Umum

Umum

Agama Semestinya Membawa Misi Keselamatan


Dalam sebuah diskusi yang kebetulan  saya ada di tempat itu,  saya agak terkejut mendengar pandangan seseorang,  yang mengatakan bahwa agama  telah dirasakan sebagai   salah satu sumber masalah. Ia melihat bahwa akhir-akhir ini  di beberapa tempat terjadi konflik antar ummat bergama. Di antara beberapa kelompok agama menampakkan perbedaan dan kemudian  melahirkan perpecahan. Hal itu dianggap  berbeda dengan yang diklaim selama ini, yaitu sebagai alat pemersatu dan perekat antar kelompok yang berbeda. 

  Mendengar pernyataan itu, rasanya  sangat   menggelisahkan.  Padahal  agama hadir di muka bumi yang dibawa oleh para  rasulnya adalah  selalu  menjadi faktor solutif terhadap problem-problem kemanusiaan. Contoh yang paling dekat, oleh karena sebagai  nabi dan rasul terakhir, adalah kehadiran Nabi Muhammad.  Selain  membawa  doktrin tauhid, Islam membawa misi  untuk   menyelamatkan orang-orang yang tertindas  ketika itu.   Dalam sejarahnya bahwa, penduduk Makkah  ketika itu didominasi oleh kaum Quraisy. Mereka pada saat itu  mengalami degradasi nilai-nilai kemanusiaan yang luar biasa,  hingga disebut sebagai kaum jahiliyah. Masyarakatnya  terbagi atas berbagai kelompok, suku,   etnis atau kabilah-kabilan. Masing-masing berebut askses politik dan ekonomi. Mereka yang menang dalam perebutan itu bukan kemudian menolong yang miskin dan yang lemah, malah justru memberlakukan perbudakan.   Orang miskin dan anak yatin tidak diurus,  tetapi  dijadikan budak. Jika  seseorang meninggal, maka harta kekayaannya diwariskan, tidak terkecuali  isteri-isterinya yang notabene adalah ibunya sendiri. Harkat dan martabat manusia sedemikian rendahnya, hingga  pasar budak pun tersedia. Orang yang ingin memiliki budak, cukup pergi ke pasar,  membelinya. Anak yatim dan orang miskin dijadikan budak. Harta benda jauh lebih dihargai daripada  seseorang yang tidak memiliki apa-apa. Selain itu, kaum wanita dianggap rendah yang bisa dijual belikan pula.   Islam datang menghapuskan system jahiliyah itu. Melalui Islam, Ilmu pengetahuan dihargai dan dikembangkan. Anak yatim dan  orang miskin ditolong dan dicukupi kebutuhannya. Begitu pula, kaum wanita dihargai dan ditinggikan derajatnya. Islam membawa kedamaian, keselamatan, dan peradaban yang tinggi dan mulia. Nabi Muhammad, selain membanguin jiwa tauhid,  juga  member tauladan berakhlak yang mulia. Islam juga mengajarkan kepada ummatnya agar  beramal saleh atau bekerja secara benar atau professional.   Memang kehadiran nabi pada fase awal selalu  mendapatkan  perlawanan dari orang-orang yang telah teruntungkan dari system yang berlaklu ketika itu, yaitu para pimpinan kabilah-kabilah dan orang-orang yang mengusai sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan. Mengikuti ajaran Nabi Muhammad ketika itu, -------bagi  orang-orang yang mengusai  akses ekonomi dan politik, sama halnya dengan melepaskan kenikmatan yang selama ini dirasakan.   Resistensi itu dihadapi oleh Nabi Muhammad dengan penuh bijaksana dan  sabar, hingga ia harus hijrah ke  Madinah. Sekalipun  di kota itu  sementara orang  menerimanya, tetapi  ada pula yang  menolak sebagaimana yang terjadi di Makkah. Namun oleh karena adanya berbagai strategi,  kebersamaan atau persatuan antara kaum muhajirin dan ansyar, akhirnya  misi  dakwah itu menunai hasil yang gemilang.   Kehadiran Islam adalah  membawa misi kasih sayang  antar sesama  yang selanjutnya disebut sebagai rakhmat. Atas dasar nilai tauhid dan kasih sayang itu berhasil diwujudkan sebuah tatanan masyarakat yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, persaudaraan,   nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kejujuran, dan seterusnya.  Akhirnya, Islam datang dirasakan  sebagai kekuatan solutif atau menyelesaikan problem kemanusian, dan bukan sebagai sumber masalah,  sebagaimana yang  diduga oleh orang yang  tidak  paham.    Maka akhirnya  jika ternyata masih terjadi kasus-kasus berupa konflik, pertikaian,  dan bahkan perang,  maka hal itu sebenarnya  bukan bersumber dari ajaran Islam yang  dilakukan tanpa sebab. Kasus-kasus itu  adalah bagian dari proses-proses sosial  sebagai gejala sosiologis yang  sangat mungkin  terjadi di manapun.  Sebenarnya, Islam selalu membawa dan menganjurkan agar  terjadi  keselamatan dan kedamaian bersama. Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang