Umum

Umum

Melihat NU dan Muhammadiyah dalam Bingkai Misi yang Sama


Seringkali orang melihat NU dan Muhammadiyah sebagai dua kelompok yang memiliki perbedaan secara prinsipil, sehingga antara keduanya harus dilihat dan diposisikan secara bereda. Padahal sebenarnya,  antara keduanya memiliki misi yang sama, yaitu  berdakwah. Kedua organisasi ini ingin menyeru kepada keimanan, amal saleh dan  akhlakul karimah,  yaitu ajaran  yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.  Kedua organisasi ini sama-sama mengakui ke-Maha Esaan Allah, berpedoman pada kitab suci al Qurán,  meyakini atas kerasulan Muhammad saw., berkiblat pada ka’bah di Makkah, menjung tinggi persaudaraan dan bahkan selalu  saling mendoakan atas keselamatan dan untuk  mendapatkan ampunan dari Tuhan.  Keyakinan dan doa seperti itu selalu dipelihara dan dijalankan pada setiap saat,  dan tidak membedakan terhadap yang berada di NU maupun Muhammadiyah.  Itulah sebabnya maka antara kedua kelompok organisasi yang berbeda itu selalu berada pada satu ikatan keimanan dan ke-Islaman yang sama. Manakala ada perbedaan di antara keduanya, hanyalah pada persoalan yang sangat kecil yang tidak mempengaruhi kesematan baik di dunia maupun di akherat. Artinya bahwa  perbedaan itu, ------jika ada,  tidak akan memisahkan di antara keduanya peluang-peluang meraih keselamatan  baik di dunia maupun  di akherat.  Selama ini saya melihat di antara keduanya,  telah memilih wilayah dakwah yang sama-sama strategis. Muhammadiyah dalam berdakwah lebih memilih  kalangan masyarakat perkotaan, dengan mendirikan sekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.  Atas dasar pilihan itu, Muhammadiyah memiliki banyak lembaga pendidikan umum, seperti SD Muhammadiyah, SMP dan SMA Muhammadiyah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah.  Agak berbeda dengan Muhammadiyah, NU lebih banyak mendekati masyarakat pedesaan dengan mendirikan pondok pesantren. Namun  akhir-akhir ini, NU juga sudah banyak mendirikan sekolah, madrasah dan bahkan  perguruan tinggi. Dalam hal mendirikan pondok pesantren, NU sudah sangat terkemuka.  Bahkan akhir-akhir ini, juga muncul fenomena baru, yaitu banyak pondok pesantren  melengkapi dirinya dengan sekolah umum.  Begitu pula, Muhammadiyah pada akhir-akhir ini menganggap bahwa  pesantren juga penting.       Menyangkut tentang doktrin, jika di antara keduanya  terdapat  perbedaan, maka perbedaan itu sebenarnya sangat kecil dan sederhana, yaitu berada pada wilayah ritual.  Wilayah ritual itupun juga bukan  menyangkut hal yang mendasar atau pokok, melainkan   pada aspek yang  bersifat  furu’ atau cabang.   Sebagai contoh perbedaan itu  terkait   soal doa qunut di waktu shalat subuh, jumlah biulangan shalat  dalam tarweh di bulan Ramadhan, jumlah adzan  di waktu shalat jumát, menggunakan ruky‎ah atau hisab dalam menentukan awal bulan, shalat id di lapangan atau di masjid,  dan sejenisnya.   Persoalan ritual dalam Islam memang amat penting dijalankan, akan tetapi sebenarnya jika ditelusuri dari riwayat perintah itu  diturunkan adalah tatkala sudah sekian lama Muhammad saw., diangkat sebagai rasul.  Berbeda dengan itu adalah terkait dengan perintah yang ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Di awal al Qurán diturunkan, nabi diperintah untuk membaca. Demikian pula misi rasulullah yang disebutkan pertama kali adalah bertilawah. Hal itu kiranya bisa ditangkap  bahwa posisi ilmu dalam Islam, adalah dipandang amat penting dan mendasar. Islam menyerukan agar menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, tanpa henti,  dan dari mana saja diperoleh.   Berbeda dengan hal tersebut adalah perintah ritual, shalat misalnya. Perintah shalat dalam riwayatnya  disampaikan ketika Rasulullah dimikrajkan, yaitu pada sekitar tiga tahun sebelum nabi berhijrah. Maka artinya, perintah kepada nabi Muhammad untuk menjalankan shalat adalah setelah sekian lama, ia  diangkat menjadi rasul. Hal demikian itu tidak  sebagaimana terkait dengan perintah  mengembangkan ilmu pengetahuan.   Hal lain yang lebih awal diperkenalkan  adalah tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Lagi-lagi satu di antara asmaul  khusna ini, adalah terkait dengan ilmu pengetahuan, yaitu penciptaan. Selanjutnya, selain ilmu yang sejak awal  diperkenalkan adalah tentang betapa pentingnya kejujuran  dan menaga kesucian.  Bahkan,  sebelumi diangkat sebagai rasul, nabi sudah diperkenalkan sebagai orang yang terpercaya dengan sebutan al amien. Demikian pula tentang kesucial, ternyata  mendapatkan perhatian utama dalam Islam. Nabi Muhammad  sebelum dipanggil untuk isra’dan mi’raj, dalam riwayatnya, dibedah dadanya dan dicuci hatinya  oleh Malaikat Jibril dengan air zam-zam.     Rangkaian kisah itu semua menunjukkan bahwa,  betapa persoalan ritual,  ------ misalnya  shalat, sekalipun seringkali dijadikan alasan-alasan berbeda,   sebenarnya  hanyalah merupakan bagian saja dari rangkaian ajaran Islam yang  luas dan   universal itu. Sementara hal lain di antara bagian yang universal tersebut,  NU dan Muhammadiyah, tidak pernah terjadi perbedaan. Padahal perbedaan dalam temuan-temuan ilmu pengetahuan dari kegiatan riset  itulah sebenarnya,  yang akan mendatangkan rakhmat.  Atas dasar pandangan  tersebut, maka fenomena terakhir di negeri ini, yang menunjukkan bahwa antara NU dan Muhammadiyah sudah semakin dekat adalah merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan. Masyarakat muslim khususnya di kalangan bawah, sebenarnya sudah lama menunggu datangnya kesatuan dan persatuan ummat Islam. Namun rupanya harapan itu, akhir-akhir ini, sudah menjadi perhatian para elite atau pemimpinnya. NU dan Muhammadiyah sudah semakin dekat, karena memang keduanya memiliki misi dan tanggung jawab yang sama, yaitu berdakwah. Wallahu a’lam.     

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang