansa atau getaran-getaran lain, semisal politik. Jika selama ini, masyarakat menjadi  terpilah-pilah oleh organisasi dan apalagi partai politik yang berbeda-beda, maka  jamaáh dzikir ini terasa menjadi kekuatan pemersatu. Mereka  duduk dan berdzikir  bersama-sama,  dikomando oleh  salah seorang pemimpinnya.   Ketiga, jamaáh dzikir  menumbuhkan suasana keberagamaan yang mendalam dari masyarakat yang berbeda-beda.  Mungkin, atau bisa jadi, di antara mereka, karena keterbatasan pengetahuan agamanya, tidak sedemikian rajin mendatangi tempat ibadah pada setiap waktu,------shalat berjamaáh di masjid, maka melalui dzikir ini akan mendapatkan suasana atau pengalaman spiritual yang mendalam.  Kegiatan dzikir adalah penting untuk menumbuhkan suasana spiritual yang diperlukan  pada setiap saat.   Keempat, kegiatan seperti ini akan sangat efektif sebagai media  dakwah. Orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman agama yang berbeda-beda, mereka berkumpul di  satu tempat,  selain memperoleh  pengalaman spiritual, melalui ceramah atau tausiyah, --------disampaikan  setelah dzikir itu, akan mendapatkan pengetahuan tentang Islam. Sehingga, sebenarnya kegiatan itu selain sebagai majlis dzikir,  majlis silaturrahmi,   dan juga sekaligus bisa disebut sebagai majlis ilmu. Pengetahuan tentang Islam, secara singkat bisa disampaikan melalui majlis ini.  Kelima, oleh karena seringkali majlis dzikir ini mengambil tempat di pusat-pusat pemerintahan dan diikuti oleh para pejabat dan sekaligus pegawainya, maka juga menjadi sebuah forum atau media untuk mengingatkan mereka terhadap  kehidupan spiritual,  yang penting untuk mencegah, mengurangi, dan atau setidaknya mengingatkan agar mereka menjalankan  amanah sebagaimana mestinya.  Suasana kekeringan spiritual yang mengakibatkan penyimpangan-penyimpangan birokrasi sebagaimana yang terjadi dimana-mana pada saat ini, maka  dengan kegiatan dzikir bersama akan menjadi jalan keluar untuk mengatasinya.              Namun kegiatan seperti  itu  jika dicari sumber-sumber atau dasar pelaksanaannya akan melahirkan perdebatan  panjang, antara perlu dan atau tidak perlu dilakukan. Akan tetapi jika dilihat dari aspek sosial, kultur,  dakwah, dan apalagi  strategi dalam pembinaan kehidupan masyarakat, tentu akan ditemukan makna yang sangat mendalam, strategis, dan mendasar. Apalagi, sudah barang tentu jika kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya mendekatkan diri, --------- secara bersama,   kepada Tuhan dan mencintai Rasul-Nya, maka sangat penting dikembangkan.   Memang, makna-makna tersebut akan secara jelas dirasakan, hanya  oleh mereka  yang mengikutinya secara langsung. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang