Umum

Umum

Hubungan Sinergis Antara Pesantren Dan Madrasah


Pada hari Sabtu, tanggal 26 Maret 2011, saya menghadiri  acara haul di pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Saya diundang untuk memberikan ceramah pada acara itu,  bersama KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ dari Jakarta. Acara haul itu,  diisi dengan berbagai kegiatan, yaitu doa dan dzikir, pembacaan al Qurán,  dan ceramah atau pengajian.

  Selain ceramah, acara  yang mengundang banyak perhatian,  adalah pembacaan al Qurán oleh para qorik yang dihadirkan dari Jakarta.  Para qorik yang jumlahnya tidak kurang dari sembilan orang, semuanya  didatangkan dari Jakarta. Mereka itu adalah orang-orang yang pernah meraih juara musabaqoh tilawatil Qurán  tingkat internasional. Itulah sebabnya, sekalipun acara berlangsung dari  sore hingga jam satu tengah malam, tidak ada di antara  pengunjung yang  meninggalkan tempat sebelum acara usai secara tuntas.   Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon sudah  sangat dikenal oleh masyarakat luas, karena usianya  sudah cukup tua. Menurut penuturan beberapa  kyai pengasuhnya, pesantren tersebut sudah berumur tidak kurang dari 350 tahun, sehingga para alumninya sudah ribuan jumlahnya. Di antara mereka sudah berhasil mengembangkan pesantren di manba-mana. Bahkan di antara alumni yang hadir,  ada yang menduduki posisi penting  di  instansi pemerintah, pengusaha, dan lain-lain.      KH.Noer Muhammad Iskandar, SQ dalam ceramahnya juga mengaku bahwa sebelum mendirikan pesantren Ashiddiqiyah di Jakarta, ia berkonsultasi ke Kyai sepuh pesantren ini. Dalam konsultasi itu, ia mendapatkan pesan agar ketika membangun pesantren harus berani  hidup melarat.  Sebab siapapun,  para  perintis pesantren tidak saja harus ikhlas mengajar para santri, tetapi juga dituntut berani berjuang dan sekaligus berkorban, termasuk  menyediakan kebutuhan para santrinya.    Saya sendiri sudah beberapa kali berkunjung ke pesantren tua ini untuk bersilaturrahmi dan  biasanya,   memberikan ceramah di hadapan para santri. Dalam kunjungan itu, saya mendapatkan  banyak hal yang menarik. Di antaranya pertama,  tidak sebagaimana pesantren lainnya, pesantren Babakan, Ciwaringin  berhasil mempertahankan ciri khasnya sebagai pesantren salaf.  Usianya yang sedemikian lama, yakni lebih dari 350 tahun,  masih mampu mempertahankan jati dirinya.  Kedua, pesantren tua tersebut  selain bertahan juga bertambah jumlahnya, sejalan dengan bertambahnya kyai di desa itu. Beberapa pesantren baru lahir, sehingga jumlahnya menjadi semakin banyak.  Namun yang menarik, bahwa semua lembaga pendidikan Islam tradisional itu berhasil menjaga keutuhan dan kebersamaannya. Berbeda dengan pesantren di banyak tempat, pada umumnya di antara mereka saling  bersaing untuk mendapatkan pengaruh. Di pesantren Babakan, Ciwaringin,  dari beberapa kali  berkunjung, saya mendapatkan kesan adanya persatuan dan kebersamaan itu.   Kesan adanya kebersamaan  itu  dapat  dilihat dari beberapa kegiatan. Di antaranya misalnya,  beberapa bulan yang lalu, keluarga besar  pengasuh pesantren  Babakan, Ciwaringin, Cirebon tersebut mengadakan perjalanan panjang,  berziarah ke seluruh makam wali songo dan bahkan diakhiri dengan  berkunjung ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Selain itu, mereka secara bersama-sama akan membuat mushab yang khas diproduksi  oleh  semua pesantren yang ada.  Dari berbagai kegiatan itu, maka   tampak adanya kebersamaan dan kerukunan dalam ikatan kekeluargaan pesantren.  Ketiga, bahwa di tengah-tengah  beberapa  pesantren salaf  tersebut terdapat  Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Ciwaringin. Para murid-murid madrasah tersebut  adalah juga para santri di beberapa pesantren di desa itu. Dengan demikian, antara pesantren salaf dan madrasah terbangun sinergi yang sangat baik, hingga terjadi saling melengkapi. Pesantren salaf  mendidik santri yang juga  sekaligus  berstatus sebagai siswa madrasah. Begitu pula siswa madrasah di desa itu sekaligus sebagai santri pesantren salaf.  Antara kedua jenis lembaga pendidikan tersebut  saling bekerjasama secara sinergis, sehingga masing-masing  saling melengkapi dan atau menyempurnakan.   Pesantren salaf memberikan pendidikan tentang kehidupan keagamaan secara memadai,  termasuk  kajian kitab kuning. Sedangkan Madrasah Aliyah Negeri di lingkungan pesantren itu,  dengan  kurikulum yang ada,  memberikan lebih banyak pelajaran umum. Dengan demikian, kebutuhan mendapatkan  ijazah formal terpenuhi oleh  madrasah, sedangkan pengetahuan agama secara memadai, diberikan oleh pesantren salaf.  Akhirnya,  mereka yang belajar di Babakan, Ciwaringin, selain mendapatkan ijazah formal,  juga mendapatkan bekal ilmu keagamaan secara  memadai.   Hubungan sinergis  antara pesantren salaf dengan madrasah, yang terjadi dan dikembangkan di Babakan, Ciwaringin tersebut,  kiranya tepat dijadikan sebagai model  ideal dalam mengembangkan pendidikan Islam ke depan.  Melalui model itu, maka  tidak akan ada lagi kritik atau keluhan bahwa lulusan madrasah aliyah  belum mengusai ilmu agama secara memadai. Pilihan  itu kiranya lebih tepat,   daripada bermimpi-mimpi akan membuat madrasah bertaraf internasional,  sementara  konsepnya saja belum tentu jelas. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang