Umum

Umum

Menjaga Kerukunan itu Tidak Mudah


Akhir-akhir ini yang terasa tidak mudah dilakukan  adalah menjaga kerukunan. Di mana-mana terjadi  perselisihan antar orang, kelompok, organisasi,  hingga partai politik. Perselisihan antar orang tidak saja  terjadi di kalangan rakyat biasa, tetapi juga di kalangan  pejabat,  dan bahkan juga pejabat tingkat atas.  Perselisihan di antara partai politik lebih seru lagi. Sepertinya menjadi hal biasa di antara mereka saling menjegal dan menjatuhkan.

  Contoh yang paling hangat di antara elite politik adalah konflik di antara partai kualisi. Beberapa partai  tersebut  sejak dibentuk kualisi  selalu saja terjadi perselisihan.  Berulang kali diberitakan bahwa telah terjadi perbedaan pandangan yang mengganggu keutuhan kualisi. Akhirnya yang terjadi kemudian  adalah saling mengancam dan membela diri.  Maka, yang terjadi kemudian adalah  mempertahankan harga diri, gengsi,  dan atau martabat partainya masing-masing.  Di kalangan kelompok-kelompok agama juga begitu, tidak pernah sepi konflik. Kehadiran agama semestinya adalah untuk mewujudkan kebersamaan, menanamkan kasih sayang di antara sesama, saling menolong atau  membantu dan menyelamatkan. Tetapi  ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Muncul  perasaan saling terganggu,  dan akibatnya terjadi konflik.  Agama hadir di muka bumi  sebenarnya membawa misi  untuk menyelamatkan orang. Akan tetapi  misi itu ternyata tidak mudah diwujudkan. Tidak jarang terjadi konflik  dipicu  oleh persoalan agama.   Berbeda dalam  menjalankan ritual  dianggap musuh atau paling tidak  mengganggu.   Padahal  ritual yang dijalankan  oleh masing-masing orang  tidak akan merugikan sedikitpun bagi yang lain. Namun ternyata,   perbedaan itu  melahirkan rasa tidak senang dan bahkan permusuhan.  Sebenarnya, suasana tidak rukun   bisa saja terjadi di kalangan mana saja, kapan saja,  dan oleh siapa saja.  Merukunkan orang, kelompok, organisasi,  dan bahkan juga  antar elite selalu  tidak mudah.  Semua orang  pernah terlibat konflik.  Sekalipun seseorang sedang menasehati dan menguraikan betapa pentingnya kerukunan,   bisa jadi  sebelum mengakhiri nasehatnya, ia sendiri sedang terlibat konflik,  atau bahkan  juga sudah lama  berkonlik dengan orang lain.  Dalam Islam,  antar orang dianjurkan selalu  melakukan tolong menolong. Orang yang sedang saling bertolong menolong dalam kebaikan, maka sebenarnya ketika itu  pula,  mereka sekaligus telah memelihara kerukunan.  Orang tidak akan saling tolong menolong manakala masing-masing tidak saling rukun. Itulah sebabnya al Qurán memerintahkan di antara sesama saling tolong menolong dalam kebaikan. Sebaliknya,  tidak boleh tolong menolong itu  dalam melakukan keburukan dan kejahatan.    Tolong menolong tentu tidak serta merta terjadi.  Tolong menolong akan terlaksana   manakala  di antara pihak-pihak yang terlibat telah terjadi saling mempercayai, menghargai, dan  mengetahui.  Maka yang diperlukan pada fase awal adalah saling mengetahui, agar  berlanjut  saling memahami dan kemudian lahir suasana saling menghargai dan mempercayai. Orang yang sudah saling menghargai dan mempercayai, maka akan berlanjut dengan saling tolong menolong itu.  Sedemikian rumit proses terjadinya saling tolong menolong antar orang, kelompok,  dan juga organisasi dalam  skala besar atau pun  kecil. Hal itu berbeda dengan proses terjadinya perpecahan, kadangkala terjadi secara  mendadak. Seseorang yang semula seolah-olah  berkawan  atau memiliki hubungan yang sedemikian dekat dan  erat,  namun ternyata secara mendadak  di antara mereka terjadi konflik atau saling bermusuhan.   Akhir-akhir ini,  konflik  telah terjadi di mana-mana. Konflik menjadi barang murah, oleh karena sedemikian mudah ditemukan. Di dalam negeri sendiri, konflik-konflik antar partai politik, dan bahkan juga antar dan internal partai tidak pernah berhenti. Konflik juga terjadi antar lembaga negara, yakni  antara  eksekutif, legislative,  dan yudikatif.    Konflik kadang memang penting untuk mendinamisasi organisasi. Namun ketika  konflik  itu terjadi secara terus menerus,  maka akan merugikan banyak pihak. Apalagi kalau konflik itu terjadi di kalangan para elite bangsa, maka yang paling dirugikan adalah rakyat. Oleh karena itu sebenarnya, rakyat tidak menyukai para  pemimpinnya terlibat konflik terus menerus. Mereka mendambakan  terjadi suasana rukun dan damai, sekalipun  mahal harganya.  Wallahu a’lam.     

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang