Umum

Umum

Mengeluhkan Pengetahuan Agama yang Semakin Merosot


Dalam sebuah pertemuan, seorang guru agama  mengeluhkan terhadap   pengetahuan agama di kalangan  anak-anak dirasakan  semakin merosot. Rupanya guru agama tersebut tidak ingin kemerosotan itu terjadi secara terus menerus. Ia merindukan keadaan yang diamalinya sendiri sewaktu kecil, bahwa suasana keagamaan  benar-benar terasakan.

  Mendengar keluhan itu,  saya  segera menanyakan apa yang ia lihat hingga menyimpulkan  bahwa hasil pendidikan agama sudah merosot. Pertanyaan tersebut   dijawab, bahwa pada saat ini sudah tidak sedikit anak-anak yang  sekedar menghafal pengetahuan  dasar  tentang Islam sudah tidak sanggup lagi. Banyak anak-anak yang sebatas    menghafal rukun iman, rukun Islam, sifat dua puluh, nama-nama malaikat dan tugasnya masing-masing, nama-nama 25 rasul, dan apalagi asmaul khusna, ternyata tidak bisa.   Pengetahuan dasar tentang Islam  itu,  menurut guru tersebut,   mestinya sudah  dihafal di luar kepala oleh para siswa. Akan tetapi nyatanya tidak demikian. Itulah yang dijadikan ukuran  oleh guru agama tersebut bahwa hasil pendidikan agama semakin merosot dan dirasakan sebagai sesuatu yang selama ini  memprihatinkan dan atau menggelisahkan.   Atas keluhan itu, saya memberikan gambaran, bahwa semasa kecil saya hafal apa yang disebutkan oleh guru agama tersebut. Tetapi hafalan saya itu  sama sekali tidak saya peroleh dari guru agama di sekolah. Saya hafal rukun iman, rukun  Islam, sifat dua puluh, asmaúl khusna, dan lain-lain adalah dari kegiatan puji-pujian  di masjid yang saya ikuti pada setiap sebelum shalat lima waktu. Anak-anak yang rajin mengikuti shalat berjamaáh, tanpa menghafal pun, lama kelamaan akan hafal dengan sendirinya.   Oleh karena itu saya katakan bahwa, jika ukuran kemerosotan hasil pendidikan agama adalah  semakin  berkurangnya anak yang hafal  nama-nama malaikat, para rasul, asmaul khusna dan lain-lain, maka hal itu bukan karena kesalahan guru agama dan juga para murid,  tetapi hanya karena tradisi membaca puji-pujian  di masjid atau mushalla, sebelum shalat berjamaáh, sudah hilang. Maka akibatnya, anak-anak menjadi tidak hafal apa yang disebut dengan pengetahuan dasar tentang Islam dimaksud.   Atas dasar kenyataan itu,  saya kemudian menganjurkan agar, jika hafalan  tersebut  masih dianggap penting, maka tradisi puji-pujian di masjid atau mushala pada setiap menjelang shalat  jamaáh  supaya dihidupkan kembali.  Dengan cara itu,  maka otomatis, anak-anak yang rajin ikut shalat berjamaáh akan hafal dengan sendirinya, sekalipun tanpa harus dipaksa-paksa untuk menghafalkannya.    Hanya saja  problemnya, jika hal itu tidak dipahami secara baik, maka  akan timbul perdebatan, antara apakah puji-pujian itu  boleh atau tidak, sesuai dengan tuntunan nabi atau tidak. Persoalan sederhana seperti itu, seringkali juga melahirkan pro dan kontra, dan bahkan mengakibatkan   keutuhan  di antara sesama jamaáh terganggu.  Saya kemudian menjelaskan hal itu dalam perspektif  yang agak luas. Jika puji-pujian itu dicari rujukannya dari  tradisi  kehidupan nabi dulu, dan apalagi hingga menyangkut jenis bacaannya itu, maka mungkin tidak akan ketemu. Apalagi,  kalau hal itu dilihat dari perspektif ritual, maka akan dianggap sebagai hal baru yang tidak perlu dilakukan. Tetapi lain halnya, kalau  puji-pujian  itu dilihat dari pespektif pendidikan, maka sebenarnya adalah sangat efektif. Anak-anak yang rajin ikut shalat berjamaáh, dengan membaca puji-pujian secara bersama-sama, -----tanpa disengaja, akan hafal dengan sendirinya.  Namun  agaknya, apa saja  selalu tergantung  dari  masing-masing orang yang melihatnya.  Perspektif dan  juga nilai, ternyata selalu ganda dan  bahkan jumlahnya banyak. Oleh sebab itu tatkala melihat sesuatu, seseorang selalu memilih,  karena mearasa ada pilihan. Namun sebaliknya, ada pula yang merasakan bahwa dalam  hal-hal tertentu,   pilihan itu dianggap tidak ada. Menghadapi persoalan seperti itu, maka akan lebih bijak,  diserahkan saja kepada masing-masing. Namun persoalan semakin merosotnya pengetahuan agama  harus dicarikan jalan keluarnya. Wallahu a’lam.         

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang