Umum

Umum

Keterlibatan PTN dalam Ujian Nasional


Sudah dua tahun terakhir ini, PTN diberi tugas tambahan oleh kementerian pendidikan nasional, yaitu  menjadi  pengawas ujian nasional. Dengan melibatkan  PTN  dalam pengawasan  ujian  nasional  sekolah menengah itu diharapkan agar pelaksanaan ujian tidak terjadi lagi penyimpangan.  Pemerintah menghendaki   agar ujian nasional dianggap kredibel.

  Semua PTN menjalankan  tugas itu termasuk PTN yang berada di bawah pembinaan kementerian agama.  Hal itu wajar, karena ujian nasional juga diikuti oleh para siswa madrasah. Sementara selama ini madrasah juga berada di bawah kewenangan kementerian agama.  Tentang keterlibatan PTN dalam  pelaksanaan ujian nasional tersebut kiranya tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Apa salahnya, sesama instansi yang memiliki tanggung jawab sama, atau paling tidak serupa,  sekali-kali memberikan bantuan,   semisal  dalam pelaksanaan  ujian nasional itu.   Akan tetapi semestinya keterlibatan PTN tidak terbatas pada hal teknis,  seperti ikut mengawasi ujian. PTN mestinya diajak berbicara hal yang lebih mendasar,  misalnya menjawab pertanyaan,  apakah memang ujian sekolah di zaman membanjirnya informasi   seperti sekarang ini masih perlu dilakukan ujian seperti itu.  Sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan  informasi sudah semakin melimpah dan selalu  berkembang sedemikian cepatnya.  Informasi tentang apa saja, sudah bisa dengan mudah diperoleh melalui fasilitas internet.  Soal mengakses internet dan sejenisnya ini, biasanya anak-anak jauh lebih  teranm pil  daripada orang tua. Bahkan sementara orang tua disebut gaptek, atau gagap teknologi, akan tetapi tidak pernah disebut demikian bagi kalangan anak-anak.   Menyangkut tentang teknologi informasi, anak-anak justru lebih cepat beradaptasi  dibanding kalangan  orang tua.  Dalam suasana membanjirnya ilmu pengetahuan dan  informasi seperti itu maka yang perlu dipertanyakan adalah  masih relevankah evaluasi pendidikan  yang dijalankan pada sepuluh dan bahkan dua puluh tahun yang lalu dengan yang sekarang ini. Atau bahkan, apakah cara belajar  para siswa sekarang ini masih harus mengikuti apa yang dilakukan oleh para siswa  pada puluhan tahun yang lalu.   Dunia ilmu pengetahuan sudah jauh berubah secara radikal,  akan tetapi cara-cara mempelajari dan mengevaluasinya, anehnya  tampak masih sama. Dulu sebelum  tersedia buku, atau karena  pengarang buku jumlahnya belum banyak, maka para siswa ditugasi untuk menghafal  isi buku-buku yang ada.  Cara itu mungkin agaknya tepat dilakukan,karena jumlah buku  yang beredar  belum seberapa banyak. Akan  tetapi pada saat sekarang ini, jumlah buku-buku  sudah sedemikian banyak, dan    berkembang cepat, baik judul maupun   pengarangnya.   Oleh karena itu,  semakin  tinggi jenjang pendidikan yang dilalui, maka buku-buku yang harus dibaca  dan dihafal semakin tebal. Pertanyaannya adalah  apakah di zaman internet atau di zaman membanjirnya informasi seperti sekarang ini,  anak-anak mampu,  dan bahkan apa memang perlu menghafal buku yang sedemikian banyak itu. Pernahkah kita berpikir atau setidaknya membayangkan, bahwa tidak semua orang tua sendiri sebenarnya mampu mengikuti perkembangan itu.   Tulisan ini sama sekali bukan  bermaksud untuk mementahkan program pemerintah dalam  melakukan evaluasi belajar tingkat nasional, yang beberapa hari lagi  akan segera dilaksanakan. Namun dalam kesempatan di sekitar pelaksanaan ujian nasional, saya menggunakan momentum ini untuk mengajak  kepada siapapun  berpikir tentang model pendidikan di zaman membanjirnya informasi dan sekaligus pelaksanaan evaluasinya.   Kiranya di zaman keterbukaan ilmu dan informasi,  perlu dirumuskan siapa sesungguhnya yang dimaksud  sebagai anak cerdas.  Masih relevankah memandang bahwa  anak  cerdas adalah mereka yang paling banyak menghafal buku-buku tebal, rumus-rumus, kaidah-kaidah, yang semakin hari semakin bertambah banyak jumlahnya. Rasa-rasanya di zaman yang semakin  modern ini diperlukan kemampuan  untuk menjawab persoalan yang lebih komplek dan rumit  secara  cepat dan tepat.  Persoalan seperti itu rasanya tidak cukup dihadapi hanya berbekalkan hafalan  dari buku-buku teks yang belum tentu ada relevansinya dengan kehidupan  anak-anak di masa mendatang.  Tugas-tugas menghafalkan data sebenarnya sudah digantikan oleh alat-alat modern, seperti kalkulator,computer, HP dan bahkan  IPAD. Pada saat sekarang ini, sebatas untuk mencari rumus, nama-nama tempat, kejadian, dan apa saja dapat dilakukan secara mudah melalui alat-alat elektronik itu. Jika pikiran ini dipahami, maka  pertanyaannya adalah, apa memang masih perlu melarang anak-anak membuka buku mencari jawaban dalam ujian dan bahkan  harus  mengawasi secara ketat seperti itu.    Atas dasar pandangan itu, saya sudah cukup lama berpikir, bukankah sudah seharusnya dicarikan model baru pembelajaran di sekolah-sekolah dan juga cara-cara mengevaluasinya.  Kemampuan  apa yang seharusnya dimiliki dan dikembangkan  oleh generasi yang hidup di zaman membanjirnya informasi itu. Keadaan yang sudah jauh berubah, tentu memerlukan cara-cara pendekatan yang berubah pula. Sayangnya, perubahan dahsyat tersebut  tidak pernah menjadi  perhatian,  sehingga pada setiap tahun para ahli pendidikan dan pejabat direpotkan  oleh pelaksanaan ujian yang rasa-rasanya sudah tidak sesuai lagi dengan zamannya.   Saya melihat sudah sangat perlu dirumuskan paradigma baru tentang pendidikan dan pengajaran secara menyeluruh, mendalam dan utuh. Jika tidak,  maka bisa jadi,  akan  berakibat pemborosan dan bahkan kalau apa yang dilakukan ternyata tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman,maka akan mengalami kerugian yang luar biasa. Maka di sinilah seharusnya  letak peran strategis  PTN dalam ikut serta menyelesaikan problem pendidikan di sekolah. Dan,   bukan sekedar menjadi pengawas ujian nasional. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang