Umum

Umum

Menjaga Kehormatan Guru


Ternyata tidak mudah bagi  lembaga pendidikan menjauhkan para siswanya  dari pembiasaan tidak jujur manakala proses belajar  mengajar dan bahkan ujiannya seperti yang berjalan selama ini. Pengajaran yang diorientasikan seperti  mengisi  gelas kosong, yaitu  memberikan  pelajaran kepada siswa   berupa hasil temuan, rumus-rumus, dalil-dalil, maka akan membosankan dan tatkala ujian mendorong para siswa mengambil jalan pintas,  yaitu dengan cara menyontek,   saling meniru   atau  bekerjasama.

  Para siswa melakukan hal itu, karena memang merupakan pilihan yang termudah. Siapapun orangnya, memiliki kecenderungan untuk  melakukan hal seperti itu. Apalagi, tugas atau pekerjaan itu tidak dihayati maksudnya, kecuali  dianggap beban misalnya harus disebut lulus. Sementara kelulusan  hanya diukur dari seberapa banyak soal-soal yang dijawab benar oleh  siswa dalam ujian.  Belajar sebenarnya bukan semata-mata untuk lulus ujian, melainkan agar tumbuh kecintaan  terhadap  pengetahuan yang  diperlajari.  Kecintaan itu bisa dilihat dari kegiatan  pasca   ujian, yaitu manakala  mereka semakin  bersemangat   mempelajari  buku-buku bacaan, dan juga tokoh-tokoh ilmuwannya. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, yakni setelah dinyatakan lulus, kemudian  buku-buku pelajarannya disimpan atau diberikan kepada orang lain, maka artinya tujuan pendidikan kurang berhasil.     Kegagalan pendidikan itu lebih nyata lagi jika setelah dinyatakan lulus mereka melakukan kegiatan  yang tidak mencerminkan   sebagai seseorang yang terdidik, misalnya baju seragamnya dicorat-coret, kebut-kebutan hingga mengganggu lalu lintas, pesta di luar  norma kewajaran, dan lain-lain yang tidak pantas dilakukan.  Kegembiraan mereka sedemikian rupa, karena  merasa  telah terbebas dari  segala beban sekolahnya.   Gambaran  tersebut sebagai salah satu   pertanda bahwa pendidikan telah gagal. Masuk sekolah dianggap sebagai beban dan bahkan  keterpaksaan.  Padahal salah satu tujuan pendidikan adalah menjadikan  para siswa mampu berpikir logis, rasional dan obyektif, mencintai ilmu hingga tergerak untuk mengembangkannya dan bukan sebaliknya,  menjadi pembenci atau setidak-tidaknya bosan  terhadap pengetahuan yang dipelajarinya.  Pada saat sekarang ini, tidak sedikit  siswa setelah lulus merasa telah menyelesaikan beban kewajibannya. Apa yang dipelajari di sekolah seakan-akan tidak ada kaitannya dengan kehidupan sehai-hari. Setelah lulus, mereka yang tidak meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, memasuki lapangan kerja atau mnenganggur. Sedangkan yang bekerja,  apa  yang dipelajari di sekolah tidak selalu  ada kaitannya dengan pekerjaannya. Hal-hal seperti itulah di antaranya yang menyebabkan para siswa tatkala ujian melakukan cara-cara  yang tidak jujur, seperti menyontek, bekerjasama, dan sejenisnya.  Bersekolah mestinya justru menggembirakan. Pengetahuan yang diperoleh berhasil mengantarkan dirinya menjadi dewasa, mampu mengenal dirinya, bangsanya,  dan yang lebih penting dari itu adalah Tuhannya.  Dengan demikian, setelah lulus menjadi bersyukur dan bahkan mampu bertasbih atas pengetahuan dan nikmat yang diterimanya.  Jika orientasi pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas pribadi, baik terkait dengan spiritual, akhlak, ilmu,  dan profesionalitasnya, ------- dan bukan sekedar lulus dan memperoleh ijazah, maka akan  terjauh dari  cara-cara yang tidak terpuji.  Hubungan guru dan murid tidak sebatas dibangun  atas dasar tuntutan peraturan, melainkan  merupakan pangggilan  kasih sayang, cinta mencintai,  dan  hormat menghormati. Hal-hal seperti itulah semestinya yang terbangun di semua lembaga pendidikan.     Hubungan-hubungan transaksional  dan formalitas di lembaga pendidikan akan  melahirkan perilaku yang justru jauh dari yang diharapkan dari proses pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu manakala sudah diketahui bahwa dalam proses pendidikan, -------termasuk ujiannya, terjadi penyimpangan, manipulasi, kebohongan,  dan sejenisnya, maka seharusnya segera dilakukan reorientasi ulang  terhadap kebijakan yang dijalankan.   Manipulasi, penyimpangan, kebohongan,  dan hal-hal lain yang  menggambarkan adanya  ketidak-jujuran harus segera dijauhkan dari proses pendidikan.  Pendidikan harus berjalan apa adanya, menyenangkan, obyektif, sportif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai dan bahkan budaya luhur yang dikembangkian oleh bangsanya.  Atas dasar pandangan seperti itu, maka hanya sebatas mengamankan ujian tidak perlu  harus melibatkan pengamanan dari  polisi, pengawas yang berlapis-lapis sehingga  menggambarkan para guru kurang bisa dipercaya.   Manakala guru saja tidak dipercayai,  maka  siapa lagi di antara komponen bangsa ini yang bisa diharapkan. Maka,  guru harus dijaga kehormatan dan martabatnya.   Umpama guru ditengarai telah melakukan penyimpangan, maka perlu dikaji penyebabnya secara mendalam.  Jika penyimpangan  itu adalah sebagai akibat dari system atau kebijakan, maka system atau kebijakan  dimaksud  harus  segera diubah.    Guru harus  dijaga  agar tetap  berada pada posisinya yang mulia, ialah sebagai sosok anutan yang  patut ditauladani,  dan dipercaya oleh siapapun, termasuk oleh para siswanya. Manakala guru saja sudah tidak dipercaya lagi, maka sebenarnya bangsa ini sudah berada diambang petaka. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang